
"Ra."
"hmm?"
"Misal, ini misal ya. Jika suatu hari aku menghilang..."
"No!! Jangan bilang itu, aku nggak mau denger." Jordan belum tuntas dengan kalimatnya dan Rara secepat itu menyela. Bukan bermaksud begitu, Jordan juga tidak ingin hal itu terjadi. Ia hanya ingin tahu apa jawaban Rara yang sesungguhnya.
Jordan menggenggam punggung tangan Rara. "Tolong jaga anak kita apapun yang terjadi, rumah juga sudah atas namamu. Aku nggak menginginkan hal buruk terjadi, tapi berjanjilah kalau kamu akan tetap bahagia meski tanpa...." Lagi-lagi, Jordan belum selesai dengan kalimatnya dan telapak tangan Rara sudah membekapnya.
Ranjang pasien cukup sempit, namun cukup untuk berdua. Rara pun naik dan merapatkan tubuhnya tepat di samping Jordan "Gimana rasanya sekarang?" tanya Rara.
"Sempit."
" Nyaman yang tadi atau sekarang?." tanya Rara lagi.
" Sekarang lah. Aku suka yang sempit-sempit, asalkan sama kamu." Seloroh Jordan membuat Rara memutar bola matanya.
"Aku pun sama. Cuma kamu yang bisa mengisi kekosongan di sisiku ini. Bahagiaku cuma sama kamu dan anak-anak kita nantinya. Please!! Jangan bilang hal semacam itu lagi, aku takut." Memang benar jika selama ini hanya Jordan yang bisa membuat Rara berpaling dari tujuan awal hidupnya.
Rara meraih tangan kekar Jordan, lalu meletakkan di perutnya. Perlahan, tangan kekar itu pun bergerak mengikuti irama dan Rara menyandarkan kepalanya di bahu Jordan. Lebih luas daripada miliknya, dan itu sangat nyaman hingga Rara terlena.
__ADS_1
"Kita akan menua bersama, sayang ." Beberapa kecupan mendarat di pucuk kepala Rara saat Jordan mengucapkan kalimat manis itu.
Beberapa saat kemudian....
"Tangan tolong di kondisikan." Semula di area perut, tapi semakin lama kemana-mana. Rara heran dengan kemesuman Jordan yang semakin berlipat ganda itu. Jelas saja Rara gemas saat ini. Jordan malah merusak suasana haru nan romantis itu.
"Si dede baby minta di tengokin ayahnya."
"Jangan! kamu belum sembuh. lagian ini di rumah sakit, jangan aneh-aneh ya kalo nggak mau ku aduin ayah." Rara mendelik dengan sorot mata tajamnya. Namun, bukan Jordan jika menyerah begitu saja. Peraturan ada untuk di langgar, itu moto Jordan yang menyimpang dan tidak patut di tiru. Maklum saja, hidupnya kemana-mana jadi otaknya pun sama.
"Udah mau jadi mommy, kurangin ngadunya."
Situasi masih genting dan Jordan tidak mau melewatkan jatahnya sekali saja. Hingga Victon dan pak Winarto masuk, kedua insan itu masih saling berpatukan tanpa menyadari keberadaan mereka.
"Apa urgent banget Jo? Sampe nunggu sembuh dulu aja nggak mampu gitu?" Tanpa basa-basi, Victon mengutarakan maksudnya. Victon memalingkan wajahnya karena tangan usil Jordan membuat pakaian Rara menyingkap dan berantakan.
deg..
Sontak saja Rara menjauh hingga hampir saja jatuh dari atas ranjang. Jika Tangan Jordan tidak menahan, mungkin Rara sudah terjungkal.
"Hati-hati!." Jantung Jordan hampir saja runtuh. Cerobohnya Rara tidak hilang meski sudah berbadan dua. Sedangkan pak Winarto hanya bisa menggeleng kepala melihat kelakuan anak dan juga menantunya itu.
__ADS_1
"Kalian ini! ini masih di rumah sakit." Ucap pak Winarto seraya duduk di sofa. Berbeda sekali jika kepergok oleh mertua sendiri karena rasanya lebih nano-nano. Rara sudah semerah itu, sedangkan Jordan hanya menggaruk pelipisnya yang tak gatal.
.
.
Lain halnya dengan Maxton yang saat ini kesepian. Sepeninggalnya Axel dan Brody yang menjenguk beberapa saat lalu, kini dia sendiri tanpa ada yang menemani. Keluarga pun tak punya hingga ia terasa amat menyedihkan.
"Coba aja punya istri kayak boss, pasti ada yang di peluk-peluk." Maxton berbaring seraya menatap nanar langit-langit dan berkali-kali menghela napas. Wanita mana yang akan singgah di hati seorang Maxton. Sering di terpa isu miring karena di anggap gay membuat pikiran pria itu jadi rumit.
Sejujurnya ia juga ingin bahagia seperti saran Jordan. Hidup harus lebih berwarna agar tidak selalu hitam dan abu-abu saja.
poor Maxton🥺
.
.
.
To Be Continued
__ADS_1