
Tidak ada alasan khusus mengapa Jordan membawa Rara ke rumahnya, hanya saja jarak dari lokasi syuting ke huniannya itu lebih dekat di banding ke kos Rara. Tidak tega membangunkan, Jordan langsung membopong lembut tubuh Rara dan berjalan pelan.
“Pulanglah.” titah Jordan kepada Maxton.
“baik tuan."
Jordan mengulas senyum melihat Rara nyaman bersandar di dadanya. “Cantiknya." gumam Jordan, jika bisa ia akan mengantonginya dalam saku. Sikap posesif Jordan makin meningkat, bagaimana tidak jika Rara secantik itu, tidak heran jika banyak pria di luar sana tertarik padanya.
Akhirnya Jordan membawa Rara ke kamar, lalu merebahkannya di atas kasur. Biarlah besok jika Rara marah padanya, itu urusan nanti pikirnya.
“Sampai kapan aku menunggu Ra? .” Batin Jordan mendudukkan diri di pinggir kasur, ia masih belum puas memandangi wajah manis itu. Tak ketinggalan tangannya yang tidak bisa diam kini menelusuri dan merapikan rambut Rara yang sedikit acak-acakan.
“eunghhh.”
Merasa terusik, suara itu berhasil lolos dari bibir gadis itu kala matanya masih terpejam. Rara menggeliat dan tangannya kini mencoba membuka kancing kemejanya.
“ Hei, mau apa?” Tanya Jordan pelan seraya menahan tangan Rara.
“Gerah….bu.” Rara menggeliat masih memejam, di kiranya Jordan itu sang ibunda. Tanpa dosa Rara menghempas tangan Jordan dan kemudian berhasil membuka 2 kancing kemejanya .
Ingin menolak tapi tidak bisa, Jordan hanya menelan ludahnya kasar kala di suguhkan pemandangan menggoda itu tepat di depan matanya. Sejujurnya ia sudah sering melihat yang begituan, hanya saja yang satu ini berhasil memancing jiwa laki-lakinya keluar.
"Astaga Ra, kamu benar-benar......." Jordan tersenyum getir dan menyugar rambutnya, dari segala masalah yang ia hadapi, ini adalah ujian terberat baginya.
Tidak berhenti di situ saja, kini Rara berhasil menarik kerah Jordan hingga membuatnya terhuyung dan ambruk tepat di atas tubuh Rara. Tanpa sengaja bibir keduanya saling bersentuhan. Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas, Jordan pun memejam dan menikmati sentuhan benda kenyal itu di bibirnya.
Hingga beberapa detik kemudian, Rara yang merasa seakan pasokan oksigen kian menipis, spontan melayangkan kaki kanannya dan tidak sengaja menendang aset milik Jordan lumayan kuat.
“eupphh. oh...burung perkutut ku.” Jordan memekik tertahan seraya menangkupkan kedua tangannya melindungi aset miliknya yang luar biasa nyeri. Dengan wajah tanpa dosa, bisa-bisanya gadis itu masih memejam dan melanjutkan tidurnya lagi.
“Rara…! Ya ampun, kamu balas dendam sama aku atau gimana? ouchh!!” Ucap Jordan marah namun masih mengontrol volume suaranya karena takut mengganggu tidur gadis itu.Jika di tanya bagaimana rasanya, sungguh nikmat sekali tendangan maut itu.
Jordan bangkit lalu meneguk segelas air yang berada di atas meja kecil, kemudian berjalan dengan langkah mengangkang pelan menuju kamar mandi.
__ADS_1
Selesai dengan ritualnya, Jordan keluar hanya berbalut kain lembut yang melilit di pinggangnya. Siapapun pasti tergoda kala melihat tubuh atletis pria itu. Belum niat untuk berpakaian, Jordan berjalan menuju balkon yang berada di kamarnya dan berdiri menatap keindahan malam yang tampak nyata dari sana.
