
Rara mengangguk pelan dan masih menunduk. Mengingat jika beberapa saat lalu dirinya begitu garang, tapi kenapa jika di hadapan Jordan ia jadi melemah.
“Keluar dulu, aku mau ganti.”
“Aku bantuin.” Jordan menawarkan diri dengan senang hati dan malah di balas dengan pukulan ringan dari Rara. “Sana!! bantuin apaan? nanti malah aneh-aneh.” Rara mendelik dan menyilangkan tangan di depan dadanya. Memang begitu adanya, Rara paham betul isi pikiran Jordan yang sering membuatnya tegang dan melayang.
Drrttt….drrttt… saku Jordan bergetar dan sudah pasti seseorang tengah menghubunginya. Tenyata ayah Rara kini menelponnya. Jordan segera memencet tombol hijau seraya menyingkir, tak lama kemudian suara berat yang kerap membuat Jordan tegang kini terdengar.
Kepergian Jordan membuat Rara mengelus dadanya lega karena berhasil melepaskan diri tanpa bersusah payah. “Huft.. nggak aman buat jantung.” Sekilas Rara membayangkan wajah tampan Jordan dan juga sentuhannya yang sering membuatnya melayang di angkasa. Ia sendiri tidak menyangka jika pria dengan segudang pesonanya itu sebentar lagi akan menjadi suaminya.
.
.
“Udah?” Ucap Jordan hanya dengan gerakan mulutnya, karena ia masih sibuk dengan panggilan teleponnya. Rara hanya mengangguk sebagai jawaban. Menunggu Jordan hingga selesai sedikit membuat Rara bosan, hingga ia memilih untuk berselancar di ponselnya saja.
“Maaf ya El. Gue nggak tau kalo bakalan ada keributan kayak tadi, itu di luar rencana.”
“Santai aja. Oh ya, calon istri lo cantik dan menyenangkan, jaga dia baik-baik Jo.” Ucap Ella dengan senyum manisnya. Nasihat Ella membuat Jordan kini menatap lembut Rara yang sibuk dengan benda pipihnya.
__ADS_1
Jordan teringat pada pertemuan keluarga beberapa hari lalu. Itu terjadi sebelum lamaran romantis yang Jordan persiapkan. Waktu itu Jordan membawa kedua orang tua Victon, karena memang hanya mereka keluarga yang Jordan punya di Indonesia. Ketakutan terbesar Jordan adalah jika latar belakangnya tidak di terima oleh keluarga Rara.
Sosok ayah Rara yang Jordan percaya jika beliau begitu pemilih, nyatanya tidak. Pak Winarto dan istrinya sangat berlapang dada. Saat kata “Jordan juga anak kami.” terucap dari mulut ayah Rara, itu benar-benar berhasil membuat Jordan terharu. Mereka paham betul jika Jordan kekurangan kasih sayang dan semudah itu welcome akan hadirnya Jordan menjadi anggota keluarga baru.
Kak….
Kak Jordan!!
Hey, sayang kamu kenapa?
Jordan baru sadar dari lamunannya kala Rara memanggil namanya beberapa kali. Sapuan lembut terasa di sudut mata Jordan, rupanya air matanya sempat runtuh dalam keadaan terpaku. Jordan merasakan tangan halus Rara yang mengusap pipinya lembut, dan untuk sejenak saja kenyamanan itu membuat Jordan memejam dan menikmatinya.
“Ra?” Tanpa sadar Jordan menghambur ke pelukan Rara sangat erat. Sempat terkejut, Rara langsung membalas pelukan itu dan mengusap punggung Jordan pelan. Beruntungnya di ruangan itu hanya ada mereka berdua.
“ Tetap begini sebentar aja Ra.” Jordan menelusupkan kepalanya di ceruk leher Rara dengan sedikit membungkuk, ingin sekali ia meluapkan kesedihanya.
“Aku selalu di sisimu dan nggak akan pernah pergi. It’s okay.” Meski tidak tau apa yang membuat Jordan sekalut itu, Rara sangat tahu jika pria itu sedang butuh sandaran yaitu dirinya.
“Kita akan bahagia bersama, I love you.” Jordan hanya mengangguk sebagai balasan dari kata-kata manis Rara di telinganya.
__ADS_1
“Pulang yuk?” Rara menangkup wajah Jordan lalu menariknya keluar butik karena urusan mereka sudah selesai sejak tadi.
...***...
Di dalam mobil suasana kembali tenang. Berkali-kali Jordan mengecup punggung tangan Rara yang ia genggam. Senyum yang menambah ketampanan pria itu kembali muncul meski suasana sehening itu.
“Kak aku mau itu.” Tunjuk Rara pada pada pedagang kaki lima yang menjual jajanan. “Yang lain ya sayang, itu nggak sehat.” Jordan mengabaikan Rara yang mendelik karena perkataan konyolnya. Rara dulu sering membeli makanan itu, dan nyatanya ia masih sehat dan segar bugar hingga sekarang.
“euunnggg…udah lama aku nggak makan cimol, pokoknya beliin titik!!” Rengek Rara dengan manjanya dan kini bersedekap dengan wajah masamnya, membuat Jordan menghela napas.
Bukan tidak mampu membelikan, perkara makanan Jordan memang sensitif sekali akan kebersihannya. Terlebih Jordan tidak pernah jajan di pinggir jalan yang terkenal dengan polusi udaranya.
.
.
.
to be continued.
__ADS_1
maaf telat up nya guys. 🙃🙃,