Terjerat Serigala Tampan

Terjerat Serigala Tampan
BAB. 39 Seramnya Sang Mertua (Calon)


__ADS_3

HAPPY READING!!


“Ra ? apa kamu takut sama aku?”


“Kenapa tanya begitu?”


“Kamu ketakutan banget waktu lihat aku kemarin. Jujur aja kutukan ini menyiksaku juga. Apa kamu bisa menerima ketidaksempurnaanku Ra?”


Langsung saja Rara membenarkan duduknya yang sejak tadi bergelayut di lengan Jordan. Mengapa tiba-tiba Rara merasakan keraguan dalam diri pria itu, sejak awal dia lah yang memaksa dan menjerat Rara sampai sejauh ini. Apa mungkin dia akan mundur? Pikir Rara.


“Aku punya phobia sama anjing, kebetulan serigala itu mirip sama anjing. Jadi begitulah, kamu tau kan orang yang punya phobia itu gimana?” Jelas Rara dengan santainya dan tangan kanannya kini meraih camilan yang berada di jok belakang. Bingung saja Jordan dengan sikap Rara, entah ia harus senang atau sedih menanggapinya. Di sudut lain gadis itu menyamakan anjing dengan serigala itu mirip, membuat pria itu sedikit terima.


“ Gimana bisa di bilang mirip, serigala lebih imut dan menawan.” Keluh Jordan cemberut, mana mau ia di samakan dengan hewan berbulu itu.


“Tapi sama-sama buas, apalagi giginya yang runcing-runcing itu. Errhhhh.” Rara bergidik ngeri sekilas membayangkan wujud hewan itu. Yang benar saja perkataan itu terasa seperti ejekan untuk Jordan yang kesabarannya hanya setipis tisu.


Keduanya sibuk berdebat hingga tidak menyadari kala mobilnya sudah sampai di halaman depan rumah orang tua Rara. Ciittt…


Secepat kilat Jordan melepas sabuknya, kemudian mendekati Rara seraya meniup telinga gadis itu.


“Wwuuuhhhhh, tapi suka kan sama serigala tampan ini?” Bisik Jordan dengan nada sensual, membuat Rara yang tadi mengunyah jadi tersedak. “Uhuk…uhuk…”


Bahaya, serigalanya ngamuk!!. Batin Rara menatap takut pemilik mata hazel di depannya. Tangan gadis itu segera membuka pintu mobil, bahaya jika ia sampai di terkam serigala lapar pikirnya. “Kaboorrrr!!!” Benar saja, Rara lari terbirit-birit menyisakan Jordan yang kini tergelak keras.

__ADS_1


...***...


Memang tidak ada akhlak, setelah mengejek Jordan Rara masih merepotkan pria itu untuk membawa barang-barangnya serta oleh-oleh yang banyaknya bukan main. Walaupun itu bukan masalah bagi pria itu. Namun, hal positifnya Jordan mendapat sambutan hangat dari ibunda Rara walau tidak dengan ayahnya. Ayah Rara tidak begitu banyak bicara, dan sedikit lebih menyeramkan.


“ Selamat sore om.” Jordan meraih tangan Pak Winarto dan menyalaminya. Meski mendapatkan tatapan tajam dan menusuk dan tangannya sedikit di remat, Jordan tetap menampilkan senyumnya yang getir.


“Duduklah.” Titah pak Winarto mempersilahkan Jordan duduk di kursi kayu kebesaran di ruang tamu itu.


Jordan mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan dengan tatapan kagum, belum pernah ia melihat rumah dengan ukiran kayu bergaya tradisional yang sangat indah . Meski pekerjaannya berpetualangan sana-sini nyatanya Jordan masih belum memahami budaya-budaya Indonesia dengan baik.



“Raraaa!! Siapkan dua minuman nak.” Panggil pak winarto dengan logat jawanya pada putri sulungnya.


“ Siapa namamu nak? Apa betul kamu yang angkat telepon tadi pagi?”


“S…saya Jordan om, dan iya saya yang angkat.”


“Hmmm.” Pak Winarto menganggukkan kepala seraya mengelus kumis tebalnya, kemudian memandangi penampilan Jordan dari atas sampai bawah dengan sedikit menyipitkan matanya. Sedikit risih sebenarnya, Jordan semakin resah apa mungkin dirinya salah berpakaian?. Tapi ia sudah memilih pakaian sesopan mungkin agar memiliki kesan baik di depan calon mertuanya.


Beginilah penampilan sopan Jordan haha😆😆


__ADS_1


“Kenapa diam-diam begitu?” Tanya Ibunda Rara yang baru saja bergabung, Jordan langsung menyalami sebelum beliau mendudukkan diri di samping Ayah Rara.


Tuk… Rara pun muncul seraya meletakkan dua cangkir teh hangat dengan senyumnya yang merekah. Kemudian, gadis itu duduk di kursi dekat Jordan, sambil memainkan ponselnya membalas pesan dari sahabatnya.


“Ehem.” Pak Winarto berdehem entah karena tenggorokannya yang kering atau apa. Sontak Rara pun melirik ayahnya yang sejak tadi tidak memalingkan tatapannya kepada Jordan. Tidak paham saja kenapa ayahnya bertingkah tidak seperti biasanya.


“Ra, ayahmu menakutkan.” Bisik Jordan sedikit mendekat ke Rara. Tiba-tiba terbesit sebuah Ide jahil, alangkah baiknya jika Rara bergabung menjadi Sekutu ayahnya, padahal ia berusaha menahan tawa sejak tadi.


“Iya, ayah itu galak.” Jawab Rara penuh penekanan membuat pria muda itu menelan ludah.


“Jadi nak Jordan ini ada hubungan apa ya sama Rara?” Ibu Rara melontarkan pertanyaan yang cukup berbobot. Meski niat Jordan memang ingin meminta restu tapi ia harus memikirkan cara yang lebih ampuh lagi karena sepertinya ayah Rara ini tidak mudah.


“Pacar/teman.”


Jordan dan Rara menjawab serempak, membuat keduanya saling berpandangan karena jawaban yang berbeda. Apa serius Rara akan mengenalkan Jordan pada orangtuanya hanya sebagai teman?, kenapa itu sedikit mencubit hati pria itu.


.


.


.


to be continued...

__ADS_1


__ADS_2