Terjerat Serigala Tampan

Terjerat Serigala Tampan
BAB. 68 Rencana Lagi


__ADS_3

“Good…good, kalian memang nggak tau situasi dan tempat.” Victon hanya menghela napasnya kala mendapati kedua manusia itu saling berpatukan. “Ah malunya….” Batin Rara seraya menyembunyikan diri di balik selimut, ternyata begini rasanya kepergok di saat sedang enak-enaknya.


“Lo aja yang masuk sembarangan ke kamar orang, ck.” Jordan berdecak kesal seraya membenarkan duduknya. “ I’ts not my fault.” Victon hanya mengangkat bahu tanpa rasa bersalah. Malah ia kini dengan santai duduk di sofa dan bersilang kaki.


“Gimana? lo udah baikan?” Victon bertanya serius kali ini karena memang sekhawatir itu dengan kondisi sahabatnya, dan pada kenyataannya keduanya memang saling menyayangi.


“As you look. Sejak kapan lo di sini?”


Bukanya menjawab, Victon penasaran dengan Rara yang sedang bersembunyi di dalam selimut. Ia bertanya-tanya, sampai kapan Rara terus berada di sana.


“Ra, buat apa malu? keluarlah, nggak pengap apa?” tanya Jordan seraya menyentuh selimutnya. Tidak ada jawaban, akhirnya Jordan pun mengintip sedikit di balik selimut itu. Terdengar dengkuran halus dengan posisi badan Rara yang tengah meringkuk tak jauh dari kaki Jordan. “Tidur?” Jordan menggeleng tak percaya, secepat itu Rara menyelami alam mimpi.


“Dia pasti lelah, beberapa hari tidurnya nggak bener dan nangis terus.” Victon memberi penjelasan jika sepenting itu Jordan bagi seorang Rara, hingga gadis itu menjadi kacau. “Lo tenang aja. Marcel dan yang lain udah gue urus dan semua aman. So, nikmati kehidupan lo sekarang Jo.”


“Yeah, adanya dia...hidup gue terasa lengkap. Thanks bro.” Jordan bertos ria dengan Victon dan kemudian berpelukan singkat.


“Gue pergi dulu ada urusan, panggil gue kalo butuh bantuan, okay?.”


Jordan hanya mengangguk pelan seraya mengamati punggung Victon yang kian menjauh dan menghilang. Kemudian ia turun dari kasurnya untuk memindahkan Rara di kamar tamu, dan karena lukanya tidak terlalu sakit jadi ia sudah bisa bergerak sebebas itu.

__ADS_1


“Emmhh…jangan tinggalin aku.” Rara mengigau tak jelas kala Jordan merebahkan tubuhnya, membuat pria itu tersenyum tipis.


“I’m here.” Cup…Kecupan singkat itu mendarat di kening Rara dengan lembut. Setelah memastikan kenyamanannya, Jordan pun melenggang pergi membiarkan gadis itu beristirahat tanpa gangguan.


.


.


.


“Jordaaaannnn!!” Maxton berhambur ke pelukan Jordan saat baru saja tiba. Bahkan pria yang selalu cuek itu kini rela membuang air matanya, membuat Jordan menjadi risih saja. “kau baik-baik saja, Max?” Jordan juga melihat beberapa bagian tubuh asistennya yang di bungkus perban, hampir saja lupa jika Maxton juga terluka cukup parah.


Tujuan Jordan kembali ke pulau bukan untuk berpelukan ria dan melepas rindu. Mendengar jika ada penghianat di tim khususnya, Jordan menjadi tak sabar untuk mengetahui wajah bertopeng itu.


“Tunjukkan dimana dia!!.”


Jordan dan Maxton kini berjalan beriringan menuju ruang bawah tanah khusus untuk mengeksekusi para musuh yang berhasil di tangkap. Kedatangan Jordan yang kini sudah tampak segar dan sehat sontak saja membuat suasana menjadi tegang.


Karena tidak ingin mengotori tangan, Jordan hanya memerintahkan anak buahnya. Tidak ada ampun untuk kali ini, Jordan benar-benar sudah berbelas kasihan sebelumnya, tapi mereka yang berani mencelakai Rara membuat hati nurani Jordan seakan lenyap begitu saja.

__ADS_1


“Lanjutkan sisanya Max! aku tidak punya waktu meladeni cecunguk seperti mereka.”


“Okay, serahkan padaku tuan!!”


“Aha …aku lupa. Bantu aku untuk mempersiapkan sebuah lamaran yang romantis.” Ucap Jordan pada Maxton saat hendak berlalu.


“Lebih berkesan jika anda menyiapkan sendiri tuan. Wanita itu sangat rumit, mereka akan banyak bertanya seberapa ketulusan seorang pria dan tidak akan pernah puas jika ….”


“Kau banyak omong kayak punya pacar aja. Aku hanya ingin kau membantu beberapa hal, sisanya tentu saja aku yang melakukannya.” Jordan menyela karena merasa kesal dengan ucapan Maxton. Di pikirnya Jordan tidak setulus itu? menyebalkan sekali. Mau bagaimana pun, Maxton lagi yang salah hingga menyesal ia tadi memberi saran jika pada akhirnya di semprot-semprot juga.


“Siap 45, Tuan!!” Maxton berdiri tegap seraya memberi hormat.


.


.


.


to be continued

__ADS_1


Ayo jangan lupa vote , dukung karya author ini ya.....makasih😇😇


__ADS_2