Terjerat Serigala Tampan

Terjerat Serigala Tampan
BAB. 50 Di Akui Sebagai Menantu


__ADS_3

“iiihhh….om ngapain sih?” pekik Diko kesal.


Pagi itu, tidak sengaja Jordan menabrak pria kecil saat keluar kamar. Niatnya ingin mengambil air minum karena tenggorokannya sangat kering, malah terjadi drama kecil yang membuat Jordan mengurut pangkal hidungnya. Menyadari kesalahannya, Jordan pun berjongkok menjajarkan diri dengan tinggi Diko yang baru habis mandi hendak pergi sekolah.


“Maaf ya adik manis.”Ucap Jordan seraya mengacak rambut Diko yang basah.


“Bukan adik manis, aku jantan!!.” Dengan suara lantangnya Diko berkacak pinggang dan mengarahkan ekspresi permusuhan ke Jordan. “ Oke…oke adik jantan, yang imut.” Jawab Jordan terkekeh seraya mencubit hidung adik kecil itu.


“Didi nggak sopan itu namanya…..jangan teriak-teriak.” Ucap Rara yang baru muncul dari luar seraya membawa sayuran dan beberapa jajanan.


Anggap aja pakai piyama hehe😁😁😁



Jordan pun menoleh dan tersenyum melihat tampilan polos khas bangun tidur Rara. "Dia keluar dengan penampilan begitu?" batin Jordan bertanya-tanya, heran saja karena Rara mengenakan piyama dengan rambut di cepol berantakan, meski itu tetap terlihat cantik.


“Aku gak suka, om ini pasti mau bawa mba Rara pergi.”


“Panggil mas jangan om!!” Ucap Rara menonyor kening adiknya.


“Apa aku terlihat tua?” tanya Jordan pada Diko.


“iya, ayah bilang om mau culik mba Rara. Aku gak mau mba Rara pergi sama om jahat.”


“Mana ada? Ini mba Rara nya masih di sini. Kalo aku jadi mas nya Diko mau gak?” Ucap Jordan lembut seperti ayah yang sedang membujuk anaknya.

__ADS_1


“Gakk!! mba Rara cuma boleh sama aku.”


Pfftt…. Rara berusaha menahan tawanya melihat adegan perebutan hak milik atas dirinya. Lucu sekali, hingga beberapa saat kemudian pertengkaran kecil itu masih berlanjut, dan akhirnya Diko merengek hampir menangis karena handuknya sedikit lagi melorot. Rara pun hanya diam menonton kala Jordan berusaha menenangkan sang adik.


“ Kok nangis? Sssshhhhh……jangan nangis ya. Nanti mas anter pakai mobil itu, sekalian jalan-jalan mau gak?” Ucap Jordan seraya mengusap air mata Diko.


“Boleh?” Tanya Diko dan di angguki Jordan.


Hebatnya Diko berhasil di luluhkan hanya dengan iming-iming naik mobil. Ibu Ayu yang menyaksikan itu pun hanya menggelengkan kepala dengan tingkah usil anak lakinya.


Sesuai dengan janjinya tadi, Jordan pun mengantar sang adik ke sekolah dengan mobil miliknya dan tak ketinggalan Rara mengekori mereka.


.


.


“Apa kamu kesal? Ayah dan adikku sangat menyebalkan soalnya.” Tanya Rara seraya memasukkan cemilan di toples ke mulutnya.


“Nggak kok, kalian menyenangkan.” Jordan menatap sayu Rara, tampak sekali kesedihan di wajah pria itu.


Rara pun menghela napasnya pelan, apa mungkin ia salah ucap lagi hingga Jordan menjadi sedih. Detik selanjutnya, Jordan mendekat kemudian melahap camilan yang di pegang Rara saat gadis itu hendak melahap. Hauphhh..


Gleg...Rara tertegun kala tangannya tidak sengaja menyentuh bibir Jordan yang sedikit basah menimbulkan perasaan aneh yang kian bercampur aduk. Masih saling mengunyah, keduanya bertatapan dalam diam di ikuti detak jantung yang kian cepat. Hingga pak Winarto tiba-tiba muncul dengan seragam dinas coklat khusus pengurus desa, menyadarkan kedua manusia itu.


“Ehemmm. Jordan! ayo ikut ayah ke kantor, sekalian keliling kampung.” Ucap pak Winarto dengan wajah tegasnya.

__ADS_1


“I…iya ayah.”


Ayah? entah sejak kapan panggilan itu terdengar luwes di lidah Jordan, mungkin saja pak Winarto yang kerap membimbingnya begitu hingga tanpa sadar Jordan terbiasa. Jordan pun mengangguk pelan, anggap saja ia sedang manjalani training di hari kedua. Memang benar, training sebagai kandidat menantu pak kepala desa.


“Semangat ya!! Kalau lolos, kamu boleh minta hadiah apapun dariku.” Bisik Rara seraya menyumpal camilan itu ke mulut Jordan. Rara hanya terkekeh melihat wajah pias Jordan karena gugup.


...❀❀❀❀...


Seperti hari sebelumnya, Jordan merasakan kesulitan tapi bedanya hari ini lebih baik. Sejak pagi Jordan di ajak pak Winarto berkeliling desa dan menjadi supir pribadi. Hal tak terduga adalah ketika pak Winarto memperkenalkan Jordan sebagai menantunya pada beberapa warga desa.


“Siapa ini pak Win? duh gantengnya..” Tanya ibu-ibu penjual beras.


“Ini calon menantu saya hahaha.” Dengan bangganya pak Winarto memperkenalkan Jordan. Padahal sebelumnya belum ada kejelasan, lalu apa itu berarti ia lolos uji? pikir Jordan menerka.


“Loh udah ada calonnya toh? Padahal saya mau daftarin anak bungsu saya, yahhh.” Terlihat wajah kecewa wanita paruh baya itu. Dikiranya pak Winarto membuka sayembara cari menantu kali, untuk apa berharap begitu.


Niat awal ingin survei pasar, tapi setelah di ingat jika stock beras di rumah hampir habis pada akhirnya pak Winarto membeli beras sekalian. Tidak tanggung-tanggung, 5 karung beras di beli lalu menyuruh Jordan untuk memanggulnya.


“hmmmm, kesabaran …gigih…..dan tangguh. Memang cocok jadi menantuku.” Batin pak Winarto kini memerhatikan Jordan yang sedang mengangkut karung beras ke dalam mobil.


.


.


.

__ADS_1


tbc.


semangat calon mantu pak kades😁😁😁😁


__ADS_2