
Makan siang berlangsung dengan nikmat dan hening, Jordan yang selalu menerapkan etika ketika makan memang tidak suka jika makan sambil berbicara. Jika di ingat-ingat ini adalah kali kedua mereka makan bersama.
Ingin sekali Jordan mengajak Rara untuk melakukan beberapa kegiatan romantis layaknya pasangan yang lainnya jika saja ia tidak terlalu sibuk, bahkan sekedar dinner romantis belum terlaksana juga. Sesekali pria itu menatap Rara yang sedang menikmati makanannya, membuat gadis itu bertanya-tanya.
“Kenapa? mau di suapin?” Pertama kali Rara menawarkan diri, entah mengapa ia begitu inisiatif hari ini.
“Boleh……aaaaaaaa.” Dengan senang hati Jordan tidak menolak, jarang sekali gadis itu begini. Rara pun menyuapi potongan daging steak dari piringnya. “Enak?” Tanyanya dan di angguki oleh Jordan. Anggap saja dunia ini milik mereka berdua, karena keduanya benar-benar tidak mempedulikan pandangan orang lain yg juga berada di restoran itu.
“Jo, aku mau bilang sesuatu.”
“ Ada apa?” Jordan menatap lekat Rara seraya meletakkan peralatan makannya karena ia sudah selesai makan. Kenapa tiba-tiba perasaannya tidak enak, Jantung pria itu berdegup kian kencang menanti jawaban Rara.
“Aku udah bilang sebelumnya kalau mau pulang ke kampung, ini liburan semester jadi….” Belum selesai Jordan sudah memotongnya. “ Iya, kapan pulangnya?” Tumben Jordan tidak banyak protes, Rara pun mengulas senyum karena lega, setakut itu jika Jordan banyak tanya. Jordan paham betul karena bagaimanapun Rara masih memiliki orang tua dan gadis itu juga belum menjadi milik Jordan seutuhnya, karena ia belum memiliki kuasa atas Rara.
“Besok.” Ucap Rara ragu.
“Secepat itu? Kita belum lama jadian tapi udah pisah aja.” Jordan menggenggam tangan Rara yang di atas meja dan mengelusnya lembut. Rara hanya terkekeh melihat kelakuan pria itu yang menekuk wajahnya seperti anak kecil.
.
.
__ADS_1
.
Sementara itu di sebuah kamar hotel, seorang pria tengah bergulat menikmati permainan panas dengan wanitanya. Keduanya saling berbagi peluh hingga suara lenguhan dan ******* nikmat memenuhi kamar itu.
Drrtt….drrtt….drrtt….
“Ck, siapa? ganggu aja.” Pria itu pun meraih ponselnya seraya merebahkan tubuhnya di samping wanitanya. “ Move.” Titah pria itu pada wanitanya sebelum mengangkat panggilannya.
“ Apa? bicara yang jelas.” Ketus pria itu dengan seseorang di seberang sana. Informasi penting yang ia dapatkan membuat emosi nya yang meluap kian mereda. “Bagus, kita pancing dia agar masuk perangkap.” Ucapnya seraya menyeringai licik lalu menutup panggilan itu dan melempar poselnya.
“Ssshhh.” Pria itu mendesis kala wanitanya itu masih bermain liar di atasnya.
“Aaah….Marcel.” Pekik wanita itu kian menjadi pula, kini keduanya semakin terbakar gairah percintaan hingga gosong menjadi arang.
Setelah selesai bertempur, pria itu duduk di sofa seraya menghisap batang nikotinnya. Marcello Anderson adalah nama yang tidak asing lagi di lingkungan kelas atas. Kekayaan keluarganya yang melimpah membuatnya tidak kekurangan apapun. Kehidupannya terbilang sangat sempurnasebagai tuan muda Anderson, namun hal itu membuatnya menjadi angkuh dan sering berbuat semena-mena.
Entah apa niatnya kali ini, ia kembali ke Indonesia dengan dalih mencari keberadaan adiknya yang menghilang 7 tahun lalu. Jika di ingat lagi dirinya lah penyebab adiknya memilih pergi.
“ Leonzio.” Seringai Marcel.
.
__ADS_1
.
.
Hari ini Rara meminta ijin pulang lebih awal dengan alasan ingin mengemasi barangnya untuk keberangkatannya esok hari. Jordan yang merasa setiap detiknya sangat berharga, tidak rela jika harus berpisah secepat itu. Pada akhirnya dengan seenak dengkul, pria itu memohon pada managernya untuk mengosongkan jadwalnya dengan alasan menemani sang kekasih. Meskipun Dewi sudah menolak tapi pria itu teguh pada keputusannya.
“Aku sayang kamu, Ra.” Kerasukan apa tiba-tiba Jordan berkata seperti itu, Jordan menyunggingkan bibirnya seraya memakaikan sabuk pengaman Rara. Heran saja, bukannya terharu Rara malah tertawa membuat pria itu heran.
“Kok malah ketawa?” Tanya Jordan kemudian.
“Gigimu ada bendera merah putih…hahaha.” Receh sekali Rara saat ini, tapi itu sangat lucu melihat serpihan cabai terselip di gigi Jordan saat tersenyum tadi.
“Ck, kamu merusak suasana.” Jordan pun segera mengambil cermin kemudian menghapus sisa cabai yang terselip itu. Semakin kesal rasanya karena Rara belum berhenti menertawakannya.
.
.
.
to be continued..
__ADS_1
😁😁