Terjerat Serigala Tampan

Terjerat Serigala Tampan
BAB. 61 Putri Tidur


__ADS_3

...HAPPY READING!!...


1.00 PM, Perpustakaan Pribadi Jordan


Di sebuah ruangan dengan cahaya temaram, rak-rak kayu yang menjulang tinggi dengan ukiran klasik dan setiap rongganya di penuhi dengan berbagai macam buku, mulai dari yang kuno hingga yang terbaru. Ratusan buku tersebut menyimpan berbagai informasi penting, bahkan silsilah tentang manusia serigala pun ada. Tetapi bukan itu, Jordan berada di dalam sana karena ingin mencari informasi lain. Ia sangat penasaran apa penyebab dari perubahan sikap Rara beberapa saat lalu.


“Per….mata …dimana buku itu? Permata Kuno, yes ini dia!”


Jari tangan Jordan berhenti tepat pada satu buku tebal dengan sampul kulit berwarna cokelat tua yang sedikit usang. Sraakk…. satu per satu Jordan membalik halaman buku itu, tepat pada judul bertuliskan ‘Permata Amethyst’ langsung saja Jordan membaca dengan teliti.


“….manfaat penyembuhan, selain untuk tubuh juga berkhasiat bagi penyembuhan mental dan emosional? Mampu membuka mata ketiga dan mempertajam penglihatan spiritual manusia. Apa maksudnya?”


Jordan tidak puas dengan penjelasan isi buku itu. Ia bahkan masih tidak tahu dimana letak keberadaan permata itu di tubuh Rara. Hal yang di pertanyakan , apakah Rara pemilik asli atau pemilik singgah. Jika Rara adalah pemilik singgah berarti pemilik asli sudah tiada, maka dari itu permata amethyst berpindah tuan.


“Efek samping? God….buku yang sangat membantu arrrggghhhhh!!” itu hiperbola, Jordan benar-benar geram karena tidak mendapat informasi yang lebih detailnya. Buku itu ternyata tidaklah lengkap, karena meskipun ia membaca hingga beberapa halaman nyatanya tidak menemukan informasi yang di inginkan.


“What is this?” Jordan menemukan satu halaman pada materi itu yang hilang dan robek entah di mana. Bisa jadi pada halaman itu terdapat rahasia penting yang Jordan butuhkan.

__ADS_1


Drrttt….drrtt…


“ Ada apa?! jangan ganggu aku dulu Max!” Ketus Jordan seraya menutup bukunya cukup kuat.


“Tuan!! Kita apakan mereka?”


“Siapa? Bicara yang jelas Max! kau tahu aku tidak suka bertele-tele.”


“Para tikus-tikus darat itu tentu saja, siapa lagi?”


”Semudah itu? Kau yakin?” Jordan sedikit ragu dengan perkataan Maxton. Biasanya penyusup seperti mereka adalah orang-orang terlatih, tidak mungkin semudah itu tertangkap. “Bawa mereka ke markas segera!!”


“Tunggu!! Ada berapa orang yang tertangkap?” Jordan teringat dengan informasi dari Victon pagi tadi, jika ada tiga orang yang berusaha mencari informasi tentangnya. Jika sampai lengah, Jordan takut hal yang lebih buruk terjadi.


“Dua.” Ucap Maxton pelan. Celaka…! Ini pengalihan perhatian, Jordan sangat terkejut hingga tanpa berpikir ia langsung menghilang dengan cepatnya. Wusshhhhh…. dalam 2 detik saja Jordan sudah berada di kamar. Melihat Rara masih ada, secepat itu Jordan kembali tenang padahal beberapa saat lalu darahnya seakan runtuh semua.


“Total ada tiga, cari yang satunya sampai ketemu!!”

__ADS_1


Pip… Jordan menutup panggilan itu dan segera menghampiri Rara yang masih memejam. Pria itu menghela napas berulang kali, ini sudah 2 jam tapi Rara tak kunjung sadar dari pingsannya. Suhu tubuh dan napasnya pun normal setelah Jordan memeriksanya kembali. Apa benar ini efek samping? Tapi permata itu sudah lama mengendap di tubuh Rara, lantas kenapa efek sampingnya baru timbul sekarang? Pikir Jordan.


Jordan merebahkan tubuhnya di samping Rara seraya menatap lekat wajah itu. Sejujurnya ia bingung ingin berbuat apa, tidak mungkin ia membawa dokter karena kondisi Rara bukan penyakit yang bisa di diagnosa alat medis. Terlebih, mengingat apa yang keduanya lakukan beberapa saat lalu, itu tidak bisa menjadi alasan.


“Rara bangun dong sayang.”


Jordan mengusap pelan rambut Rara yang masih tampak tenang. Tidurnya bahkan lebih tenang daripada biasanya, hingga Jordan sempat berpikir jika Rara terkena kutukan putri tidur, ada-ada saja. Jika dalam kisah dongeng itu, sang putri bisa sadar saat di cium oleh pangeran kodok. Saat ini Jordan bahkan rela memerankan pangeran kodok itu dengan melabuhkan beberapa ciuman, namun nyatanya Rara masih tidak bangun.


Cup…cup…cup… itulah liciknya Jordan, ia memang hanya kecanduan ciuman alih-alih berperan jadi pangeran kodok.


“Kalau nggak bangun habis nih pipi, hmm?” Kasihan sekali pipi gembul Rara yang menjadi korban pelecehan bibir mesum Jordan.


.


.


.

__ADS_1


to be continued


Hai Hai, maaf ya akhir-akhir ini jadi jarang update krena othor ada kesibukan lain. makasih untuk dukungannya 😚😚😇😇


__ADS_2