Terjerat Serigala Tampan

Terjerat Serigala Tampan
BAB. 71 Sama-sama Dewasa


__ADS_3

“Aku nggak salah dengar kan?”


Batin Valerie seraya menatap lekat pria matang itu. Entah ragu karena apa, intinya pikiran Valerie selalu menjadi rumit setiap kali Victon mengungkapkan sesuatu. Hati dan pikiran Valerie sedang tidak sinkron, susah payah Valerie menelan ludahnya kala matanya menelusuri wajah tampan Victon. Valerie yang masih membisu, membuat Victon takut kalau-kalau gadis itu ketempelan jin tomang.


Apalagi mengingat lahan yang di sewa untuk taman bermain ini adalah tanah kosong yang sering terjadi tindak kriminal maupun pembunuhan. “Are you okay?” Victon mendekatkan wajah tampannya hingga tak sadar jika keduanya sedekat itu. Berkali-kali pria itu menggoyang tubuh Valerie, barulah gadis itu sadar.


“Hah? iya.”


Valerie mengerjapkan matanya dengan wajahnya yang bersemu merah, tidak sia-sia usaha Victon karena bisa melihat sisi imut gadis tomboy itu.


“Ke tempat sepi yuk?” Ambigu sekali, sontak Valerie memundurkan langkahnya saat Victon berbisik di telinganya. Di jarak sedekat itu, Valerie bisa melihat rahang tegas dan jakun Victon yang naik-turun, omg itu seksi sekali.


“Jangan aneh-aneh.” Valerie mendelik dan pukulan ringan mendarat di dada Victon.


Bukannya menjaga jarak, pria itu malah semakin mendekat dengan senyum penuh artinya hingga napasnya amat terasa di wajah Valerie. Ayolah, ini tempat umum dan banyak sekali orang, tidak mungkin pria itu nekat sekali. Victon jadi ingin menggodanya lebih, ia penasaran dengan reaksi seorang gadis tomboy jika malu-malu. Ingin sekali Victon membuat Valerie terperangkap dalam pesonanya yang paripurna tanpa celah itu.


“Fantasimu terlalu jauh, but…mau coba? Toh kita emang pacaran....yah meski pura-pura sih.”


Victon menggedikkan bahu seolah-olah itu bukanlah masalah, padahal jantung Valerie saat ini sedang menunggu waktu yang tepat untuk meledak.


“Dasar perkedel tempe.” Ketus Valerie.


Victon terkekeh melihat Valerie buru-buru menjauh, dan baru beberapa langkah gadis itu berbalik badan seraya menjulurkan lidahnya mengejek “weekkk.”


“Bisa gila beneran gue.” Gumam Victon tersenyum seraya menggeleng pelan.

__ADS_1


.


.


.


Tidak terasa jika malam semakin larut, akhirnya mereka memutuskan untuk pulang. Di dalam mobil, Rara mencoba menelpon sahabatnya namun tidak ada respon, padahal ia sudah menunggu di mobil sejak 30 menit lalu.


“kemana sih?” Gumam Rara tidak tenang, hingga Jordan yang baru masuk seraya membawa minuman dingin dan camilan pun tidak di hiraukan olehnya.


“Kenapa?” tanya Jordan seraya memasang selbeltnya. “Tunggu dulu!! Valerie nggak tau kemana, nanti dia pulang bareng siapa?” Rara menatap Jordan memelas, jika ia datang dengan Valerie maka pulang pun harus begitu. Semua aman saja sebenarnya, karena Jordan mendapat chat dari Victon jika gadis tomboy itu bersamanya jadi ia pun tidak secemas itu.


“Ada Victon. Lagipula mereka udah duluan Ra.”


“Mereka udah dewasa dan punya urusan masing-masing. Lebih baik kita nggak ikut campur.”


Tangan Jordan mengusap lembut pipi Rara dan berusaha memberi pengertian agar tidak perlu secemas itu. Ia sudah selembut itu, tapi Rara masih saja cemberut. Ini kan moment bahagia untuk keduanya dan Jordan tidak suka jika pikiran Rara sekalut itu karena hal-hal lain.


“Kamu kenapa? PMS atau gimana?” Jordan menyeruput minuman dingin itu dan yang satunya ia tempelkan di pipi Rara. Cess… anggap saja Jordan sedang mencoba memadamkan gejolak api yang membuat Rara uring-uringan tidak jelas. Rara tidak kesal ataupun marah, ia juga tidak tahu mengapa dirinya sangat emosional hari ini. Rara sendiri juga heran, kenapa ia semudah itu kesal, marah dan menangis hingga sesenggukan. Ketahuilah, Rara tidak secengeng itu biasanya.


Ceklek…


Jordan merendahkan jok yang di duduki Rara agar gadis itu bisa nyaman rebahan selama di perjalanan. Tentu saja terkejut, Rara menautkan alisnya bertanya-tanya apa yang kekasihnya itu hendak lakukan.


“Tidur aja ya, biar nanti kalo bangun emosinya udah reda.”

__ADS_1


“Orang nggak ngantuk juga.” Jordan mengulas senyum dengan jawaban ketus Rara. “Tarik napas hembuskan…iya begitu. Sekarang coba merem.” Bahkan pria itu memberi aba-aba persis seperti ibu mau melahirkan, lagi-dan lagi ia memaksa Rara untuk menutup mata dengan tangannya. Entah kenapa Rara jadi curiga, kenapa sejak tadi Jordan menyuruhnya untuk tidur padahal Rara tidak ingin.


“Hihihi…dia pasti mau ambil kesempatan pas kamu tidur. Kecup-kecup manjah, atau mungkin dia mau biiippp…dan bipp….satu lagi biiipp..hehehe.” Rara versi iblis berusaha meracuni pikirannya.


“No!! Rara kamu anak baik, ingat kata ayah untuk selalu jaga batasan. Pokoknya nggak boleh!!.” Rara versi malaikat berusaha menengahi.


“Alah, nggak usah sok polos Rara…. padahal kamu suka kan? Hihihi.”


Rara menjadi geli dengan perdebatan pikirannya hingga ia menggeleng pelan. Pletak… Jordan menyentil kening Rara yang melamun dengan pikiran konyolnya. Ia bisa tahu pemikiran konyol Rara sejak awal, dan untuk kali ini Jordan tidak menyangka jika Rara sudah terkontaminasi.


“Jangan ngeresss pikirannya, aku nggak semesum itu sayang.”


“A…apa? aku eng...gak kok?” Rara berusaha mengelak, namun Jordan sudah terlanjur menangkap basah Rara yang tergagap dan itu semakin membenarkan ucapan Jordan.


“Masa? Itu sampai gagap-gagap gitu.”


Jordan kini malah mengejek Rara yang sudah memerah seraya menutup wajah dengan kedua tangannya.


.


.


.


to be continued.

__ADS_1


__ADS_2