
Valerie keluar dari ruangan itu dengan perasaan cemas, bagaimana ia bisa menghadapi Victon kedepannya?. Dengan langkah buru-buru Valerie meninggalkan gedung perusahaan Victon. Gadis itu membawa Choco menelusuri jalan raya yang sedikit lebih sepi di banding tadi siang. Berurusan dengan pria kaya adalah hal yang sangat merepotkan bagi seorang Valerie, itu lah kenapa ia selalu menghidari mereka.
Setelah setengah jam perjalanan, kini Choco mendaratkan dirinya di depan kos. Valerie terkejut mendapati mobil mewah Rolls-Roice Boat Tail terparkir di pinggir jalan depan gerbang kos nya. Hendak mengabaikan, namun tidak bisa saat melihat sang pemilik mobil keluar.
“ Dia kok tau alamatku? duh...gimana nih?” Valerie bermonolog sendiri seraya memalingkan wajahnya. Ia berusaha sembunyi dengan berjalan menunduk dan melewati tiang-tiang jemuran. “Dia nggak lihat….nggak lihat….jangan lihat kesini.” Gumam Valerie sibuk mengendap-endap persis seperti maling. Betapa senangnya Valerie karena ia berhasil lolos dan sampai tepat di depan pintu kos nya yang berada di lantai dua, sayangnya ia tidak menyadari seseorang telah berdiri di belakangnya.
Puk…puk…
“Bisa kita bicara?” Tanya Victon dengan nada dingin seraya menepuk pundak Valerie pelan. Sungguh aneh rasanya kepergok di tempat tinggal sendiri. Tarik napas, hembuskan…batin Valerie mencoba menerima kenyataan yang ada, Ia pun berbalik badan dan menatap malas Victon yang memasang wajah datarnya.
“Bagaimana kau tau tempat tinggalku?” Tanya Valerie seraya menghembuskan nafasnya kasar. Jika sebelumnya ia cukup sabar, mungkin saja kali ini tidak. Sejak kejadian kelam masa lalunya, Valerie sangat membenci orang-orang berkuasa. Ia selalu beranggapan jika orang berkuasa seperti Victon ini suka seenaknya sendiri.
“Aku punya cara sendiri, jaman sudah canggih.” Jawab Victon.
“Lancang sekali, pergilah!! aku tidak mood bicara denganmu.” Ketus Valerie dan hendak membuka pintu.
“Tunggu, aku kemari untuk meminta bantuanmu.” Victon menahan tangan Valerie, dengan sigap Valerie menangkis tangan itu lalu mengunci tubuh Victon yang sudah ia balikkan ke pagar besi pelindung di depan kamar kosnya. Victon lengah, tidak disangka gadis ini bukan lawan yang mudah. Walaupun postur tubuh Victon lebih besar, tapi nyatanya kekuatan gadis kecil ini juga bukan main.
Victon cukup panik karena dirinya hampir saja terhempas dari lantai dua. Karena ia berniat untuk meminta pertolongan, lebih baik mengalah dulu, pikir Victon.
“Dengarkan aku dulu, aku membutuhkanmu untuk sandiwara itu lagi. Karena mama percaya kau adalah pacarku, beliau memintaku untuk mengajakmu makan malam keluarga.” Jelas Victon masih dalam posisi sama.
“Aku sudah bilang sebelumnya, jangan libatkan aku lagi. Kau kan kaya, cari saja wanita lain.” Ucap Valerie.
“Aku tidak…”
“ Cukup, aku tidak serendah itu untuk menjual diriku ini. Kalau pun kau membayarku mahal, aku tetap tidak mau. Pergilah.” Jelas Valerie kemudian melepas kunciannya.
__ADS_1
Kembali ke masa kini… 𖠋𖠋𖠋𖠋
Victon dan Valerie masih membisu kala di interogasi oleh Rara, bahkan keduanya sama sekali tidak berkeinginan membuka mulutnya membuat Rara semakin geram. Bagaimana mungkin Valerie bersedia menceritakan kesalahpahaman dan sandiwara di kantor Victon tadi, sungguh malu rasanya.
“ Baik, tidak ada yang mau bicara. Kalian berdua para pria lebih baik segera keluar dari sini. Aku tidak mau kena kasus.” Ucap Rara dingin seraya membukakan pintu keluar.
Jordan pun hanya bisa pasrah, karena ia juga harus memahami situasi rumit ini. Padahal hatinya sedang berbunga-bunga, tapi apa boleh buat? . Akhirnya kedua pria itu pun melenggang keluar dan setelah keduanya pergi Rara segera mengunci rapat pintu kos nya. Rara pun merubuhkan tubuhnya yang cukup lelah di atas kasur empuknya.
“ Ra?.”
“Aku gak akan memaksa Val, tapi jika ada masalah aku berharap kamu gak nutupin dari aku.” Jawab Rara pelan seraya memejam. Hari ini ia cukup lelah dengan berbagai kejadian yang membuat jantungnya berolah raga berat. Beberapa saat lalu hampir terbunuh dan juga kini menyandang status pacar baru Jordan.
Tiba-tiba Rara teringat adegan mesra bersama Jordan beberapa saat lalu. Bagaimana cara pria itu dengan lembut memperlakukan Rara seperti bidadarinya, walau terkadang Jordan sedikit kasar dan pemaksa. Kini sudut bibir Rara tertarik ke atas menampilkan senyum manisnya, sungguh malu rasanya.
.
.
Beberapa saat lalu Jordan bahagia sekali, senyumnya terenggut saat melihat pesan teks yang baru saja masuk di ponselnya. Pengirim dengan nomor tidak tersimpan itu menggunakan bahasa asing.
Ting….
Ciao, come stai? (halo, apa kabar?)
Ti piace il mio regalo?(apa kau suka hadiah dariku?)
Chi sei? (Siapa kau?) -Jordan
__ADS_1
Questo é solo l’inizio, interessante no?
Ti daró qualcosa di piú sorprendente, aspetta.
(itu baru permulaan, menarik bukan?
Aku akan memberimu sesuatu yang lebih menakjubkan, tunggu saja.)
Kretekk…
Jordan menggenggam dan meremas kuat ponselnya hingga layar itu sedikit hancur. Wajahnya kian memerah dan bergetar ketika membaca pesan tersebut. Nafasnya kembali tersengal akibat luapan amarahnya itu, masih belum puas Jordan pun memukul dinding kaca balkon kamarnya hingga pecah.
Pyarrr… darah segar mengalir di buku jarinya akibat dari serpihan kaca.
.
.
.
to be continued..
😊😊😊😊
Mobil Rolls-Roice Boat Tail
__ADS_1