Terjerat Serigala Tampan

Terjerat Serigala Tampan
BAB 21. Ketahuan Deh!


__ADS_3

Swinggggg…


Dengan sedikit berputar kini keduanya tiba di depan kos, Rara mendongak menatap Jordan yang masih memeluknya, bibirnya berkedut dan matanya kini berkaca-kaca.


“ Kok nangis? Mana yang sakit, bilang?!” Ucap Jordan khawatir serta membolak-balikkan tubuh Rara.


“ Ayam nya ketinggalaaannn……masih ada 2 bungkus.” Rengek Rara seraya menunduk.


“Ya ampun Ra, kirain apa. Sadar ga beberapa detik lalu kamu hampir terbunuh, masih sempat mikirin itu?” Gemas sekali melihat wajah Rara saat ini, dirinya dibuat takut kalau-kalau Rara terluka, nyatanya gadis itu malah memikirkan ayam goreng.


“Darah !!.” Tunjuk Rara pada noda merah di baju putih lengan Jordan. Terpaksa Rara membawa Jordan ke kos nya, bukan ingin sesuatu melainkan untuk mengobatinya. Bagaimanapun Rara merasa bersalah, Jordan begini karena berusaha melindunginya.


Sementara Rara sibuk mencari kotak obatnya, Jordan mengedarkan pandangan ke seluruh isi ruangan yang tak terlalu luas itu.


Ada dua meja belajar dengan masing-masing monitor di atasnya, salah satu mejanya terdapat berbagai jenis kamera dan satunya peralatan game. Bisa di pastikan, kamera-kamera itu milik Rara. Jordan pun meraih kamera polaroid yang tidak jauh darinya. Cekreekk....


Saat wajah cantik itu muncul dari sebuah ruangan kecil, Jordan mengarahkan kamera itu dan memotretnya.


“Ngapain?” Ucap Rara mendekat.


Ssiiiiing….


...***...


Satu lembar foto keluar dari benda kotak itu, Rara pun mengibaskan foto itu.


“ih….jelek banget. Jangan asal jepret lah, aku kan belum pose.” Celetuk Rara.


“ Tetap cantik kok.”


“Ck, sini tangannya.” Rara menggulung sedikit kemeja putih pendek yang sedikit robek itu. Untuk kali ini giliran Jordan yang patuh, tidak banyak bicara dan matanya kini mengikuti gerakan lembut tangan Rara yang begitu sabar membalut lukanya.


“Ssshh …perih Ra.” Lebay sekali, padahal luka itu tidak sakit dan akan cepat sembuh dan mengering dalam waktu cepat. Jordan hanya berpura-pura saja.


“Tahan, siapa suruh menghadang diri begitu? aku kan nggak nyuruh. Luka kan jadinya!.” Ketus Rara.

__ADS_1


“ Ya….terus aku tega gitu biarin kamu yang terluka? nggak mungkin Ra.”


“ Alah….waktu itu yang gigit-gigit aku siapa emang? nggak sadar diri.”


Jlebb…


Bagai di hunus pedang panjang mendengar perkataan Rara, kini pria itu hanya menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. “ Sudah.” Balutan perban itu terlihat sangat rapi dan cantik dengan simpul pitanya yang menyerupai kupu-kupu.


“ih..kok gini? mana cocok dong buat pria maco kaya aku.”


“ Banyak protes ih.” Rara mencebik kemudian segera berlalu ke kamar mandi membersihkan tangannya. Tut…tut…


Sambungan telepon berbunyi kala Jordan memanggil seseorang setelah memastikan Rara tidak di sampingnya.


“Apa aku membayar mereka hanya untuk tidur dan bersantai? kerahkan anak buahmu untuk mengawasi Rara 24 jam, jangan sampai kejadian ini terulang lagi Max, kau dengar?!” Titah Jordan penuh penekanan.


“Baik.”


“Cepat selidiki dan bereskan!!” Ucap Jordan dingin dan segera memutus sambungan.


