Terjerat Serigala Tampan

Terjerat Serigala Tampan
BAB. 69 Bianglala


__ADS_3

1 bulan kemudian….


“Huft, tugas hari ini banyak banget. Aku capek Val.” Keluh Rara dan duduk di kursi kantin kampus siang itu. Mau bagaimana lagi, status Rara masih sebagai mahasiswa aktif dan ia harus mengejar nilai yang menakjubkan. Anehnya, hari ini ia merasa berbeda seperti sesuatu hilang dari tubuhnya.


“Aku pesan dulu ya, kamu mau apa?” Tanya Valerie.


“Biasa.”


Ada saja yang mengganjal di hati Rara, sejak mimpi itu ia terus-terusan memikirkannya. Karena sampai saat ini tidak ada pergerakan apapun dari Jordan, bahkan pria itu tampak santai sekali. Jujur saja, Rara berharap jika Jordan segera melamarnya. Kedua orang tua Rara juga sudah menyetujui hubungan mereka, lantas kenapa Jordan masih diam-diam saja? Rara semakin gusar.


Sebenarnya menikah muda bukanlah pilihan Rara, tapi alangkah baiknya jika keduanya segera mengikrarkan janji agar tak terjadi hal-hal yang tidak seharusnya. Baiklah, Rara tidak akan sok polos, mengingat gaya berpacarannya yang terkadang sedikit lebih ekstrem.


Setelah selesai kuliah Rara berencana untuk hibernasi, sayangnya Valerie terus memaksanya agar menemaninya belanja. Rara heran saja, sejak kapan Valerie hobi berbelanja? biasanya dia berkutat di depan layar monitor dan menghabiskan waktu bermain game.


“Kenapa lesu begitu, sih? Ayo kita seru-seruan, kamu jarang ada waktu sama aku karena sibuk pacaran terus.”


Valerie cemburu dengan prioritas Rara saat ini, ia kerap di duakan saat Rara lebih memilih Jordan daripada dirinya. Meski sedang tak bertenaga, Rara berusaha untuk mengikuti kemauan Valerie. Ya, untuk hari ini anggap saja full day bersama sahabatnya.


Di toko pakaian...


“Cantik banget sahabatku.” Valerie mengagumi paras Rara yang amat menawan dengan balutan atasan pendek cream berenda-renda itu. Memang di akui apapun yang Rara pakai, semua akan tampak indah.


Tak lupa keduanya mengabadikan penampilan menawan mereka dan mempostingnya di akun sosial media milik masing-masing.

__ADS_1


Tik…tik…tik


“Otw.” Valerie mengirim pesan teks kepada seseorang.


.


.


Setelah selesai belanja, kedua sejoli itu berencana megunjungi tempat hiburan. Mereka mengunjugi Festival, pameran dan juga menjelajahi aneka jajanan hingga tujuan terakhir yaitu taman bermain. Sekitar pukul setengah 9 malam keduanya tiba di tempat yang penuh dengan berbagai macam wahana permainan.


Yuhuuuuuu….


Gemerlap cahaya lampu yang berwarna warni serta teriakan bahagia maupun ketakutan memenuhi keramaian suasana tempat bermain malam itu. Rara dan Valerie pun mencoba setiap permainan, mulai dari yang mudah hingga yang level menantang nyali.


“Haaahhhh…hah, jangan coba itu lagi . Aku ga suka…serem.” Napas Rara tersengal karena baru saja keluar dari rumah hantu. Bahkan Rara sempat jatuh karena di buat senam jantung di sepanjang permainannya.


“Udah puas ketawanya?” Rara berdecak kesal dengan ejekan Valerie yang tak ada habisnya.


Belum selesai menata jantungnya, Valerie kembali menarik tangan Rara menuju wahana bianglala. Sontak Rara meneguk kasar ludahnya, bukan penakut sebenarnya, hanya saja ketinggian wahana itu cukup membuat bulu kuduknya berdiri semua.


“Val, nggak bisa udahan aja? Aku udah capek sumpah.”


Rara mengacungkan 2 jarinya tanda jika tenaganya sudah mencapai batas maksimal. Seharian ini mereka sudah berkeliling di beberapa tempat, dan jujur saja Rara benar-benar lelah sekali.

__ADS_1


“Taraaaa! Karcis nya udah ku beli, ayo masuk.”


Ceklik….


“Loh kok aku sendiri? Hei, Valerie jangan bercanda ya.”


Rara terkejut kala hanya dirinya yang masuk kurungan bianglala, sedangkan Valerie menguncinya dari luar. Tak berselang lama benda itu bergerak naik, sontak saja Rara menjerit.


“Hei….hei…hei…ini kenapa? Valeriiiiiiiii awas kamu ya, ahhh!!” Rara jatuh terduduk kala benda itu berayun-ayun tidak stabil. Herannya, Rara seperti duduk di atas sesuatu dan ia pun langsung menoleh ke belakang.


“Hai sayangku.”


“Kak Jordan?” Kak? Jordan risih mendengar Rara memanggilnya dengan sopan, dan entah sejak kapan gadis itu mulai terbiasa. Meski umur mereka memang terpaut cukup jauh, tapi Jordan lebih nyaman dengan Rara yang kerap kurang ajar seperti biasanya.


“Kok kamu bisa di sini?” tanya Rara. Rara hendak berdiri tapi di tahan oleh Jordan, hingga Rara hanya bisa diam di atas pangkuan pria itu.


“Tutup matamu.” Kebiasaan sekali, lain di tanya lain pula yang di jawab membuat Rara cemberut kesal. “Tutup dulu, nanti kamu tau.” Titah Jordan kemudian dan Rara hanya bisa menurut.


.


.


.

__ADS_1


to be continued.


yuhuuuuu.... 😁😁😁


__ADS_2