
Tanpa banyak kata lagi, Jordan tahu jika Rara juga menginginkannya. Maka secepat itu ia meraup bibir tipis Rara dan kembali menyesapinya dengan rakus. Terakhir, 3 hari yang lalu Jordan melakukan ini karena di malam pernikahan Rara tidak bisa di ajak kerja sama.
Jordan semakin menuntut dengan sesekali menggigit bibir Rara. “Buka dong sayang.” Ucap Jordan di sela-sela tautannya dan Rara semudah itu menurutinya.
Rara pun membuka mulut dan mempersilahkan Jordan untuk mengobrak-abrik di dalam sana dengan indra perasanya. Pagi menjelang siang terasa panas dan semakin panas dengan kegiatan pasangan itu. Mereka masih di ruang tamu dan bebas sekali tanpa khawatir jika ada orang melintas.
Satu tangan Rara tidak bisa berdiam saja dan kini berani menelusup ke dalam kemeja Jordan. Dengan usapan pelan Rara menyentuh bentuk kotak-kotak di perut kencang itu. Bangga sekali rasanya, karena Rara tidak menyangka jika pria yang dulu tidak di sukainya kini tubuhnya bisa di nikmati dengan bebas.
Sesekali Rara mencubit pinggang kencang itu membuat Jordan menggeliat geli.
Ternyata Rara semakin nakal dan itu karena Jordan yang menjadi gurunya. Tangan lentik itu berusaha melepas ikat pinggang pada celana Jordan. Semakin bersemangat, Jordan pun membopong tubuh Rara ala bridal style tanpa melepas pagutannya.
Keduanya berjalan menelusuri lorong rumah besar itu, dan masih saling mematuk. Kini Rara meremas tengkuk leher suaminya dan ciuman keduanya semakin dalam hingga saling berbagi saliva di iringi suara-suara astral yang saling bersahutan.
Jordan pun membawa tubuh Rara menuju arena pertempuran. “Apa masih sakit?” Tanya Jordan seraya menurunkan Rara di atas kasur. Di tengah kabut gairahnya yang memuncak, Jordan tetap khawatir jika kekuatannya akan melukai Rara. Namun Rara menggeleng, kemudian di raihnya tangan Jordan lalu di letakkan di dadanya.
“Kamu bisa rasain kan? aku berdebar.” Napas Rara tersengal dan Jordan bisa merasakan detak jantung Rara dengan tempo cepat.
“Tapi aku siap.” Lanjut Rara kemudian.
Tangan kekar itu Rara tuntun ke bawah pada benda pusakanya yang masih terbungkus rapi. Dengan senang hati Jordan menelusup dan menyentuh langsung benda terlarang Rara. Pria itu memainkan jarinya di sana cukup lama membuat Rara memejam dan mengigit bibirnya.
__ADS_1
“Keluarin aja sayang.” Bisik Jordan.
Dengan senyum sinis Jordan menarik kembali tangannya. Kini ia berusaha membuka kancing pembungkus itu, namun sayangnya ada sedikit kendala.
“Ra, ini nyangkut.” Ucap Jordan dan Rara pun menatap wajah Jordan dengan heran.
“Apanya?”
“Resletingnya seret.” Singkat Jordan.
Melihat Jordan begitu kesusahan, Rara pun turun tangan. Ternyata memang susah sekali, karena berkali-kali di coba pun gagal dan gagal lagi.
“hahahahaha.”
“Aku baru pakai 3 kali, udah hancur begitu.” Ucap Rara.
“Jelek itu. Nanti aku beliin yang lebih bagus, biar resletingnya nggak nyangkut-nyangkut.” Jordan kembali merengkuh Rara untuk melancarkan aksinya.
“Eh…mau ngapain?” Rara menahan Jordan yang hendak membuka bajunya. Apa maksudnya itu? Jordan sudah sangat ingin dan Rara lagi-lagi menghalangi, membuatnya mencebik kesal.
“Lanjutin yang tadi lah.”
__ADS_1
Meskipun sempat terjadi drama nyangkut-nyangkut tapi tidak menghentikan aktifitas yang tertunda tadi. Apa yang terjadi selanjutnya? ya, terjadilah pertempuran yang bertujuan 'bikin dede bayi ' tadi, hingga mengakibatkan terjadinya gempa bumi lokal.
.
.
Beberapa jam kemudian…
”Ssshhhh…kak Jordan bener-bener sinting. Aku jadi kayak macan tutul begini.”
Rara berdesis kala merasakan remuk di tubuhnya seraya melihat pantulan dirinya pada kaca besar saat hendak mandi. Seulas senyum muncul begitu saja membuat Rara menyentuh pelan bibirnya. Terlintas dalam kepala Rara tentang kegiatan sakralnya bersama Jordan yang membuatnya mabuk kepayang.
Plak..plak..
Rara menepuk pipinya pelan agar tidak membayangkan hal yang lebih jauh lagi. “Sadar Ra sadar, mandi dulu.”
.
.
. -To Be Continued-
__ADS_1