
...BAB. 1...
Kisah ini bermula dari seorang gadis bernama Valerie Anindira yang memiliki sejarah kelam dalam hidupnya. 6 tahun lalu ia harus menelan pilu akibat pengkhianatan sang kekasih.
Di saat yang sama ia harus kembali menerima kenyataan pahit kala sang mama pergi meninggalkannya. Semua benar-benar hancur , karena hadirnya orang ketiga. Kisah asmara dan kebahagiaan keluarganya di renggut bersamaan, sangat tragis.
Valerie benar-benar hancur sehancur-hancurnya. Luka di hatinya begitu dalam hingga air mata saja sudah tak mampu mengekspresikan seberapa kalutnya ia kala itu.
Ada satu titik di mana Valerie ingin menyerah dan mengakhiri semua. Namun, gagal karena Tuhan berkehendak lain. Ia tidak terlalu ingat motivasi apa yang membuatnya bertahan hingga sekarang.
Pencapaian ada di balik pengorbanan. Semuanya berubah kala Valerie yang periang dan murah senyum, kini menjadi sosok yang tangguh dan begitu dingin.
11 PM, Jakarta.
“Toloooonggg!!”
Teriakan itu cukup memekikkan telinga membuat Valerie menoleh seketika. Jalan sepi di sana cukup menjadi saksi dari banyaknya kasus kriminal yang sering terjadi. Valerie yang baru selesai latihan kebetulan melintasi area itu.
“Ck, males.... tapi kasihan.”
Masih berhenti di tempat, tatapannya mengarah pada sebuah lorong sepi dan gelap dimana arah suara itu berasal. Ingin mengabaikan, tapi jiwa kemanusiaannya seakan menolak. Akhirnya, Valerie pun memilih untuk menjadi pahlawan kemalaman lagi dan lagi.
Bugh…bugh…
Entah sejak kapan, Valerie sudah secepat itu mengeksekusi para pria bejat itu. “Bang**t, boleh juga tenaga lo.!” Ucap salah satu dari pria preman itu seraya menahan nyeri di kakinya.
__ADS_1
“Aduh neng, mending main sama kita aja yuk.”
Benci sekali, kalimat itu membuat Valerie serasa akan muntah. “Lari!!” pekik Valerie kemudian menarik tangan gadis yang tampak amburadul itu. Lebih baik cari aman, meski sebenarnya mudah bagi Valerie untuk meringkus para preman itu.
Melewati lorong demi lorong di antara bangunan-bangunan dengan cahaya temaram. Namun, langkahnya sedikit kesulitan karena jalanan yang licin habis hujan.
srasshhhhh....
Sialnya lagi, hari ini Valerie tidak membawa choco si motor kesayangannya, nasib oh nasib. Meski tak jarang menghadapi situasi macam ini, setidaknya ia tak harus serepot ini. Jika berlari sendiri, pasti akan lebih mudah. Sayangnya, gadis yang di tolongnya ini bukanlah seorang pelari handal.
"Mereka masih ngejar? gila!!" gumam Valerie sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan. Tanpa sadar, kini mereka sampai di persimpangan jalan. Napasnya keduanya terengah-engah di sertai keringat yang mengucur.
ciitttt...
Tiba-tiba, sebuah mobil hitam berhenti menghadang dan seseorang manarik paksa dua gadis itu kedalam mobil. “Siapa?!" Valerie terhenyak seraya menahan tangannya.
“Masuk!!”
"adohh, santai dong!!" pekik Valerie.
“Bisa geser nggak? Sempit tau.” Celetuk Jordan yang menyusul terakhir.
“Lo ngapain duduk di belakang sih Jo? depan kan ada.” Bagaimana Victon tidak marah. Masalahnya 4 orang memenuhi jok belakang, padahal masih ada satu kursi di depan.
“Terlanjur, tadi nggak sempet.” Jordan menjawab dengan santai tanpa peduli sekesal apa Victon saat ini.
Akhirnya mereka pun bertahan dengan posisi saling berdesakkan. Namun, Valerie paling risih disini. Ia duduk berdempetan dengan Victon membuat tubuhnya menjadi tegang seketika.
__ADS_1
“Emm, kalian kok bisa di kejar-kejar preman gitu?” Jordan melirik ke arah Valerie yang hanya fokus menatap ke depan. “Bukan aku, tapi dia. Aku cuma membantunya.” Jawab Valerie.
.
.
.
.
Beberapa menit pun berlalu. Tanpa pembicaraan apapun, tidak terasa mobil sudah berhenti di depan kos Valerie. “Kita perlu bicara empat mata.” Ucap Victon dengan suara beratnya seraya menatap Valerie yang setia memalingkan wajahnya.
“Makasih tumpangannya. Sayangnya nggak ada yang perlu di bicarain.”
"Tumpangan? dia pikir gue ojol apa gimana?" Jawaban itu membuat Victon meremang seketika. Pria itu pun menyuruh semua orang keluar dari mobil agar ia bisa lebih leluasa menghadapi gadis yang tengah menguji kesabarannya ini.
“Val? Mau sampai kapan kamu begini? Jangan menghindariku terus-terusan.”
“Lepas dulu bisa nggak?” Tatapan Valerie semakin tajam kala Victon mencekal tangannya.
“Nggak, jawab dulu.”
Terdengar helaan napas, namun tidak berniat untuk memberi sebuah jawaban. Victon tidak akan menyerah begitu saja. Ini tidak adil karena ia tidak tahu alasan mengapa gadis itu selalu menjauh. Setiap kali di ajak bicara baik-baik pasti Valerie selalu enggan membahasnya.
“Kalau nggak ada kejadian tadi, kamu pasti nggak mau ketemu sama aku kan?”
“Apa itu penting sekarang?” Nadanya terdengar ketus, namun Victon bisa merasakan tangan Valerie bergetar. "Dia benar-benar!!" Sebenarnya, apa yang membuat gadis itu begitu membencinya? Victon masih belum bisa memecahkan teka-teki itu.
__ADS_1
.
Yuk mampir di karya othor yg baru🤗🤗