
“Jordan Ravindra adalah Leonzio Anderson? Lalu, manusia serigala? Apa masih ada makhluk seperti itu di muka bumi ini? Bukannya itu cuma mitos?” Batin Rara bermonolog sendiri, sesulit itu ia mempercayai kebenaran pria yang menjadi kekasihnya itu. Tidak heran, karena Jordan memang berbeda dengan manusia biasanya.
“Diam di sana dan jawab pertanyaanku!! Apa itu permata amethyst dan kenapa bisa ada di tubuhku?” Tanya Rara dingin dengan mata tajamnya.
“Singkatnya, pemilik permata amethyst akan memiliki ikatan dengan pemilik permata biru, itu aku. kenapa bisa ada? itu karena saat kamu terlahir itu sudah ada dari sananya, sama hal nya denganku."
“Jadi, selama ini kamu sengaja menjerat ku karena aku memiliki itu? hanya memanfaatkanku?” Semakin memuncak saja amarah Rara, entah kenapa ia kini jadi ragu akan ketulusan pria itu.
“Nggak Ra, bukan begitu. Memang di awal aku hanya mengikuti sebuah ramalan, tapi cinta itu benar-benar tumbuh seiring waktu aku bersamamu, tolong percaya padaku. "
Perdebatan itu pun berlangsung hingga langit sudah kian gelap. Rara semakin bingung, namun ia masih butuh penjelasan dari mulut Jordan. Sesulit apapun Rara mencoba untuk menguak lebih dalam lagi.
Semburat cahaya perak menerangi langit hitam malam itu, Jordan baru menyadari jika cahaya malam itu sedikit berbeda. Sontak mata Jordan membelalak melihat rembulan dengan bentuk bulat sempurna, ya itu lah malam bulan purnama.
Detik berikutnya, tubuh Jordan penuh dengan ruam berwarna merah dan terasa gatal menjalar ke setiap incinya. Ujung kukunya yang semakin runcing dan mata hazelnya berubah menjadi biru menyala. Pria itu langsung jatuh membungkuk kala kakinya bergetar hingga tidak mampu menopang tubuhnya lagi.
Errrrrhhh….
“Jordan, kamu kenapa?”
Rara yang semakin bingung karena otaknya terus-menerus di bombardir. Ingin menunjukkan kemarahannya tapi di urungkan kala melihat Jordan bersikap sedikit aneh, entah karena sakit atau apa Rara tidak paham.
Gadis itu kini menunduk dan mendekat berusaha melihat keadaan Jordan karena sejak tadi berusaha menyembunyikan kepalanya. Tubuh Jordan nampak semakin bergetar dan sesekali mengeluarkan suara erangan aneh.
“Sial…sial….kenapa harus di waktu ini?” Batin Jordan melemah.
Saat tangan Rara hendak meraih, dalam sekejap tubuh pria dengan sejuta pesona itu berubah menjadi hewan berbulu yang mereka bahas sejak tadi. Sontak Rara pun menarik kembali tanganya, lalu mundur hingga terjatuh di lantai keramik itu.
“Aaaaaaaaaa!!! ….Siapa?!!.” Rara memekik sejadi-jadinya. Eerrrrrhh… serigala itu mengaum seraya mendekat pelan ke arah Rara. Rasa takut kian menyeruak keluar dari tubuh gadis itu, sejak dulu ia sangat takut dengan jenis hewan itu.
Semakin mendekat serigala Jordan melangkah dan ia meringkuk tepat di depan gadis itu dengan kepalanya ia sandarkan dan mendusel di punggung kaki Rara. errhhhh…eungg….eunggg… mata biru hewan itu menatap Rara dengan memelas.
__ADS_1
Sayangnya Rara sudah tidak mampu menahan tubuhnya yang sudah di penuhi peluh mengucur, napas yang sesak, dan wajahnya kian memucat. Beberapa detik selanjutnya, Rara jatuh pingsan di depan serigala Jordan.
