
"Selamat siang Miss Amanda, aku Betty. Aku yang menghubungimu kemarin."
Amanda tersadar saat seorang wanita muda berumur sekitar dua puluh tahun sedang menatapnya berbinar, dengan tangan kanan terulur ke arahnya.
"Oh, halo Nona Betty." sahut Amanda membalas salaman tangan itu. "Silahkan duduk," sambungnya kikuk.
Richard segera berdiri dari kursi sofa tamu dengan kemeja yang masih terbuka, membuat ketiga orang yang baru datang tadi berspekulasi berbeda.
"Gue ke bawah bentar yah By...." pamitnya mencium kening Amanda di depan semua orang.
Mendapat serangan tiba-tiba dari pria yang berstatus tunangannya, Amanda merona malu. Richard bertingkah disaat yang tepat pikirnya.
"Wah ... itu tunangannya Miss yah?" tanya Betty begitu Richard keluar ruangan.
Amanda mengangguk. "Kalian sangat cocok satu sama lain Miss," sambungnya masih terus memuji dua pasangan paling dicari saat ini.
Ardi berdehem, tenggorokannya seketika terasa kering. Mantan tunangan yang hampir menikah dengannya dua bulan lalu, terlihat begitu berbeda hari ini.
Amanda memang selalu cantik seperti biasanya. Dia bahkan bersikap profesional menghadapi mereka berdua, seakan tidak pernah terjadi apapun diantara mereka dulu.
"Jadi kapan rencananya kalian mau menikah Nona Betty?" tanya Amanda setelah membicarakan gaun model rancangannya untuk wanita itu.
"Dua bulan lagi Miss. Calon suamiku saat ini masih sibuk bekerja, dia tidak bisa meninggalkan pekerjaannya sekarang," sahut Betty tersenyum menatap Ardi yang sedari tadi hanya diam mendengarkan di sampingnya.
"Oh baiklah, kalau begitu saya akan mulai membuat gaunnya besok."
"Tentu Miss, terima kasih karena sudah menerima pesananku ini. Aku tahu kalau Miss Amanda pasti sangat sibuk dengan pesanan yang lainnya."
"Tidak masalah Nona, saya senang jika bisa membuat pasangan pengantin bahagia di hari indah mereka nanti!" sahut Amanda melirik sekilas ke arah Ardi.
Lelaki yang dulu mengatakan begitu mencintainya, kini sedang duduk berpegangan tangan dengan seorang wanita yang bahkan jauh lebih muda darinya.
Jadi ini alasan pria ini meninggalkan aku? Dia ingin mencari yang lebih muda dan kaya? Aku begitu bodoh mempercayai alasannya dulu.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong kapan Miss akan menikah?"
"Secepatnya...." sahut suara seorang pria yang baru masuk ke ruangan pemilik butik ini.
Richard masuk setelah mendengar beberapa pegawai berbicara tentang pelanggan VVIP mereka yang datang hari ini.
Dia sangat terkejut saat mengetahui kalau pasangan yang akan menikah itu, adalah mantan calon suami Amanda dulu.
"Kami akan menikah secepatnya, Amanda hanya harus menyelesaikan beberapa pesanan lagi dan setelahnya kami akan menikah...." sambungnya lagi duduk di samping Amanda.
Wanita itu menatap Richard dengan pandangan bertanya-tanya dan bingung, apa lagi sekarang gumamnya.
"Wah ... aku turut bahagia mendengarnya. Semoga semuanya lancar Tuan, pasti semua orang sangat menanti-nantikan pernikahan kalian berdua," sahut Betty tersenyum tulus.
Dia tidak menyadari kalau sejak tadi Ardi sudah memendam kekesalan dalam hati. Apalagi melihat Richard menyentuh tangan mantan tunangannya dan menciumnya mesra, membuat pria itu semakin meradang.
"Apa sudah selesai?" ujarnya untuk pertama kali.
Suara itu, suara yang dulu selalu memanggilnya dengan hangat. Kini begitu jauh darinya. Amanda merindukan pria ini, tapi juga membencinya.
"Maaf Miss, kami harus pergi. Tunangan saya sepertinya ada pekerjaan lagi. Oh iya, Miss belum berkenalan dengan calon suami saya. Kenalkan dia-"
"Aku mengenalnya!" potong Amanda cepat.
"Jadi kalian saling mengenal?" tanya Betty penasaran.
"Iya Nona Betty, kami saling mengenal. Tapi sekarang tidak lagi!" jawab Amanda menatap penuh arti lelaki berpostur tubuh tinggi dengan bibir merahnya di depannya.
"Benarkah sayang? Kalian saling mengenal?" tanya Betty mencari jawaban dari Ardi.
Lelaki itu hanya mengangguk tanpa mengeluarkan sepatah katapun, membuat Betty mengernyit.
"Kalau saling mengenal kenapa tidak saling bersapa, Yang?"
__ADS_1
"Tidak apa-apa Nona ... mungkin calon suamimu masih malu untuk menyapa saya." sela Amanda sengaja membuat pria itu keki di depan calon istri barunya.
"Baiklah, kami permisi!" pamit Ardi lebih dulu berjalan meninggalkan Betty.
"Eh, Yang...." panggil Betty tidak enak. "Maaf Miss, lain kali kita bisa bertemu dan berbicara lagi. Saya permisi Miss, terima kasih untuk hari ini." sambungnya sopan dan mengejar Ardi yang sudah keluar ruangan.
"Saya juga permisi Miss," pamit Vania mengikuti Betty dari belakang.
Dia tahu kalau atasannya itu sedang butuh waktu untuk sendiri. Vania juga ikut terkejut melihat kedatangan Ardi, pria yang dulu selalu menemani Amanda kemanapun dengan aktivitasnya yang padat.
Bahkan semua pegawai mengenal Ardi sebagai sosok pria yang baik, dan begitu mencintai Amanda atasan mereka.
Namun entah mengapa, hubungan mereka malah berakhir di tengah jalan tanpa alasan yang jelas.
"Lo sedih?"
"Enggak."
"Yakin?"
"Apa sih? Nggak usah nanyain hal yang nggak penting!"sinis Amanda tidak mau menatap Richard.
"Nggak apa-apa kalo mau sedih dan nangis. Itu hal wajar kok, namanya juga manusia."
Amanda diam masih menyibukkan diri dengan kertas desain gaun pengantin Betty. Hatinya memang sakit, sakit sekali sampai detik ini.
Nafasnya seakan tercekat, dengan batu yang terasa menghantam kuat dadanya. Bahkan wangi parfum Ardi masih sama seperti terakhir kali mereka bersama.
Richard menahan tangan Amanda dan menarik wanita itu ke dalam pelukannya. Sontak airmata yang sejak tadi ditahan olehnya, jatuh membasahi pipi tirusnya.
"Nangis aja kalo mau nangis Manda, jangan ditahan. Nangis sepuasnya biar hati Lo bisa lega, karena setelah ini ... gue nggak akan ngasih Lo kesempatan lagi untuk menangisi orang yang nggak pantas Lo tangisi itu!"
Dekapan hangat Richard seakan menjadi tempat terbaik bagi Amanda untuk melepaskan segala rasa sakit yang selama ini menggerogoti hati dan jiwanya.
__ADS_1
Amanda terlalu mencintai Ardi. Rasa sakit yang pria itu torehkan untuknya masih membekas dengan luka yang masih menganga di dalam sana.
Ternyata se sakit ini mencintai orang yang salah gumamnya.