Terjerat Serigala Tampan

Terjerat Serigala Tampan
BAB 8. Manis Sekali


__ADS_3

Dengan berat hati Jordan meninggalkan ruangan itu karena pekerjaan penting menantinya. Setelah sampai di parkiran…


“Al, antar saya ke H Department Store.” Titah Jordan pada Aldi asisten Victon yang sudah menunggu di mobil, Jordan langsung menerobos masuk ke dalam mobil Victon.


“Eh…kampret, gue boss nya disini. Nyuruh-nyuruh anak buah orang seenaknya, Kit.......”


“Ya elah Vic, sekalian… kan searah juga.” Ucap Jordan menyela.


“Keluar dari mobil gue, naik taxi aja. ”


“Jadi …ini…bagaimana pak?” Tanya Aldi ragu.


“Jalan Al, antar saya dulu. ” Ucap Jordan dengan yakin seolah-olah ia lah yang berkuasa, dan berhasil mendapat pukulan di pundaknya.


Setelah hening beberapa saat…


“ Jadi dia Rara itu?” Tanya Victon.


"Hmm."


“Gila, dia wanita pertama yang bikin lo kerasukan begini.” Victon menatap Jordan yang kini menyandarkan tubuhnya seraya memejam.


“Entahlah… gue cuma khawatir. Itu naluri bro, gue sedikit lepas kendali.” ujar Jordan.


“Sedikit lo bilang? Hampir aja tuh orang tewas gara-gara lo. ” Victon menggeleng-geleng tidak mengerti arah ucapan Jordan itu.


“Jadi gimana? Udah ada kemajuan belum?” tanya Victon lagi.


"No."


“Hahahaha.”


Victon puas sekali menertawakan kegalauan Jordan. Bagaimana bisa, Jordan yang disebut-sebut sang penakluk wanita di era ini, malah di buat kwalahan mengejar seorang Rara.


“Butuh bimbingan gak?”

__ADS_1


“Dih, gak ada faedahnya minta bimbingan sama jomblo kaya lo. Rencana lo malah bikin gue sial." Ucap Jordan kesal, ia mengingat kejadian kotoran burung waktu itu yang membuatnya bergidik ngeri.


“Eh… gue jomblo bukan sembarangan, gue Jomblo kembang tau ga. Banyak yang antri memperebutkan hati seorang Victon yang tampan ini. " jelas Victon dengan nada percaya diri membuat Aldi yang tengah fokus menyetir terhenyak menahan tawanya lantaran mendengar candaan atasannya itu.


“Cuih."


.


.


.


2 jam berlalu…


“Kak, tolong tunda jadwalku setelah ini. Aku ada urusan penting, oke. ” Ucap Jordan pada Dewi sang manager dan kemudian berlalu karena Maxton sudah menunggu.


Saat melangkahkan kaki di lorong rumah sakit, Jordan menjadi pusat perhatian. Semua tatapan menuju kearahnya, dan itu memang sangat biasa bagi Jordan. Sesekali ia menampilkan senyum manisnya yang mampu meluluhkan hati para pegawai wanita di rumah sakit itu.


Ceklek…


Jordan memasuki ruangan tempat di mana Rara di rawat. Tidak ditemukannya teman Rara itu, mungkin saja sedang ada urusan. “Hai Ra.” Jordan mengusap lembut tangan Rara.


cup..


Kecupan singkat itu mendarat di pucuk kepala Rara. Jordan kembali mengingat pertemuan mereka dan sesaat kemudian senyum tipis itu muncul di wajah tampan itu.


Jordan memandangi setiap sisi wajah Rara dari rambut, alis, mata, hidung hingga pandangannya berhenti tepat di bibir ranum gadis itu. “Sabar Jo, jangan melewati batas. ” batin Jordan berperang dengan hatinya sendiri di iringi jantungnya yang melompat-lompat.


Tanpa sadar ibu jarinya mengusap bibir mu gil nan indah itu. Jordan menggigit bibir dan berkali-kali meneguk ludahnya.


“ icip sekali boleh kali ya?” .


Cupp…


Pria itu memejam sejenak saat bibirnya berhasil menyentuh bibir Rara. “Manis sekali, kayak orangnya." Hanya kecupan singkat, itulah yang saat ini Jordan lakukan.

__ADS_1


Ia menarik sudut bibirnya dan merasakan bahagia meski merutuki dirinya sendiri karena sudah berani curi-curi. Masih dalam jarak amat dekat, Jordan menatap wajah Rara dan menelusurinya dengan jari tangannya. Terlihat pergerakan kecil pada alis Rara, kemudian matanya terbuka perlahan.


“Udah bangun, hmm?”


Rara yang masih linglung sehingga tidak menjawab pertanyaan itu. Hingga beberapa saat kemudian baru menyadari tangan kekar itu masih menempel di pipinya, sontak saja Rara langsung menepisnya.


“Dimana Valerie? Kenapa kau yang disini?” Entah kenapa Jordan jadi kesal dengan pertanyaan Rara itu. Ia mengerutkan keningnya kemudian duduk di samping Rara.


“Mwna ku tau, mungkin ada urusan. ” Jawab Jordan sekenanya.


Rara terdiam sejenak untuk berpikir, beberapa kilasan memorinya kembali mengingatkan kejadian beberapa saat lalu hingga ia memejam sejenak. Sejujurnya ia sangat takut, tapi ia harus tampak kuat.


“Apa Valerie baik-baik saja? Dia tadi…”


“Lihat dirimu. Temanmu baik-baik aja jadi nggak perlu khawatir. ” Ucap Jordan menyela dengan nada selembut mungkin sebelum Rara menyelesaikan kalimatnya.Rara pun hanya menatap Jordan dengan ekspresi yang tidak bisa diartikan.


Ceklek…. Valerie masuk setelah selesai dengan panggilannya, Ia terkejut melihat Jordan yang sudah kembali lagi kesini.


“Apa aku mengganggu?” Tanya Valerie.


“Tidak/nggak.” Ucap Jordan dan Rara serempak. Valerie terkekeh melihat Rara gugup seperti orang yang sedang kepergok mesum. “Aku panggilin dokter.” Jordan pun memilih keluar untuk menghindari suasana canggung itu.


"Terimakasih.” Ucap Rara pelan.


“ Sama-sama, sayang.”


“S....sayang?!” Gumam Rara tergagap. Sontak saja ia mendaratkan pukulan di lengan Jordan hingga pria itu mengaduh "aww."


Setelah beberapa menit kemudian Dokter memeriksa keadaan Rara yang sudah membaik. Rara pun sudah di perbolehkan pulang, karena memang ia tidak terluka parah.


“A…aku bisa jalan sendiri. Kakiku masih bisa di gunakan." Tanpa aba-aba Jordan menggendong Rara ala bridal style. Rara jadi semakin gugup karena Jordan memperlakukannya seperti orang yang sakit parah, padahal ia sudah tidak apa-apa.


“Sttt ....diam aja.” Jawab Jordan tidak mengindahkan kata-kata Rara.


.

__ADS_1


.


To be continued.....


__ADS_2