Terjerat Serigala Tampan

Terjerat Serigala Tampan
BAB 12. Aku Bukan Wanita Biasa


__ADS_3

Rara teringat jika ia mempunyai pekerjaan penting, siang ini ia harus menghadiri sebuah acara pernikahan, karena Rara di minta untuk menjadi photographer acara tersebut.


Setelah bersiap diri dan selesai melakukan ritual di wajahnya. Setelan modis melekat pada tubuh Rara, berbalut celana kargo dan atasan turtle neck abu-abu lengan panjang semakin manambah aura kecantikannya . Ia menggerai rambut panjangnya, demi menutupi tanda gigitan di lehernya yang sedikit mengering.


Setelah sampai di sebuah hotel tempat di mana pesta itu diselenggarakan, Rara pun segera masuk. Ia menyibukkan diri bersama rekannya untuk mengabadikan moment acara penting itu.


Tanpa di duga sosok yang Rara hindari pun juga hadir sebagai tamu undangan. Rara sekilas melihat Jordan masuk bersama dengan sahabatnya, tidak lupa mereka menggandeng pasangan masing-masing.


"Dasar playboy." Batin Rara mencebik kala melihat sosok yang dimaksud memasuki hotel.


Sang mempelai wanita yang merupakan teman dekat Jordan, meminta Rara memotret Jordan dan Victon beserta pasangan mereka saat naik ke panggung pelaminan. Betapa sebalnya ia melakukan pekerjaan itu, apalagi ia melihat wanita bergaun merah yang bergelayut manja di lengan Jordan.


“Baik,1..2..3.. “ Ucap Rara berusaha bersikap normal.


cekrekk...


...🍃🍃🍃🍃🍃...


Di sela-sela pekerjaannya, Rara tidak menyia-nyiakan diri untuk mencicipi hidangan mewah yang tersaji. Saat gadis itu hendak mengambil cake, tiba-tiba saja wanita berbalut gaun merah panjang bersama temannya mendekati Rara.


“Ehem, ini dia si gadis pansos itu!!.” Sinis wanita itu.


Rara hanya diam saja, karena ia sedang fokus pada makanan yang ada di depannya.


“Gue Celine, satu-satunya pewaris X Group Company sekaligus calon pacarnya Jordan.” Dengan sombongnya Celine mengulurkan tangan. Kali ini emosi Rara benar-benar di uji, jauh dari dalam benaknya ingin mengutuk wanita sombong itu.


"pfft, anak papa rupanya. " batin Rara tergelitik mendengar ungkapan itu.


“Rara." Singkat Rara menerima uluran tangan itu. Sayangnya, tanpa aba-aba tangan Rara di tarik paksa hingga tubuhnya kini tak berjarak.


“Lo, jauhi Jordan karena di milik gue. ” bisik Celine di telinga Rara, ingin marah tapi sia-sia saja membuang tenaga pada anak papa sepertinya.


“Banyak bicara. ” Jawab Rara balik berbisik seraya menyeringai licik. Rara berbalik arah meninggalkan wanita itu. Merasa terhina tentunya, Celine pun langsung mencari cara untuk mempermalukan Rara.


Dug...


“aww.”


Teman Celine menendang kaki Rara dengan sepatu high hills yang dipakainya. Sontak Rara pun berjongkok menahan sakitnya, wajahnya kini memerah menahan emosi dan rasa sakit itu. Tidak terima di perlakukan buruk, muncul lah tekadnya untuk membalas perbuatan dua makhluk menyebalkan itu.

__ADS_1


“ Hahaha… rasain.” Tawa mereka puas melihat Rara meringis kesakitan.


Dari jarak beberapa meter Jordan mengayunkan jari tangan kanan di balik tubuhnya. Langsung saja gelas yang berisi minuman di atas meja tumpah ke dress salah satu dari mereka, satu lagi jentikan tangan berhasil membuat Celine terjatuh.


brughhh....


"Pfft." Tawa Jordan tertahan.


“ Dasar ja**ng lo..” teriak Celine dan ia pun berjalan mendekat dan menjambak rambut Rara. Tak mau kalah Rara membalas dan menjambak rambut Celine, kini adegan tarik-menarik rambut pun tidak terelakkan.


“Akkhhh…lepas gak?” pekik Rara.


“Lo ja**ng.”