Sesekali ia menatap tubuh yang nyaman berbaring di atas kasurnya itu , menampakkan wajah manis yang beberapa saat lalu berbuat rusuh.
Kedua kali membawa seorang gadis kerumahnya, dan itu masih orang yang sama. Entah ini keputusan yang salah atau benar, Namun secepat itu Rara mampu membolak-balikkan suasana hati seorang Jordan.
“Oh jodohku ini sungguh menyiksa batin, bisa-bisanya dia tertidur lelap.” Ucapnya menarik sudut bibirnya tipis seraya menatap ke arah Rara.
Tidak lupa ia mencuri kecupan tidur di kepala Rara.
"Tidur yang nyenyak Ra, good night."
Biar aman ia memilih untuk tidur di kamar tamu, takut jiwa serigalanya itu bangun dan lapar lagi.
.
.
.
keesokan harinya...
Mungkin karena tubuhnya terlampau lelah membuat tidurnya sangat nyenyak, hingga sang mentari menyapa Rara masih bergumul dibalik selimut itu.
“hoahmmm." Rara menguap dan mengerjapkan matanya berkali-kali menatap langit-langit . Nyawanya yang belum terkumpul membuatnya belum menyadari kala ia berada di rumah Jordan.
Ceklek…
”Pagi Ra, udah bangun kan?” Sapa Jordan dengan senyum khas nya ketika memasuki kamar.
“ Uhh, tampannya anak orang. Kenapa di mimpi pun aku ketemu dia sih?” Batin Rara yang masih mengira dirinya bermimpi hingga Jordan menghampiri kasur dan mengacak lembut pucuk kepala Rara barulah gadis itu sadar.
“Ayo sarapan bersama, aku udah masak menu spesial.” Ucap Jordan.
__ADS_1
Tunggu, ini nyata? dan Ini bukan kamarku….!!
“Aaaaaaaakhhh…k…kamu? a…ku aku kenapa disini?!.” Pekik Rara yang hampir memenuhi seluruh ruangan.
Terlampau histeris ia menarik selimut sampai ke leher dan memundurkan tubuhnya ke pojok kasur hingga tidak sengaja terjungkal ke bawah. Kini hanya terlihat kakinya melambai-lambai karena tubuhnya tenggelam di lantai. "Aduh mama. " Rara mengusap kepalanya yang terbentur.
Jordan khawatir dan langsung saja membantu Rara untuk duduk. “Tenang dulu, aku gak apa-apain kamu sumpah. Liat tubuhmu masih utuh gitu.” Ucap Jordan terbiasa sekali dengan suara Rara yang seperti TOA itu. Sontak saja Rara pun segera mengecek seluruh tubuhnya, ia merasa lega karena pakaiannya tidak kurang satu pun.
“Kancing bajuku kok kebuka gini? Jangan-jangan…” batin Rara langsung mendelik kearah Jordan.
“Bukan aku Ra, kamu yang inisiatif sendiri.” Ucap Jordan dengan cepat.
“Inisiatif apa?” ucap Rara mendelik tajam.
“Lain kali jangan begitu ya? apa lagi pada pria lain sumpah aku ga rela. Tapi kalau ke aku gak papa…aku suka hehe. Turunlah setelah cuci muka habis itu sarapan denganku.” Lembut dan santai sekali Jordan berbicara seperti itu, padahal Rara sudah bingung bukan kepalang.
“ Apanya? Suka apa? Hei!!”
Jordan hanya mengedipkan sebelah matanya dengan genit dan beranjak pergi. Belum tuntas rasa penasaran Rara, pria itu malah sengaja berlalu meninggalkan tanda tanya yang memenuhi kepala Rara.
"Aaaaaaahhhhh. " Rara memekik sejadi-jadinya seraya menghempaskan selimut yang masih membungkus tubuhnya. Jordan pun terkekeh saat mendengar jeritan Rara setelah ia menutup pintu kamar.
.
.
.
.
.
to be continued....
__ADS_1
.
.