
“Pulang, aku mau pulang.” Ucap Rara menunduk.
“Kita tidak akan pulang kalo kamu belum maafin aku.”
“Jangan memaks…. “
“Ssstt. Okay.....aku nggak maksa lagi. Aku hampir gila Ra, perkataanku waktu itu serius, aku benar-benar menyukaimu sejak awal. Kasih aku kesempatan, aku akan berusaha pelan-pelan. ” Jordan membungkam mulut Rara dengan jari telunjuknya. Rara pun menatap mata Jordan mencari kebohongan di sana, namun tidak di temukannya.
"haaahhh, Okay. " Ucap Rara pelan. Berat sebenarnya, hanya saja posisi Rara saat ini terjepit. Lebih baik mengalah dulu daripada ia nanti di habisi, atau bahkan di lempar dari atas tebing.
"Ha? okay yang mana? di maafin atau kesempatan? .” Tanya Jordan lagi.
“Maafin, yang satunya kasih aku waktu dulu."
Yesss... Meski belum jelas tapi Jordan sudah sebahagia itu. “ Sini peluk, katanya mau pulang?” Bahkan kini masih saja cari kesempatan, di kasih hati malah minta ginjal, begitulah.
“Nggak usah peluk-peluk kan bisa. ” ketus Rara menepis tangan pria itu.
“Harus Ra, syaratnya harus begini.” Bisa sekali mulut pria itu berdalih, padahal itu hanyalah maunya saja. Memang seharusnya Rara tidak semudah itu percaya dengan mulut pria.
“Modussss.”
Wusshhh…
...🚲🚲🚲🚲...
19.00, Kos Rara.
Segalau-galaunya Rara, belum pernah separah ini. Ingin sekali rasanya ia menyembunyikan diri di goa beruang.
“Akkhhhhhhh….” Rara memekik dengan keras membekap mulutnya di bantal seraya menendang-nendang kakinya tak tentu arah.
Tiba-tiba saja hawa berubah menjadi dingin. Padahal kipas angin tidak menyala di kamarnya dan juga cuaca cukup dingin, karena di luar sana sedang turun hujan. Rara mengedarkan pandangan dan terhenti pada tatapan tajam sahabatnya.
“Bagus ya Ra, jantungku hampir lepas liat kamu nangis-nangis gak karuan tempo hari. Udah kubilang jauhi dia, tapi apa sekarang?” Ucap Valerie dingin dan tengah duduk di meja rias menggunakan masker wajah berwarna hitam. Dengan penampilan seperti itu, Valerie terlihat seperti setan penunggu pohon pisang.
Alasan ia berkata demikian, karena melihat Rara pulang bersama Jordan sore tadi. “Jangan mudah percaya dengan pria. Kamu belum tau mereka itu makhluk berbahaya.”
__ADS_1
"Val a.. aku... "
“Kalau ketemu, biar ku hajar dia!” Valerie mengeraskan rahangnya tanda ia benar-benar marah.
Kretekk….
Valerie meremas sebuah botol air mineral kosong hingga tak berbentuk. Hal itu membuat Rara menelan kasar ludahnya dan bungkam. Mengingat kemampuan bela diri Valerie, itu membuat Rara yakin jika sahabatnya tidak main-main dengan ucapannya.
.
.
.
9 PM, Jalan Raya 🏎
Bruuummmmm…
Di jalan raya yang cukup sepi malam itu, aksi kejar-kejaran pun di mulai. Kini dengan gesit nya Jordan mengendarai mobil sportnya yang berwarna merah tengah menyalip beberapa kendaraan bahkan sempat melanggar lampu merah. Ia menyeringai licik saat melihat lawannya berada cukup jauh di belakangnya.
Lawannya juga menggunakan mobil berkecepatan tinggi tengah beradu kelihaian menyetir mobil dengan Jordan. Saat melewati terowongan suasana semakin mencekam, Jordan menambah laju kecepatan mobilnya.
Ciiiitttt...
“Sial." Jordan mendengus kasar sambil memukul setir dan berlalu keluar. Muncul lah seorang pria dewasa dengan setelan kasualnya keluar dari mobil itu.
“Kau?” Jordan memberikan tatapan menusuk. Jujur saja ia ingin menolak menatap wajah pria itu. Kebencian yang amat besar timbul dari hatinya yang paling dalam hingga rasanya ingin segera mengulitinya.
“Hi, brother.” Sapa pria itu seraya menyeringai licik.
Hening sejenak....
“Masih ada muka muncul di hadapanku hah?” Ucap Jordan dengan ketus.
“Santai, tidak perlu emosi gitu dong.” Jawab pria itu benar-benar santai sambil memegang pundak Jordan. Merasa jijik, Jordan menepis kasar tangan itu.
“Cihhh.”
__ADS_1
“Wow…wow, Rileks man.”
“Mau apa ?” Jordan mendelik tajam kearahnya.
“Hahahaha....kau tidak bodoh kan? .” Mereka saling menatap penuh permusuhan. Wajah Jordan kini memerah dan bergetar karena amarah, namun ia masih bisa menahannya.
“Aku menginginkan sesuatu yang seharusnya milikku. Serahkan dia padaku!!” Ujar pria itu.
bug...
Tidak bisa menahan emosinya lebih lama, Jordan melayangkan bogem mentah dan mendarat di pipi pria itu.
“Siapa kau, berhak memerintahku hah!!” Ucap Jordan penuh penekanan sambil menarik kerah pria itu lalu menghempasnya kasar.
Pria itu pun tersenyum licik seraya merapikan bekas cengkeraman tadi dan menatap Jordan yang berlalu dengan penuh arti.
"Kau masih sama, Leo.” gumam pria itu.
.
.
.
Club, pukul 23.00...
“Pergi kalian!! dasar murahan huh, Rara ku lebih cantik dan berharga daripada..….hehe!” Racau Jordan pada wanita yang tengah menggodanya dengan meliuk-liukkan tubuh yang hanya berbalut kain kurang bahan tersebut. Ia kini sudah mabuk hanya dengan 2 gelas kecil minuman itu.
“Tambah lagi…vodka 1.” ucap Jordan pada bartender itu dengan suaranya yang parau, moodnya kali ini benar-benar buruk.
“Lagii….lagiiiiii! keluarkan yang kau punya!” ucapnya lagi dengan suara meninggi. Ia benar-benar sudah terpengaruh oleh minuman itu dan sudah mulai meracau tak karuan.
.
.
.
__ADS_1
to be continued.. .