Terjerat Serigala Tampan

Terjerat Serigala Tampan
BAB. 100 Rapuh (Jordan)


__ADS_3

Di sebuah ruangan khusus, atmosfer berubah dingin tiba-tiba. Tatapan Jordan dan pria paruh baya itu sama tajamnya. Sedikitpun Rara tidak mengerti dan harus berbuat apa. Ia merasakan tangannya semakin di remas oleh Jordan hingga Rara sedikit tercekat.


"Hampir 8 tahun baru kita bisa berbicara lagi. Jika saja kami tidak datang kemari, mungkin tidak akan pernah bertemu. Kami ini masih orang tuamu Leo!!” Ucap David penuh penekanan.


“Leo, mommy sangat merindukanmu, pulanglah nak.”


Nyonya Mayleen berusaha meyakinkan putra bungsunya itu. Perbedaan jarak dan waktu selama ini, terlebih lagi Jordan pergi begitu saja tanpa penjelasan apapun selama bertahun-tahun lamanya membuat rasa rindu dan sepi itu begitu berat.


“Kalian selama ini mengawasiku? mom-dad, aku tidak akan pernah kembali ke keluarga itu lagi. Tolong kalian kembalilah, aku sudah sangat bahagia dengan kehidupanku sekarang.”


“Kami tahu alasanmu pergi nak. Jangan begini ….maafkan mommy!”


Suara sang mama bergetar, membuat Jordan hampir melunak. Tangan Jordan di tahan oleh Mayleen saat hendak ingin beranjak pergi. Sementara Rara hanya diam membisu karena situasi saat ini begitu membingungkan. Mau bicara, Rara takut jika semakin memperkeruh keadaan.


Sesak rasanya. Jordan berusaha menata hati dan pikirannya. Mereka tidak bersalah dan semua ini Jordan lakukan demi kebaikan semuanya. Setelah di ketahui bahwa Jordan adalah pewaris satu-satunya yang di tentukan oleh para pendahulu, banyak yang mengincar nyawanya. Kedua orang tua kandung Jordan menjadi korban saat berusaha melindunginya. Pada dasarnya tidak ada yang ingin Jordan kembali dan Jordan pun berpikir hal yang sama.


“Aku ingin kalian tidak mengusik hidupku lagi, please mom-dad.”


Plak…

__ADS_1


“Jaga ucapanmu!!” Tegas David penuh amarah dan menekankan tiap kata-katanya.


Cukup lama David menahan dan kini sudah tak terbendung lagi. Tamparan cukup kuat itu berhasil mendarat di pipi Jordan membuatnya semakin kelu. Jordan tersenyum sinis, sebelum akhirnya segera mengajak Rara pergi dari sana. Panas di pipi itu tidak seberapa dengan luka sayatan di hatinya, perih sekali.


Jordan tahu ucapannya sangat keterlaluan, tapi ia harus egois. Ia tidak mau ada yang terluka lagi karena dirinya, hanya karena posisi pewaris yang tak pernah di inginkannya.


...𖧷𖧷𖧷𖧷...


Kini, Jordan melajukan mobilnya tanpa tujuan sama sekali. Mobilnya melaju dengan kecepatan sedang dan memecah hiruk pikuk keramaian jalan raya siang itu. Genggaman tangan Rara cukup menenangkan meski keduanya masih saling diam. Sedikit demi sedikit Jordan tersenyum tipis agar Rara tidak terlalu cemas, ia tidak mau menunjukkan sisi lemahnya di hadapan Rara.


“Aku selalu di sisimu, kamu nggak sendiri.” Ucap Rara lembut dan di angguki oleh Jordan.


“Fokus nyetirnya.” Rara sedikit ketar-ketir karena Jordan menatapnya terus padahal mobil masih melaju. Belum lama Rara berucap, Jordan segera menepi.


“Pak saya titip mobil sebentar ya, sekalian cuci deh” Ucap Jordan pada salah satu petugas steam mobil.


“Iya pak.”


Tangan Rara di tarik menuju tempat sepi. Setelah memastikan tidak ada orang yang melintas, Jordan menjentikkan jarinya dan ….

__ADS_1


Wushhhhh….


Angin berhembus sangat kencang di tempat yang tidak asing bagi Rara. “Di sini?” Rara bingung, kenapa Jordan membawanya kemari. Tebing batu di tepi laut yang semula menjadi tempat keduanya saling berselisih. Ini tempat berkesan bagi Jordan, setiap kali ia merenung, sedih ataupun bahagia tempat ini menjadi saksinya.


“Aku suka di sini. Sepi, pemandangannya indah dan anginnya sangat menenangkan.”


Jordan melepas kaitan tangannya dan melangkah ke tepi tebing seraya memejam. Ia merentangkan tangannya dan merasakan angin sepoi-sepoi leluasa menembus tubuhnya. Biarlah lepas semua pikiran yang berkecamuk dalam dirinya, jika perlu menghilang di bawa angin sekalian. Hal itu justru terlihat lucu bagi Rara hingga ia terkekeh karena Jordan begitu menggemaskan.


Rara pun mendekat. Ia ingin memberi kekuatan dan juga menjadi sandaran bagi Jordan. Saat ini pria itu membutuhkannya, sebuah pelukan dengan penuh kehangatan. Rara membalik tubuh Jordan agar berhadapan lalu segera merengkuhnya begitu erat. Jordan pun membalasnya begitu erat, dan sesekali ia mengecup pucuk kepala Rara.


“Menangislah, jangan di tahan.” Ucap Rara seraya mengusap pelan punggung Jordan. Ia merasakan tubuh kekar itu bergetar, dan benar saja jika Jordan sedang meluruhkan air matanya.


“Jangan pernah tinggalin aku, Ra.” Ucap Jordan lirih di tengah derai air matanya yang berjatuhan.


.


.


.

__ADS_1


_To Be Continued_


__ADS_2