“Apa ini sakit?” tanya Jordan sambil mengelus pelan leher jenjang Rara, membuat gadis itu meremang saat merasakan sensasi geli dari sentuhan tangan kekar pria itu. Rara hanya menggeleng pelan menatap wajah Jordan dengan ekspresi penuh penyesalan.


“Maaf.”


“Itu udah berlalu, Jo.” Ucap Rara lembut tanpa ia sadari salah satu tangannya kini berinisiatif mengelus lembut pipi Jordan, pikirannya pun kian berkecamuk. Mereka saling mengulas senyum, hingga keduanya menyatukan kening kemudian memejam merasakan perasaan nyaman itu untuk sejenak saja.


“Ra, jadi apa jawabannya?” Ucap Jordan sangat lembut dan membuka matanya.


“Jawaban apa?” tanya Rara.


“Apa kamu bersedia menjadi kekasihku Ra?”


Suasana sangat hening, hingga hanya detik jam dinding di ruangan itu terdengar sangat jelas. Bingung tentu saja, Rara harus jawab apa? Berbobot sekali pertanyaan itu, dan juga terlalu tiba-tiba karena Rara belum mempersiapkan diri. Cup…kecupan bibir tanpa aba-aba itu mendarat di bibir Rara. Sesaat manik Jordan kembali berubah ke warna biru muda menyala.


“Apa kamu berdebar? Saat aku dekat dengan wanita lain, apa hatimu terasa sakit? Aku selalu merasa begitu Ra, paling tidak suka kalau ada cowok lain yang mendekatimu. Kalau kamu juga begitu, bukankah artinya perasaan kita sama?.” Jelas Jordan dengan tatapan lembutnya.

__ADS_1


“M..matamu…”


“ Aku tahu, emm…itu karena emosiku.” Jordan memejam sejenak mengatur nafasnya. “Aku tau ini buru-buru, apa perlu ku buktikan dengan cara lain kalau perasaanku ini nyata?”


Tik….tik…tik.. suara jam berdetik.


“I......ya.” Jawab Rara terputus seraya memalingkan wajahnya, meski masih ragu tapi Rara merasakan cemburu yang di maksud pria itu. Apa itu bisa di bilang cinta? Atau hanya rasa tidak suka saja, Rara masih sangat plin-plan.


“ Ha? Ulangi please…!!” Jordan memang berharap jika Rara menerima cintanya, tapi ia sangat terkejut saat mulut Rara mengatakan satu suku kata yang ia harapkan itu.


“ Iya …a..aku mau.”


“Yes.” Terlampau bahagia Jordan memeluk Rara begitu eratnya, kemudian mendorong tubuh gadis itu ke tembok dan mencium lembut bibir ranumnya itu. Tidak ada penolakan namun masih belum ada balasan, Jordan semakin memperdalam dan tetap lembut. Sejujurnya Rara takut dan juga merasa berdosa sekali, bagaimana jika orang tuanya tahu jika anak gadisnya kini terjerat pria mesum. Rara memukul-mukul hampir kehabisan nafas, dan Jordan pun menghentikan aksinya.


“ Bernafas lah .” Jordan mengusap bibir Rara yang membasah akibat ulahnya. Belum puas, Jordan kembali mencium mesra dan menarik pinggang Rara semakin memperdalam.


Kini Rara mengalungkan tangannya di leher Jordan, nafas keduanya semakin memburu karena masing-masing terbakar gairah cinta. Rara kini berani membalas ciuman Jordan meskipun tidak mahir, di ikuti suara detik jam dinding dan cahaya lampu remang-remang sebagai saksi keduanya.


“Eungh.”


“ Dasar bibir laknat.” Batin Rara merutuki dirinya sendiri, setelah merasa cukup Jordan pun menutup santapannya dengan kecupan lembut di pucuk kepala kekasih barunya.


“Makasih Ra.”


“Udah iiihhh….keterusan.” Rara mendorong dada Jordan agar menjauh.


Sesaat kemudian muncul keributan yang berasal dari luar, membuat keduanya terkejut dan sedikit menjauh, takut sekali jika itu ibu kos Rara.


.


.


.


to be continued...

__ADS_1


__ADS_2