
Malam pun tiba...
Saat Rara hendak menarik selimutnya tiba-tiba ia merasakan hembusan angin sekilas dari sudut kamar. Sontak gadis itu terkejut hingga hampir saja memekik kala melihat sosok hitam dengan penerangan remang-remang berdiri di sudut kamarnya. Namun, tangan gesit sosok itu dengan cepat membungkam mulut Rara agar tidak membangunkan seisi rumah.
“Ssttt, ini aku sayang.” Bisik Jordan dan lalu duduk di pinggir kasur Rara. Segera Rara menyalakan lampu kamar dan membenarkan duduknya. Jantungnya masih berdegup kencang, hingga beberapa saat menatap Jordan tak percaya.
“Kebiasaan!! kamu ngapain di sini?” Tanya Rara mengerutkan keningnya dan memukul dada Jordan pelan. Bukan marah, tapi Rara masih dalam penyesuaian hati karena kedatangan pria itu yang tiba-tiba.
“Aku perlu memastikan sesuatu, kapan kamu bertemu dengan Marcello Anderson?”
“Siapa itu? Aku gak kenal.” Beo Rara.
Sesaat kemudian Jordan mengeluarkan ponselnya untuk menunjukkan sebuah foto. Selama beberapa menit ke depan, pria itu juga menjelaskan perihal kakaknya itu. Rara pun hanya mengangguk-angguk entah ia benar-benar paham atau pura-pura paham.
“Itu si om tahu bulat.” Ucap Rara dengan wajah datarnya.
“ Coba bilang, apa yang dia lakuin ke kamu? Apa dia lecehin kamu atau..”
Belum selesai Jordan bicara, Rara segera memotong. “Nggak ada, dia cuma tanya perihal tahu bulat. Udah itu aja.” Rara berucap selembut mungkin agar Jordan sedikit lebih tenang. Setelah mendengar penjelasan Jordan, Rara tidak menyangka jika om tahu bulat itu kakak tertua Jordan, sepupu lebih tepatnya.
“Cepat jauhi dia jika sampai bertemu, aku harap sih jangan. Ingat ya Ra?!” Tegas Jordan mewanti-wanti. "iyaaaaaa." jawab Rara gemas.
Detik selanjutnya....
Tok…tok…tok..
__ADS_1
GAWAT!!
Rara menatap Jordan dengan wajah piasnya, sudah pasti yang mengetuk pintu adalah ibunya. Gimana sembunyiin dia? Batin Rara menggigit jari seraya berfikir keras. Jika tega, Rara akan melempar pria itu keluar jendela tapi itu tidak mungkin.
Terlalu lama berfikir, hingga mereka gelagapan saat tiba-tiba pintu terbuka.
Ceklek… sontak Rara segera menarik Jordan ke dalam selimutnya, dan membungkus rapi tubuh pria itu. Jordan yang belum siap, jadi terjatuh di atas tubuh Rara hingga tak sengaja wajahnya menabrak tepat di dada gadis itu.
“Nak? Apa sudah tidur?” Tanya Ibu Ayu yang baru masuk. Sang ibu hanya mengulas senyum saat melihat putrinya masih terjaga dengan buku di tangannya. “hmmm? belum bu, Rara masih belajar sebentar lagi.” Rara semakin merapatkan selimut dan mengapitnya di ketiak, sesekali ia juga merapikan bagian bawahnya agar tertutup rapi.
Dag….dig….dug… detak jantung keduanya lebih cepat dari tempo biasanya, seperti pasukan demo.
Sementara itu di dalam selimut, Jordan merasakan siksaan yang amat menggoda pikiran liarnya. Bagaimana tidak, wajah tampannya itu benar-benar menempel di dada Rara hingga ia bisa merasakan gerakan naik turun nafas gadis itu. Aroma melon juga tercium kuat, mungkin saja itu sabun yang di pakai Rara.
“Ini ibu bawakan jamu kunyit asem, katanya tadi perutnya sakit karena datang bulan.”
“ Jangan malam-malam ya.” Ucap ibu ayu seraya mengecup sekilas dahi Rara dan tanpa curiga kemudian segera berlalu keluar. Haaahhh….hampir saja, batin kedua insan itu serempak. Hingga beberapa detik berikutnya Rara dan Jordan masih diam membisu, itu sangatlah canggung tentunya.
“Duh, mereka belum jadi milikku, aku tidak bisa mencicipi, tapi ini sangat menggoda, Ya Tuhanku. ” Batin Jordan cemas dan masih di posisi yang sama seraya menelan ludahnya berulang kali.
Ia merasakan sentuhan benda empuk di kanan dan kiri wajahnya yang berhasil membuat jiwa laki-lakinya kian meronta-ronta. Baiklah, Jordan tidak akan sok naif karena memang hal itu menggoda imannya yang hanya setipis kertas.
“Ehmmm.” Rara berdehem dan segera mendorong tubuh Jordan sedikit menjauh. Wajah malunya itu sudah tidak bisa di tutupi, sama halnya dengan Jordan. “Maaf Ra, aku gak bermaksud.”
“Iya, aku tau. Tadi kan aku yang paksa tarik kamu.” Jawab Rara menunduk malu. “Kamu gak pergi?” lanjutnya.
__ADS_1
“Aku di usir nih ceritanya?” Jordan tidak terima dan kini menggigit bibir bawahnya.
“Bukan gitu, kan kamu tadi datang sendiri, nggak baik kalau kita begini lama-lama. "
Bukan Jordan kalau tidak mengambil kesempatan dalam kesempitan. Meski di larang tapi itu bukan berarti ia akan patuh, begitulah pria serigala itu. Kini Jordan malah mengutarakan niatnya untuk bermalam di kamar gadis itu.
"Aku temani kamu tidur. "
“Jangan gila Jo. Nanti kalau ayah tau gimana? aku bisa di gantung di pohon kol!!.”
“Ya…. jangan kasih tau ayah kalau gitu, gampang Ra.” Seenak dengkul pria itu berucap, Rara sudah sangat cemas jika sampai kedua orang tuanya tau, maka akan jadi masalah besar. Kini Jordan malah merebahkan tubuhnya di samping Rara membuat mata Rara membola .
“Ya Tuhan, dia benar-benar sinting.” Batin Rara merinding seraya tangannya mengambil jamu yang di siapkan ibunya tadi lalu menenggaknya hingga tandas. Detik berikutnya, Rara masih terpaku menatap Jordan tanpa berkedip membuat pria itu gemas sekali. Jordan pun menghela napasnya pelan, ia tau betul apa yang di khawatirkan gadis itu.
“Ra......aku nggak akan melakukan hal di luar batas sebelum waktunya atau tanpa ijin darimu. Kecuali peluk dan cium itu wajib!! jadi jangan khawatir ya.” jelas Jordan.
Jordan menepuk kasur di sampingnya seraya memberikan tangannya sebagai bantalan. Entah mengapa Rara menurut saja, namun tetap saja untuk berjaga-jaga Rara menyelipkan guling di antara mereka agar tidak terlalu menempel, tentu ia tidak mau jadi santapan serigala lapar.
Jordan tetap menerima dengan lapang dada, tak masalah jika guling itu masih menjadi pembatas. Lebih baik begitu daripada tidak sama sekali, pikir pria itu.
.
.
.
__ADS_1
to be continued
😉😁😁😁😁😁