
...WARNING!! Terdapat adegan kekerasan dan beberapa kata kasar yang tidak pantas. Mohon di skip bagi yang tidak suka . Happy Reading😁😁...
“Hehehe..”
Tiba-tiba Jordan tertawa dengan sedikit horror membuat pria tua itu heran. Jordan menghadap kemudian mendorong pria tua itu semakin ke pojok. “Kau lah yang bodoh pak tua!! Sendirian berhadapan denganku, bukankah hanya mengantar nyawa, heh?” Tatapannya menelisik perubahan raut wajah pria itu. Bukan takut, tapi menantang.
“Siapa bilang aku sendiri?.” Tak mau kalah, pria tua itu berusaha menunjukkan kuasanya. “Kalian keluarlah!!” Ucapnya lagi.
Hingga 3 detik kemudian tidak ada perubahan apapun membuat pria tua itu meremang. “Apa kalian tuli!!”
“ck…ck berhenti membuang waktu!!” Bugh…bugh… Jordan melayangkan bogem mentahnya tepat sasaran di pipi si pak tua.
“Ini untuk kedua orang tuaku.”
Bugh…bugh..
“Ini karena kau mengusik istri dan anakku.”
Bugh…bugh..
“Dan ini dariku!! Bedeb*h siala*n!!. Kau pikir aku datang ke kandangmu tanpa rencana? Dasar tol*ol!!” Jordan menginjak dada pria tua itu kian kuat.
“Aaakkhhhhh!!” Biarkan saja dia menjerit sepuasnya, yang penting Jordan puas melampiaskan amarahya.
“Hah…hah...” Masih dengan napasnya yang tak beraturan, Jordan menghampiri tabung kaca itu lagi. “I’m sorry.” Rasa sesal kini bercampur aduk kala menatap tubuh malaikat pelindungnya dalam keadaan kaku. “I’m sorry, mom-dad.”
.
.
.
__ADS_1
Brakk…
“Jo!! lo nggak papa kan?! “ Pekik Victon dan Maxton menyusul di belakangnya. Mereka tampak babak belur dan begitu menyedihkan. Sama halnya dengan Jordan saat pertama masuk, dua pria itu sangat terkejut dengan isi ruangan itu.
“Orang gila mana?!” Tanya Victon dan Jordan hanya menunjuk pria tua yang sudah terkapar itu sebagai jawaban.
“Mereka masih hidup, kita harus mengeluarkannya.” Ucap Jordan kemudian.
“Yang lain?” Victon tak mengerti karena Jordan hanya menunjuk kedua orang tuanya saja. “Gue nggak peduli.” Ucap Jordan dingin.
...𖠸𖠸𖠸𖠸...
Terpecahkan misteri yang selama membuat kepala Jordan hampir pecah. Pria tua yang selalu menggunakan inisial M itu ternyata buronan yang selama ini di incar oleh para penegak hukum. Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Pencapaian terbesar dalam hidup Jordan dan kini beban di pundaknya terasa lepas begitu saja.
Tanpa menunda waktu lagi, Jordan pun membawa orang tuanya segera kembali ke Indonesia. Perlu perawatan medis khusus untuk memulihkan tubuh yang selama ini di awetkan itu.
Jakarta, 4 PM
“Thanks bro.” Ucap Jordan seraya memeluk kedua sahabatnya bergantian. Setelah memastikan kedua orang tuanya mendapatkan perawatan intensif, ketiga pria tampan itu pun beranjak pulang karena tubuhnya sudah lelah luar biasa.
“Jangan lupa bayar pajak Jo. Party maybe?.” Victon menggerling seraya menepuk pundak Jordan saat hendak memasuki mobil. “Easy, gue yang traktir.” Jawab Jordan mengangguk setuju.
Perbincangan ringan mengiringi perjalanan mereka hingga tidak menyadari jika mereka sudah sampai di depan pagar rumah Victon. Jordan kembali melaju menuju pemberhentian terakhir yaitu rumahnya.
Tentu saja Maxton ikut dengannya, Jordan merasa iba dengan pria malang di sampingnya yang terlihat begitu lelah. Beberepa menit kemudian, mereka pun sampai di kediaman Jordan.
“Max, kita sampai. Masuklah.” Jordan menggoyang pelan tubuh Maxton yang sempat terlelap.
“Boss saya..”
“Tinggal lah beberapa hari.” Ucap Jordan kemudian berlalu keluar.
__ADS_1
.
.
“ Tuan sudah kembali?” Tanya pak Jono dan di angguki oleh Jordan.
Langkah panjangnya kini memasuki rumah “ Di mana Rara?” tanya Jordan pada bi Miri yang kebetulan lewat.
“Ada di taman belakang tuan.” Jawab bi Miri. Melihat senyum Jordan sontak saja bi Miri sedikit berdesir “Enaknya punya majikan muda dan tampan begini, bening.” Batin wanita paruh baya itu terkikik sendiri.
Jordan pun membersihkan diri dulu sebelum menemui bidadarinya itu. Setelah selesai, Jordan keluar dengan pakaian kasualnya lalu mencari keberadaan Rara yang masih berada di sana. Sengaja Jordan membuat taman bunga di belakang rumahnya, karena sang istri sangat menyukai mahkota warna warni itu.
Matanya mengedar ke arah padang bunga di sana, namun masih belum menemukan keberadaan Rara. “Di mana sih?” Jordan melangkah santai dengan tangan di dalam saku celananya seolah-olah jalan setapak itu panggung catwalk.
Langkahnya berhenti saat menyadari Rara yang tengah asyik dengan mainan barunya.
“Sayang, nanti kalau papa pulang kita bisa main bersama di sini.” Dari sudut pandang Jordan, calon ibu itu tengah bergumam sendiri seraya menikmati aroma bunga-bunga di tempat itu. Rupanya Rara masih belum menyadari kedatangan Jordan sama sekali.
Greb…
Jordan tiba-tiba memeluk Rara dari belakang membuat tubuh Rara sedikit tersentak . “Siapa?” Rara menoleh dan di temukan wajah tampan suaminya. Sontak saja Rara berbalik dan memeluk erat sosok yang amat di rindukannya itu.
“Kok nggak bilang kalo udah pulang?” Rara mendongak dengan wajah puppy eyes nya. “Biar surprise.” Jawab Jordan seraya mencium pucuk kepala Rara cukup lama.
.
.
.
-To be Continued-
__ADS_1