
...HAPPY READING!!...
Desain ala skandinavian house dengan dinding kaca yang memperlihatkan betapa indahnya pemandangan menakjubkan di depan rumah itu. Jordan sengaja memilih tempat ini untuk mengenang moment paling berkesan yang tak akan pernah mereka lupakan.
Anggap aja senja😆
Terpaan angin laut senja itu menyapu setiap helai rambut Rara, begitu pula Jordan yang sejak tadi memeluknya.
Belum ada schedule kegiatan lain, keduanya benar-benar ingin menikmati dulu keindahan alam ciptaan Tuhan yang membuat mulut Rara tidak berhenti memuji-muji keelokannya. Rara mengusap lembut tangan Jordan yang melingkar di perutnya. Kehangatan yang Jordan berikan semakin menjalar ke seluruh bagian tubuh Rara. Sesekali Jordan menciumi pundak Rara yang nampak sedikit terbuka dan memperlihatkan kulit mulusnya.
“Ra?”
“hmmm?” Rara membuka matanya perlahan.
“Ra?”
“Iya kenapa?” Rara masih merasakan bibir Jordan yang bermain di sekitar pundaknya.
“Rara?” Jordan memanggil untuk yang kesekian kalinya. Rara sebal sekali karena tidak paham apa kemauan suaminya itu, dan sejak tadi Jordan memanggil namanya tanpa tujuan yang jelas.
“ Kenapa sih?” Tanya Rara masih berusaha sesabar mungkin.
“Lanjutin yang tadi yuk?”
Deg..
__ADS_1
“L…lanjutin apa?” Tiba-tiba saja jadi menegang. Bukannya tidak paham maksud kata-kata Jordan barusan, justru karena ia sangat memahami keinginan suaminya itu makanya Rara jadi gugup. Mau bagaimana pun Rara pernah berjanji jika ia akan memberikan apapun yang menjadi hak mutlak Jordan jika mereka sudah menikah.
Jordan pun segera memutar tubuh Rara agar saling menghadap. Pandangan mata mereka tak sengaja bertemu, sebelum Rara memalingkan wajahnya kembali.
Keduanya masih berada di balkon kamar yang terbuka dan tubuh keduanya saling bertaut dalam pelukan. Semakin dekat dan menempel tubuh keduanya karena Jordan tidak berniat untuk melepaskan Rara sedikit pun. Cup… Jordan menarik dagu Rara kemudian mendaratkan ciuman lembutnya di bibir ranum nan menggoda itu. Perlahan keduanya pun saling menikmati, sentuhan dan usapan-usapan yang amat terasa tanpa di rekayasa.
“Sebentar.” Jordan melepas tautannya tanpa aba-aba hingga membuat Rara kebingungan. Rara hanya mengamati langkah Jordan yang berjalan menuju kamar. Dalam beberapa detik, Jordan keluar hanya dengan berbalut handuk kimono yang menampakkan dada bidangnya.
Lebih mencengangkan lagi saat terselip setangkai bunga mawar merah di mulut Jordan yang menggigit batangnya.
“Pffttt….hahaha.” Lucu sekali, Rara tidak mampu untuk menahan tawanya kala Jordan berjoget dengan gerakan yang aneh menurut Rara. Belum lagi kostumnya yang tidak sesuai. Masih dengan gerakan melenggok-lenggok hingga sesekali Jordan mengedipkan mata dan mengigit bibirnya dengan seksi.
“Am I sexy, baby?” Jordan berbisik dengan suaranya yang di buat-buat sensual. Sesaat Rara pun jadi merinding. “Yeah, kamu sangat menggodahhh.” Jawab Rara dengan sensual lalu menggigit pelan daun telinga Jordan.
“Oho…dia pandai merayu sekarang?” Seringai Jordan dengan wajah liciknya. Kaki Rara baru saja ingin melangkah, namun secepat itu Jordan menariknya hingga keduanya kini terjatuh di atas sofa. Posisi Jordan menindih tubuh Rara hingga tak mampu bergerak.
“Yaaahh anakku udah bangun. Gimana dong?” tanya Jordan.
“G…gimana? Minggir a…aku mau mandi dulu.” Rara malah semakin gugup.
“Ntar aja, tidurin dia dulu sayang.” Jordan langsung meraup bibir Rara tanpa mendengar jawaban istrinya. Sudah tidak penting lagi apapun jawaban Rara, karena bagaimana pun Rara sudah berjanji untuk memberikan seluruh tubuhnya untuk Jordan. Cuaca cukup dingin di luar sana, tapi entah kenapa kedua insan itu terasa panas hingga keringat membasahi keduanya. Baru permulaan karena pakaian mereka masih utuh.
Sialnya, hal tak terduga terjadi di waktu yang tidak pas. Jordan merasakan getaran aneh seperti sesuatu menggigit-gigit di seluruh permukaan kulitnya. Ini aneh sekali, Jordan tidak tahu apa penyebab dari perubahan tubuhnya itu. Padahal lagi enak-enaknya begini tapi selalu saja ada hal yang mengganggu.
“Kenapa sayang?” Rara mengamati perubahan pada ekspresi wajah Jordan yang saat ini memejam seperti menahan sesuatu.
“Sayang maaf, aku mau…aaaakhhh.” Jordan segera bangun dari rengkuhannya dan kini terduduk. Rara semakin bingung, dan pada akhirnya ia mencoba mendekat.
__ADS_1
“Mau apa? coba bilang yang jelas. Jangan begini… aku jadi cemas.” Rara menyadari tubuh Jordan yang bergetar. Detik selanjutnya tatapan itu sangat berbeda, perubahan manik Jordan yang menyala malah membuat Rara menjadi takut. Siapapun, Rara benar-benar tidak tahu harus meminta bantuan dari siapa karena Jordan hanya diam saja.
“Maxton!” Gumam Rara. Ia segera mencari keberadaan ponsel Jordan yang ternyata tergeletak di atas meja dekat dengan pintu masuk. Di ambilnya benda itu dan Rara segera melancarkan jarinya. Tut…tut..tut… sambungan telpon itu untuk Maxton sang asisten Jordan. Rara menggigit bibir bawahnya, ia tidak punya pilihan lagi karena mungkin hanya maxton yang tahu akan keadaan Jordan saat ini.
“Halo.”
“Halo kak Maxton, ini aku Rara.”
“Nona ada apa?”
“……..”
Rara pun menjelaskan bagaimana keadaan Jordan saat ini. Tiba-tiba suara gaduh terdengar sangat jelas, membuat Rara menoleh dan segera berlari ke arah suara tersebut.
Pyarrrrr….
“K…kak Jordan?! i…itu..” Demi apapun Rara sebal sekali dengan mulutnya yang tidak bisa di ajak kompromi. Rara terlampau terkejut dengan pemandangan di depannya yang membuatnya kini terduduk lemas. “Nona, apa yang terjadi di sana? Halo…” Maxton bingung kala tidak ada jawaban apapun selain suara gaduh yang terdengar.
.
.
.
-To Be Continued-
Maaf ya di gantung lagi✌✌
__ADS_1