Terjerat Serigala Tampan

Terjerat Serigala Tampan
BAB. 108 Again


__ADS_3

Sibuk, tapi tidak sepadat sebelumnya. Seperti yang sudah Jordan katakan jika peresmian HR Media Entertainment akan di publikasikan hari ini juga. Kehadiran Jordan tentu saja sangat penting dalam hal ini. Pemotongan pita berjalan dengan lancar hingga rapat Audisi pencarian bakat juga sudah di selesaikan.


Derai air hujan kian memenuhi kaca mobil Jordan dalam cahaya temaram malam itu. Setelah seharian Jordan berkutat dengan pekerjaan barunya, kini pria itu sedang dalam perjalanan untuk pulang. Beberapa saat ia terhanyut dalam lamunannya sebelum akhirnya tersadar kala benda di sakunya bergetar.


Drrrt...drrrtt..


Jordan mengulas senyumnya. "Hai. Kok belum tidur?" Rupanya panggilan Video dari istri tercinta.


"Belum, kapan pulang? Si dede udah kangen nih." Ucap Rara seraya memperlihatkan perutnya.


"Dede atau mamanya?" tanya Jordan.


"Dua-duanya hehe. Oh ya, nanti mampir beliin martabak ya."


"Siap ibu negara, ada lagi?"


"Nggak itu aja, jangan lupa aku maunya all varian rasa ,okay? btw kakak kelihatan capek banget, apa ada masalah sama...."


Syuuuttt......Brakk.....


Beberapa detik kemudian..


"kak? Halo....kak kok gelap? Sayang kamu kenapa ..halo....halo....?"


Suasana jadi menegangkan, entah apa yang sebenarnya terjadi. Yang jelas Rara saat ini paniknya bukan main.

__ADS_1


POV. Rara..


Deg ..deg...deg ..


Jantung Rara berpacu sangat cepat, dan seluruh syaraf tubuhnya seakan terputus. Hendak menghubungi nomor itu lagi, namun jari tangannya tidak bisa di ajak bekerja sama.


Tuuttt....


"Nggak ...nggak apa-apa. Ayo angkat dong, sayang."


Rara menggigit jari serta tatapannya tak tentu arah. Takut, sudah pasti begitu. Suara dentuman itu terdengar jelas saat panggilan videonya tadi. Napas Rara terasa semakin sesak, tidak bisa di bayangkan jika benar sampai terjadi sesuatu yang buruk pada Jordan.


Hingga panggilan kelima tetap hasilnya sama, belum ada jawaban. Rara pun langsung berlari ke bawah mencari keberadaan Axel dan Brody.


"Kumohon jangan sampai terjadi hal buruk pada suamiku ya Tuhan." Batin Rara dan air matanya sudah luruh begitu saja. Beberapa pengurus rumah jadi ikutan panik saat melihat Rara sepanik itu.


"Kalian kemana aja, ku panggil dari tadi!!" Meledak sudah amarah Rara, pikirannya kian berkecamuk dan hanya ingin melampiaskan pada apapun di sekitarnya.


"Hiks ...kak Jordan. Cepat cari tahu di mana dan apa yang terjadi dengannya. Tadi aku ....aku dengar suara tabrakan..." Rara kini berjongkok karena berdiri saja kakinya sudah bergetar.


"Tenang dulu, Ra . Kita segera cari tahu, tolong tetap di rumah dan jangan kemana- mana." Rara mengangguk dan dengan cepat mereka pergi begitu mendengar penjelasan itu.


Sraakkk brughh...


Disaat genting seperti ini bisa-bisanya Brody jatuh hingga telentang di lantai . "Aduh mama." keluh Brody memegangi bokongnya yang sedikit nyeri.

__ADS_1


"Jalan pakai mata bang, gimana bisa kepeleset sih?" Ucap Axel membantu.


"Gara-gara pak Jono nih, nyiram tanaman airnya kemana-mana." Gerutu Brody dan sejujurnya Axel menahan tawa sejak tadi


.


.


Di dalam kamar...


Rara sudah menghubungi Victon beserta keluarganya. Tak lupa juga ayah dan ibu Rara. Penjelasan Rara sontak saja membuat seluruh keluarga ketar-ketir. Pasalnya Rara mengucapkannya sambil sesenggukan, wajar saja jika semuanya jadi berpikiran yang tidak-tidak.


Menjelang pagi ia tidak bisa tidur, kasurnya terasa lebih luas dan dingin karena tak ada pelukan suaminya. Kesal rasanya karena Rara tak bisa berbuat apapun, sementara semua orang tengah berjuang mencari keberadaan Jordan.


Rara memeluk bingkai foto kecil dengan Jordan dan Rara sebagai gambar di dalamnya Tangisnya kembali pecah kala melihat wajah yang saat ini membuat Rara begitu kelu.


"Tolong kembali dengan selamat, ingat anak kita kak."


Rara berucap sendiri pada gambar tak hidup itu. Tangannya mengusap pelan pada bagian wajah Jordan yang sedang tersenyum di samping foto dirinya. Hujan turun di luar sana. Suhu begitu dingin hingga menusuk kulit dan tak terasa jika mata Rara perlahan meredup. Suaranya juga hampir habis karena terlalu lama menangis semalaman.


.


.


-To Be Continued-

__ADS_1


__ADS_2