Terjerat Serigala Tampan

Terjerat Serigala Tampan
BAB 11. Maaf


__ADS_3

Kesal sekali Jordan melihat Rara yang secepat itu berubah, Jordan berulang kali mengacak rambutnya kasar karena berusaha menahan emosinya, entah kenapa setiap berdekatan dengan Rara ia sangat kesulitan mengendalikan diri.


“ Apa aku salah? Toh kita memang tidak ada hubungan apa-apa kan. Apa kau pernah bertanya padaku? kau selalu semaumu sendiri. Tidak peduli apa dan siapa dirimu, cukup berhenti disini. ” Ucap Rara dengan nada penuh penekanan.


"Apanya yang berhenti? aku bahkan belum memulai." Batin Jordan gusar.


“ Baiklah, selagi membahas ini maka kita perjelas saja. Jadilah kekasihku Ra, aku ingin kamu jadi milikku seutuhnya!.” Ucap Jordan dengan gamblangnya. Memang ia akui caranya merebut hati Rara terlampau ekstrem. Namun dirinya bukanlah pria romantis yang suka membual dengan kata-kata manis.


“What? No...!! jangan memaksa!” Rara tak percaya pria ini cukup nekat.


Anti dengan kata penolakan, emosi Jordan benar-benar membuncah. Segera ia membuka sabuk pengamannya dan secepat itu merengkuh tubuh Rara di bawahnya.


Jordan kini merasakan gairahnya kian memuncak. Jarak keduanya amat dekat, hingga Rara kembali melihat perubahan pada manik indah milik Jordan yang berubah menjadi warna biru menyala. Tatapan itu kian menusuk membuat Rara mulai merasa takut.


“Eumppphh.”


Jordan dengan cepat meraup paksa bibir Rara dengan rakus dan mencengkram tangan Rara di depan dada saat gadis itu memberontak. Rara tidak menyangka jika Jordan berubah menjadi buas seperti ini.


Tidak berhenti, tangan pria itu kini menelusup ke bawah dress Rara, kemudian kepalanya semakin turun ke leher Rara meninggalkan bekas gigitan di sana. Kekuatannya sungguh bukan main hingga Rara tidak bisa melawan sedikit pun.


“Pergi…pergi……lepas….!kumohon..hiks..hiks.” Ucap Rara lirih. Matanya membasah dan tubuhnya bergetar.


Masih belum sadar Jordan tetap melakukannya hingga ia kini membuka paksa resleting dress Rara. Jordan terhenyak saat tubuh Rara bergetar hebat di iringi isak tangis yang pecah. "Apa yang ku lakukan?" Dengan cepat Jordan melepaskan rengkuhannya, bukan main cemasnya kala melihat Rara yang berantakan akibat ulahnya. Tidak ada sedikit pun niat untuk menyakiti gadis itu, ia terbawa emosi dan nafsu sesaat.


“Hiks..…lepas Jo.” Rara terisak lirih.


“ Maaf…maaf…maafkan aku Ra." Kata maaf itu terucap beberapa kali dari mulut Jordan sambil menangkup wajah Rara. Jordan sadar jika kata maaf itu tidak bisa merubah apapun.


“Pukul aku Ra, pukul… maaf aku salah…maaf." Jordan kian panik lalu menarik Rara dalam pelukan berusaha untuk menenangkannya. Benar-benar ceroboh, bagaimana bisa ia bertindak sejauh itu. Kini pria itu hanya bisa merutuki diri sendiri.


Rara hanya menunduk si sepanjang perjalanan dan sesekali mengusap pelan sudut matanya yang berair.


Setelah sampai depan kos, secepat kilat Rara keluar tanpa sepatah kata pun, ia berlari masuk dengan tampilan acak-acakan. Tidak bisa berbuat apa-apa, Jordan hanya bisa menatap nanar punggung Rara penuh penyesalan.

__ADS_1


“Bodoh…Kau memang bodoh Jordan aaakhh. ” pekik Jordan seraya menjambak rambutnya dan memukuli setir mobilnya.


.


.


.


.


Ceklek….


“Hai Ra, udah pul…” sapa Valerie terpotong kala melihat tampilan Rara yang amburadul.


“ Val, hiks.”


“Kenapa…...kenapa begini, Ra?” Valerie memeluk Rara dengan kuatnya hingga tangis Rara pecah di dalam pelukannya.


“Hiks, huuuuuu…huuuuuu."


“Bajingan mana yang berani menodaimu Ra? aku akan menghajarnya untukmu.” Batin Valerie dengan ekspresi wajah penuh dendam.


.


.


.


Keesokan harinya hingga mentari kian meninggi, Rara masih meringkuk di atas kasur. Valerie pun bingung, rasa penasarannya sangat besar tapi ia tidak setega itu. Wajar saja, Rara sama sekali belum cerita tentang hal buruk yang menimpanya semalam.


“Hari ini ijin aja Ra, aku temani. Jangan memaksakan masuk kuliah.” Ucap Valerie lembut. Rara masih memejam, namun ia masih sadar karena tidak bisa tidur semalaman.


Drtt..drrt...drrtt

__ADS_1


“Ra, Jordan telpon nih.” Ucap Valerie seraya menepuk pelan tubuh Rara.


Mendengar nama itu, Rara langsung membuka matanya lebar-lebar. Di raihnya ponsel itu dari tangan Valerie, kemudian dengan cepat mematikan dan melemparnya di atas kasur.


“ Tidur aja Ra. Aku mau keluar cari makan dulu, habis itu kita makan bersama.” Walaupun tidak ada jawaban, Valerie paham Rara mendengarnya.


.


.


Sementara itu, di suatu tempat seorang pria di buat ketar-ketir. Mondar-mandir seperti seperti kucing kebelet pipis, ia keluar masuk tidak jelas kemudian duduk dan berdiri lagi. Hanya dengan melihatnya saja Victon pusing sekali kala sahabatnya itu tidak bisa diam.


“Gak punya kerjaan Jo? Gue pusing liat lo mondar-mandir terus.” Celetuk Victon yang duduk di kursi kerjanya seraya membolak-balikan berkas di tangannya.


“Aaakkkhhh, please Ra…..angkat please. ” Nampak sekali Jordan makin frustasi. “Gue ga habis pikir sama jalan pikiran lo, makanya apa-apa tuh jangan kebawa nafsu.” Alih-alih memberi saran Victon malah semakin memperkeruh keadaan, sangat membantu sekali.


“Gue ga tau harus gimana Vic. Dia bahkan nggak mau bicara sama gue sekarang.”


“Beri dia waktu dulu, sekarang menyesal pun gak ada gunanya. Rara itu gadis polos, jangan samain kaya lo Jo, pelan-pelan jangan memaksa.” Tiba-tiba Victon menjadi sangat bijaksana membuat timbul rasa haru di benak Jordan karena memiliki sahabat seperti Victon.


“Gak tau, gue cuma....aaaaaahhhh."


“Dasar serigala.” Ucap Victon asal, menyesal sekali Jordan memuji nya bijak tadi.


.


.


.


.


to be continued.

__ADS_1


.


jangan lupa vote ya hehe...


__ADS_2