“Raraaaa…”
...𖧷𖧷𖧷𖧷...
Rara masih belum sadar hingga keesokan harinya kala matahari kian meninggi, sedangkan Jordan membutuhkan waktu semalaman untuk bisa kembali ke wujud semula. Jordan baru bisa memindahkan tubuh Rara ke kasur saat dirinya sudah berubah ke wujud manusia tampannya lagi.
Tidak ada yang tahu dengan kejadian semalam karena Jordan telah memerintahkan semua pengurus dan bawahannya untuk meninggalkan villa malam itu. Akibatnya, angin malam itu menerjang tubuh Rara berjam-jam di balkon dan akhirnya menjadi demam.
Drrttt……drrtt…..Ponsel Rara berdering.
Sudah dua kali ayah Rara menelpon pagi ini, tentu saja khawatir karena putrinya bilang akan sampai kemarin tapi hingga kini belum memberi kabar apapun. Jordan mengusap wajahnya kasar, ia kemudian duduk di tepi ranjang Rara seraya mengangkat panggilan itu.
“Halo.”
“Siapa kamu? Dimana putriku?” Tanya Ayah Rara di seberang sana.
“Ehem…maaf om, saya teman Rara.”
“Maaf , ehh…Rara sedang di pergi sebentar jadi saya yang angkat.” Terpaksa Jordan berbohong, tidak mungkin ia bilang jika Rara pingsan akibat melihat wujud serigala.
“Benar begitu? Kau bukan penculik atau semacamnya?”
“Bukan om, saya orang baik kok.” Jordan berkali-kali menelan ludah nya pahit, ia sering di buat pusing lantaran menghadapi sikap Rara. Kenyataannya, ayahnya jauh berkali lipat menegangkan.
“ Baiklah, tolong sampaikan pada Rara jika ayahnya menelpon.”
Pip..
“Bai….” Belum selesai menjawab panggilan itu di putus begitu saja.
__ADS_1
Deg, jantung Jordan hampir lepas saat mendengar suara calon mertuanya itu. Pagi itu Jordan kembali memanggil pengurus rumah, dokter, dan asisten pribadinya karena Rara membutuhkan perawatan.
Tok…tok…tok..
“Tuan, dokternya sudah datang.” Ucap Maxton yang baru masuk di ikuti dokter yang tampak muda.
“Kenapa dokternya pria? Aku tidak suka!” Ribet sekali memang hidup Jordan, di saat seperti ini masih saja mengeluh tentang hal itu.
“Apa saya tidak di terima? Saya pergi kalau begit…” Ucap dokter itu.
“Tunggu!! Lupakan ….tolong cepat periksa!” Pinta Jordan melemah, ia harus mengesampingkan keegoisannya demi Rara. Meski hati Jordan memanas kala melihat dokter itu beberapa kali menyentuh Rara, sungguh tidak rela tapi ia harus bersikap waras.
“ Tubuhnya mengalami demam biasa, tapi kondisi psikisnya kurang baik. Jika di lihat ia seperti mengalami tekanan atau bisa juga takut akan sesuatu.” Dokter itu menjelaskan keadaan Rara, sejak tadi Rara terus melenguh dan bergumam tidak jelas dalam tidurnya.
“takut??” Tanya Jordan serius.
"Ya, bisa saja Nona Rara memiliki phobia. "
"Apa separah itu? " beo Jordan.
“Tergantung, dalam beberapa kasus orang yang memiliki phobia bisa pingsan atau sakit jika tidak mampu menahan tekanannya. Saya sarankan nona untuk menjalani psikoterapi, dan ini resep obat untuk demamnya, tolong perhatikan istirahat dan pola makannya yang teratur.”
“Terimakasih, dok.” Ucap Jordan dan di angguki dokter muda itu.
“Saya permisi.” Pamit dokter itu.
"Bisakah kamu menerimaku yang tidak sempurna ini? " Jordan menatap Rara seraya mengusap lembut punggung tangannya lembut.
.
.
__ADS_1
.
to be continued...