
Mobil bergoyang tampak dari luar hingga beberapa pengawal dan penjaga rumah tereksplor pikirannya. Majikannya sudah tiba sejak tadi dan hingga kini hampir 1 jam masih belum keluar juga. Hendak bertanya, tapi tidak ada yang berani. Setelah gempa lokal terjadi pada mobil sport itu, terjawab sudah rasa penasaran semua orang di sana.
“Gila si Boss!! Apa nggak bisa di tahan dulu sampai masuk rumah gitu? ck..ck..” Ucap salah satu pria berperawakan gagah di sana.
“Godaan nyonya lebih kuat.”
Dua pria itu di tugaskan menjaga pintu depan dan bisa dengan jelas melihat keadaan sekitarnya. Sementara itu, pasangan tidak ada aturan itu masih bersenang-senang. Mungkin tidak terdengar sampai di luar sana, tapi suara astral begitu memenuhi ruang sempit di dalam mobil itu.
“Sh**t, sayang kamu benar-benar.. pip…pip…dan pip.”
*sensor ya 🤭*
“iihh, ngomongnya.” Rara menepuk pelan mulut Jordan yang tak berfilter itu. “Udah dong kak, apa kata dunia kalo kita masih begini? di luar sana banyak orang..... sssshhh.” Bingung saja, Rara hendak menolak tapi sentuhan Jordan seakan membuatnya lupa akan dunia.
“Peduli amad, emang dunia bisa protes apa?”
“Masih marah?” tanya Rara
Jordan menatap lekat wajah penuh peluh itu dan berhenti sejenak. “Aku cemburu Ra, sakit sumpah.” Jordan berucap lirih seraya membenamkan wajahnya di leher Rara. Kerasukan apa sebenarnya, Jordan pun tidak mengerti. Semenjak Rara hamil, Jordan selalu berhati-hati karena takut melukai sang buah hati. Bahkan ia rela tidak menyalurkan keinginannya meski Rara selalu bersedia untuk membantunya.
Hari ini, dinding kokoh itu runtuh begitu saja karena ngidam Rara yang cukup ekstrem. “Maaf. Kedepannya aku nggak akan minta aneh-aneh lagi.” Ucap Rara seraya menyisir rambut belakang pria tampan yang notabene-nya suami sendiri itu. Bingung juga, keinginannya kadang tidak bisa mendapat penolakan sedikit pun. Rara juga sadar jika semua itu cukup menguji ulang hati dan pikiran Jordan.
__ADS_1
“Jangan di tahan sayang. Aku bisa turutin kalau ngidamnya seputar makanan. Mana mungkin ku biarin anakku nanti ileran.”
“Empphhh.”
Rara memejam dan memekik tertahan kala Jordan menarik tusukannya perlahan. Rasanya cukup puas Jordan berpesta ria atas tubuh istrinya. Pria itu pun membenarkan pakaiannya yang begitu berantakan.
“Thanks honey. Maaf aku sedikit kasar, kamu nggak apa-apa kan?” Jordan menatap Rara yang sedikit kesulitan.
“Iya baik-baik aja.” jawab Rara pelan.
“Sini aku bantuin.”
“Nggak usah.” Tolak Rara dengan tegas.
Setelah semua siap keduanya pun keluar dengan Rara yang berada dalam gendongan Jordan. Katanya sih malu, Rara tidak sanggup jika nanti terlihat seperti bebek di depan pengurus rumahnya.
“Sudah selesai tuan?.” Tanya Maxton dengan wajah jahilnya.
“Ehem.” Jordan berdehem sebagai jawaban, sementara Rara hanya bisa bersembunyi di dada bidang suaminya karena sudah semerah tomat wajahnya itu.
.
__ADS_1
.
30 menit kemudian…
“Kita pergi sekarang!!.” Jordan sudah rapi setelah membersihkan diri. Wajahnya terlihat sumringah dan Maxton paham apa sebabnya. Rambut Jordan masih belum kering dan tanda-tanda kepemilikan sedikit terlihat di leher pria itu membuat Maxton tidak tahan untuk menggodanya.
“Habis dapat jackpot boss?”
“hmm.”
“Wuihhhhh, berapa banyak?”
Jordan menatap horror seraya menggulung lengan kemejanya. “Bicara lagi, ku sumpal mulutmu pakai bogem ku ini.”
“Beri ilmunya sedikit lah boss, saya juga mau kawin.” Seloroh Maxton dan berhasil membuat mendelik.
“Nikah dulu Max, sisanya baru terserah. Lagipula, memang calonnya udah ada?” Sambil menyeringai Jordan meninggalkan Maxton yang sedang tertusuk belati akibat ucapannya tadi. Sangat jleb sekali.
.
.
__ADS_1
.
-To Be Continued-