Terjerat Serigala Tampan

Terjerat Serigala Tampan
BAB. 111 Tak Selalu di Atas


__ADS_3

Tidak ada kendaraan, pakaian robek sana-sini bahkan alas kakinya entah pergi kemana. Akibat kekuatan Jordan yang tidak stabil, akhirnya mereka memutuskan untuk berjalan kaki menelusuri jalanan yang tidak tahu di mana itu. Terik matahari begitu menyengat hingga terasa ke lapisan kulit terdalam. Bau badan, perut lapar dan dahaga semua bercampur jadi satu.


“Dompetku jatuh di hutan, sial banget. Mana punyamu Max?”


“Terbakar hangus sama mobil........sepertinya.”


Maxton meraba kantung jaket dan celananya, dan benar jika benda berharga itu menghilang dari tempatnya. Ingin bagaimana lagi? Seharian sudah seperti gembel dan memang kedua pria itu benar-benar menjadi gembel sungguhan.


"Andai saja ada hujan duit. " Seloroh Maxton seraya menengadah dan membuka kedua tangannya.


.........


“Kasihan. Ini, semoga berkah.” Ucap salah satu ibu-ibu yang melintas. Satu lembar uang 50 ribu mendarat di tangan Maxton begitu saja. Sebuah keajaiban bagi kedua pria itu. Mereka meneguk ludah bersamaan dan saling menatap satu sama lain.


"Terimakasih." Ucap Maxton pelan menatap sang malaikat penolong tadi yang semakin menjauh. Tidak boleh menolak rejeki, begitulah moto pria itu.


“Mau buat makan atau transport?” tanya Maxton pada Jordan yang berekspresi aneh.


“Mana cukup buat transport, kita isi perut dulu lah.”


Maxton pun mengangguk setuju. Jordan sudah menepis rasa malunya karena hidup memang tidak selalu berada di atas. Ada kalanya seseorang jatuh terperosok ke bawah layaknya ia saat ini. Akhirnya, pria-pria malang itu pun menepi di sebuah warteg yang berada tak jauh dari jarak mereka.


...🍃🍃🍃🍃...


"Apa nggak ada tempat lain?" Jordan belum pernah makan di tempat seperti ini. Wajar jika ia sedikit risih.


"Budget pas-pasan. Jangan harap makan steak boss. Kita sekarang miskuin."

__ADS_1


Tubuhnya butuh amunisi, persetan lah dengan rasa malu dan gengsi. Saat ini Jordan perlu mengisi energi agar bisa segera pulang.


"Tetap waspada!. Mereka pasti masih berkeliaran di mana-mana." Ucap Jordan dengan yakin.


"Lalu, gimana caranya kita pulang?." Tanya Maxton.


"Tunggu kekuatanku pulih, sebentar lagi."


"Big no!!" Sergah Maxton lagi.


"Kau meragukanku Max?"


"Bukan begitu tuan. Tadi di goa, dan yang terakhir di kuburan. Gimana kalau kita sampai berakhir di kutub Utara dan Selatan nantinya?" Maxton menyilangkan kedua tangannya di depan tanda jika tidak setuju.


"Bagus dong. Sekalian menjelajah dunia."


Maxton sedang tidak ingin di ajak bercanda, tapi Jordan sangat menyebalkan saat ini. Demi apapun ia sudah tidak tahan. Darah yang sempat memenuhi tubuh mereka sudah mengering, tentu saja mereka sedang menahan rasa sakit di beberapa bagian tubuh itu. Hanya saja tidak ada pilihan lain sebelum bisa menemukan jalan keluar.


"Ssshhhhh.....aakhhh." Jordan mendesis lagi saat luka di kepalanya tiba-tiba terbuka dan terasa nyeri.


...💨💨💨💨...


Di waktu senja....


Wushhhhhh....


Berhasil, kali ini Jordan dan Maxton berpindah ke tempat tujuan dengan selamat. Meski bukan di titik sempurna, tapi setidaknya sudah dekat dengan rumah. Lebih tepatnya pekarangan luas di belakang rumah Jordan.

__ADS_1


Kurang lebih jarak 500 meter, baru mereka bisa menggapai rumah bercat putih di sana. "Kenapa tubuhku lemah sekali Max?"


"Kita terjatuh dari atas tebing tuan. Aneh kalau tidak sakit sama sekali."


Penat sekali, entah kenapa rasanya Jordan seperti menempuh puluhan ribu kilometer. Bisa berjalan dan berkelana dalam kondisi seperti itu saja sudah terbilang hebat sebenarnya.


"Tuan. tidak bisakah teleport sedikit lagi biar cepat sampai.?" tanya Maxton yang berjalan beriringan.


"Energiku habis. Ssssshhhhhh..... kenapa sakitnya pulang dan pergi begini. " Keluh Jordan.


"Tanganku juga mati rasa, gimana jika aku tidak bisa menggunakannya lagi?" ucap Maxton lirih.


"Berisik!! pusing kepalaku. " sentak Jordan.


"Sama. Belum juga kawin boss, saya tidak mau mati sekarang."


Sepanjang perjalanan pun keduanya masih berdebat. Jordan jadi heran, kenapa Maxton jadi sering membahas 'kawin' di beberapa kesempatan. Padahal sebelumnya tidak pernah tertarik sedikitpun.


Masih cukup jauh dan jujur saja Jordan sudah tak mampu lagi karena rasa sakit itu kembali menyerang. "Aaaaaaaaaaaaarrrrrrgggggghhhhh."


Jordan memekik sejadi-jadinya hingga menggema-gema.


"Kaki ku!! kau injak Max!!!!" Maxton pun mendapat tatapan tajam seperti ingin menguliti. Jangan di tanya jika Jordan amat menyeramkan hingga tubuh Maxton di buat bergetar.


.


.

__ADS_1


.


-To Be Continued-


__ADS_2