
Kepalang tanggung, pada akhirnya Rara pun mandi lagi. Bukan hanya mandi sebenarnya, karena Jordan memang sepicik itu. Di awal Jordan minta di gosok pada bagian tubuhnya yang tidak bisa di jangkau, tapi lama-kelamaan Rara yang di gosok seperti setrika baju, entah bagian mananya. Begitulah, kegiatan gosok-menggosok yang menimbulkan uap panas dan getaran-getaran kenikmatan.
Setelah mandi, mereka pun segera menikmati makan malam yang sudah di siapkan oleh Rara. Jordan sudah tidak begitu lapar, tapi demi menghargai ketulusan istrinya ia tetap memakannya.
“Ra, luka memar di leher…”
“Bukan apa-apa, udah jangan di pikirin.” Rara kembali menyuap nasinya dengan santai.
“Pasti ada yang terjadi, kamu tadi kemana aja?” Tanya Jordan.
“Kampus, terus main bareng sohibku.” Rara melirik Jordan yang kini tengah menatap dengan sedikit horor, dan itu membuat Rara jadi gugup. Bisa panjang urusannya jika Jordan terus-menerus mengulik perkara lehernya, pikir Rara.
“Rara…Adeeva….Shaletta. Ingat kalau kamu sekarang udah jadi tanggung jawabku. Semua hal termasuk juga tubuhmu. Aku bisa di marahin Ayah kalau ayah sampai tahu, luka lebam itu nggak kecil loh. Nggak mungkin juga bekas ciumanku sebesar itu, apalagi sampai membiru?” Mulai deh, Rara menghela napasnya kala mendengar pidato piala Oscar Jordan. Geram sekali rasanya, Rara pun menyumpal mulut Jordan dengan paha ayam.
Hauphhh....
“Uhuk. Raraaaa....sopan kamu begini?” Tatapan Jordan sudah setajam itu, tapi Rara hanya terkekeh dan segera melanjutkan makan malamnya.
.
.
__ADS_1
Setelah mengisi perut, kedua sejoli itu pun memutuskan untuk segera istirahat. Tidak ada pertempuran lagi karena keduanya memang sudah lelah sekali.
“Sini deketan! kenapa jauh-jauh begitu?.” Rengek Rara kala melihat Jordan yang duduk di atas kasur tepat di sampingnya tengah sibuk dengan laptopnya. Jordan hanya tersenyum sekilas. Pria itu mengusap pelan rambut Rara dan kembali sibuk lagi. Rara yang penasaran pun kini mencoba untuk mengintip.
“Ini apa?” Tanya Rara seraya memeluk Jordan dari samping. “Laporan keuangan hotel.” Jawab Jordan. Rara melotot dan hampir mengeluarkan bola matanya.
“What? Jadi Hotel Ritz Diamond itu milik kak Jordan? Gila! Aku tau suamiku kaya tapi nggak nyangka aja….” Batin Rara ingin memekik dan itu bisa di dengar oleh Jordan hingga pria itu tersenyum tipis. Dengan cepat Jordan mematikan laptopnya kemudian merapatkan tubuhnya dan menelusup ke dada sang istri. Posisinya kini terbalik karena biasanya Rara yang begitu.
“Ra, sebentar lagi bulan purnama.”
“Terus kenapa?” Beo Rara.
Jordan semakin merapatkan wajahnya di dada Rara dan mengeratkan pelukannya. “Saat aku berubah, kamu nggak perlu paksain buat nyaman di dekatku.” Jordan tahu jika phobia Rara bukan hal yang sepele. Apalagi suatu waktu Jordan pasti berubah menjadi wujud serigalanya dan mustahil baginya untuk menolak.
Beberapa saat kemudian...
“Masih nggak mau jujur? Aku nggak buta Ra, siapa yang berani ngelakuin ini?” Gumam Jordan.
Jordan mendengar deru napas teratur dari Rara tanda jika sudah terlelap. Dengan gerakan pelan ia melepas pelukannya dan beranjak dari kasur kemudian mengambil ponsel untuk menghubungi seseorang.
tut....
__ADS_1
“istriku kenapa? Dia terluka bod*h!! Apa gunanya ku kirim pengawal jika hasilnya seperti ini?” Jordan bersandar di balkon kamarnya dengan amarah yang sudah tak bisa di tahan lagi.
“….”
“Bulsh**t… aku tidak akan pern….” Ucapan Jordan terhenti kala tiba-tiba sesuatu membungkam mulutnya, ternyata itu Rara.
“Udah ku bilang, aku nggak papa.” Rara melepas pagutannya sejenak. Sebelumnya ia memang belum tidur, karena ia tahu jika Jordan akan seperti ini.
“Ra, aku sakit lihat ini. Apa susahnya bilang? biar kusingkirin bedeb**h itu!!.”
Tanpa naninu Rara pun membungkam Jordan dengan ciumannya yang lebih menuntut. Sengaja Rara melakukan ini agar Jordan tak perlu memikirkan hal itu lagi, ia sudah baik-baik saja dan untuk apa terus mengungkitnya. Kini Rara semakin mendominasi dengan mendorong Jordan ke dinding kaca itu masih saling bertaut. Jordan yang semudah itu terbuai dengan sentuhan Rara kini ikut menikmati permulaan yang di berikan sang istri.
“Besok kita harus cek persiapan pesta pernikahan. Udah dulu ya.” Ucap Rara kemudian mengusap bibir Jordan yang sedikit basah.
“Sayang, ini tanggung.” Jordan menjadi linglung saat Rara begitu saja meninggalkannya dalam kondisi seperti ini.
“Sial! Gue di PHP-in.” Gumam Jordan masih terpaku di sana.
.
.
__ADS_1
-To Be Continued-