*Teman celine hanya diam terpaku menjadi tim penonton*


“Lo bukannya bantuin gue, malah diem aja…akkhhhh sakit oi." pekik Celine pada temannya seraya menarik rambut lawannya. Mereka malah jadi tontonan para tamu yang bersorak sebagai tim hore. “Ayo…lawan…lawan..!!” Sorak para tamu serempak sambil bertepuk tangan menyemangati.


“Aaaakhh."


“Stop!” Jordan mencekal tangan Celine agar terlepas dari rambut Rara, bukan hendak membela Celine, takut saja calon kekasihnya itu terluka.


“ Dia kak yang mulai!! Lepas..! Aku gak akan bales kalo dia gak mulai duluan.” Adu Rara pada Aiden. Jika sebelumnya Rara diam saja, tidak dengan kali ini. Mana mau ia di tuduh sebagai perebut, sedangkan Jordanlah yang selama ini mengejarnya.


“Gak, Jo jangan dengerin cewek kampung itu.!" Ucap Celine menunjuk-nunjuk Rara.


“Ku bilang stop! …jangan malu-maluin!. ”Tegas Jordan.


“ Ra...”Jordan dengan lembut menatap Rara, namun gadis itu hanya memalingkan wajahnya dan kemudian berlalu meninggalkan acara itu.


...𖧷𖧷𖧷𖧷...


Sore menjelang petang Rara pun pulang. Merasa telah merusak suasana acara pernikahan, jadi hanya Aiden dan Riana yang melanjutkan pekerjaan mereka.


"Huuhhh, semua jadi berantakan.” Gumam Rara kesal saat menunggu di halte bus.


Wushhhhhhh…


Beberapa saat lalu masih di dalam gedung, dengan jentikan jari saja Jordan sudah berdiri di samping Rara dan tidak peduli jika Victon mencarinya.

__ADS_1


“Nunggu angkot neng?” Celetuk Jordan berusaha melucu. Rara terkejut bukan kepalang saat melihat Jordan muncul tiba-tiba


"K...kau…kau.. kok bisa?” Rara tergagap dan menunjuk-nunjuk Jordan dengan matanya yang membola.


“Ra, kita bicara sebentar ya, please ?”


“Pergi Jo, kumohon jangan temui aku lagi. ” Ucap Rara lirih seraya berusaha mundur menjauh.


“Dengerin penjelasanku dulu Ra. Maaf …tolong maafin sikap brengsek ku." Jordan mendekat memegang lembut pundak Rara, namun gadis itu menepis tangannya. Tin.... Rara lega sekali kala bus jemputannya datang di waktu yang pas. “Aku harus pergi."


Rara pun berjalan masuk bus itu, di ikuti beberapa penumpang yang turun.Tepat sebelum Rara menginjak tangga bus, Jordan mencekal tangan Rara kemudian menjentikkan jarinya lagi.


Wushhh…


Kini keduanya berada di sebuah batu besar di ujung tebing tepi laut. “ Akkkhhhhh." Rara memekik saat sadar dirinya berada di tempat yang ekstrem. Dengan refleks ia memeluk pria di sampingnya, persetan dengan rasa malu dirinya benar-benar ketakutan saat ini.


"Ra, maaf."


Tidak ada jawaban, kini Rara masih bingung bagaimana cara mereka berpindah tempat. Sempat menolak, nyatanya Rara kini nyaman berada dalam dekapan Jordan di tambah aroma maskulin pria itu yang memabukkan indra penciuman nya.


“Lepas Jo. "


“ Ra…apa aku udah di maafin? ” tanya Jordan seraya melonggarkan pelukannya. Ia teringat pesan keramat sahabatnya jika dirinya harus lebih sabar dan jangan memaksa. Walaupun ia tidak sesabar itu orangnya.


“i...ni...ini… kamu makhluk apa? ” Di tanya apa jawabnya apa, itu lah Rara yang membuat Jordan terkekeh mendengarnya.


“Hahahaha….Ra kamu imut banget.”


“A..apa? jawab! atau jangan-jangan kamu pelahap maut?” tanya Rara lagi. Tiba-tiba saja Rara terbayang film fantasi yang sering ia tonton. Jordan masih tertawa sambil mencubiti pipi Rara yang sedikit gembul itu.


.


.


.


.


.

__ADS_1


to be continued...


__ADS_2