Touch Me Slowly

Touch Me Slowly
Pasangan


__ADS_3

"Hai By...." sapa Richard mencium dahi tunangannya.


"Hai ... duduk dulu, Chad."


"Belum selesai?"


"Bentar lagi, aku selesein gambar ini dulu...." tunjuknya pada sebuah kertas desain yang sedang dia buat.


"Aku?"


Amanda tersenyum malu. "Kenapa? Nggak suka yah?"


"Suka ... suka banget malah. Kamu lebih manis kalo begitu," goda Richard mencolek dagu wanitanya. "Kita manggilnya aku kamu aja kalo begitu mulai sekarang...."


"Iya."


"Beby udah makan?" Amanda menggeleng. "Mau pesen aja ato kita singgah makan nanti?"


"Singgah makan aja, tar lagi selesai kok ini."


"Ok."


Richard pindah dan menjatuhkan dirinya ke atas sofa ruang kerja Amanda. Sedikit menepuk kursi berwarna abu-abu itu, Richard tengah meneliti bagaimana keempukan sofa yang tengah didudukinya.


"Kamu nggak ada rencana ganti sofa, By?"


"Hah? Kenapa emangnya?" tanya Amanda bingung.


"Ini udah nggak empuk, By. Kalo kita 'main' satu kali disini, pasti langsung rusak!"


"Ish, otak kamu yah...."


Richard tertawa di kursinya dan mengambil ponsel saat bunyi deringnya mengganggu pembicaraan mereka.


"Halo Ka?"


"Kamu dimana, Chad?" tanya Rena di ujung sana.


"Lagi di butiknya Manda, kenapa?"


"Kakak mau ngasih kunci yang aku janjiin sama kamu. Maaf yah lama, aku lupa tanya sama Deryl. Kamu mau kerumah ambilnya ato gimana?"


"Yaudah nanti abis dari butik Manda, kita kerumah kakak."


"Ok, aku tunggu yah ... bye."


Richard menjauhkan ponsel itu dari telinganya saat Rena menutup panggilannya.


"Siapa?"


"Ka Rena, dia ngajak kerumahnya. Kita kesana yah abis ini?"


"Boleh, aku juga udah kelar kok."


"Eh, udah yah?" Richard buru-buru berdiri dari sofa dan berjalan mendekati Amanda.


"Kenapa?"


"Main disini yuk...."


"Main apa sih?"


"Ini...." Richard menunjuk ke arah bawahnya. "Main burung."


"Ish, nggak ah. Aku capek, Chad."


"Bentar doang By. Mau yah, udah berdiri ini...."


"Nggak mau!" tolak Amanda berdiri dari kursi kebesarannya.


"Tunggu," tahan Richard menarik wanita itu.


Menautkan bibirnya di bibir tipis merah muda Amanda, Richard meminta jatah ciumannya pada tunangannya ini.

__ADS_1


Amanda hanya bisa pasrah saat tangan nakal pria itu mulai bertingkah liar menyentuhnya disana sini.


Dan yah ... adegan kuda-kudaan ala Richard berhasil dia dapatkan sore ini. Pria itu akan melakukan apa saja untuk bisa berhasil memasuki sarangnya, meski Amanda terlihat ogah-ogahan.


"Seneng, kan kamu!" kesal Amanda menarik naik penutup tubuh intinya.


Richard terkekeh. "Seneng dong, masa abis sayang-sayangan nggak seneng. Makasih yah Beby...." ujarnya mengecup dahi Amanda.


Ah, Amanda suka jika Richard bertingkah menggemaskan seperti ini. Kelakuannya seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan permen.


Tapi, memang dia permen, kan ... Amanda geli sendiri dalam hati.


"Udah yuk, aku lapar...." rengeknya memegang perutnya.


"Iya, iya. Mau makan apa?"


"Nasi goreng seafood aja gimana?"


"Yaudah, ayo...."


Richard menggenggam tangan Amanda turun ke lantai satu butiknya. Pegawainya sudah pada pulang, yang tersisa hanya seorang petugas keamanan yang Amanda bayar untuk menjaga butiknya ini.


"Duluan yah Pak," pamit Amanda sopan.


"Iya Non...."


Pasangan yang akan segera menikah itu tampak berbinar dan masuk ke dalam mobil mewah Richard.


"Mobil baru?"


"Udah lama, tapi aku jarang makenya." Amanda manggut-manggut mengerti.


"Nanti kita coba disini yah...." sambung pria mesum itu lagi.


"Ish, otak kamu emang yah ... heran deh."


Richard tertawa dan mengambil tangan kanan Amanda, menggenggamnya sambil membawa mobil.


"Trus?"


"Dia ngirimin duit ganti rugi untuk gaunnya yang gak jadi di pake."


"Trus?"


"Yaudah, dia juga ngomong kalo dia mau ketemu Ardi katanya buat selesein hubungan mereka."


Richard berdecak, memangnya perlu yah wanita itu mengatakan tentang hubungan dia dengan Ardi yang bakal berakhir sama tunangannya ini.


"Kok diem?" tanya Amanda menatap pria yang tengah membawa mobil di sampingnya.


"Yah trus aku harus bilang apa?"


"Ya nggak pa-pa."


"Aku nggak suka aja dia ngomong begitu sama kamu! Apa alasannya coba ngasih tau hubungan dia sama si sapii!" kesal Richard.


"Sapii?"


"Mantan kamu si Ardi!"


Amanda tertawa terbahak mendengar Richard mengatai Ardi dengan nama hewan malas bergerak itu. "Kamu kok bisa sama sih kayak Monik...."


Richard mengernyit. "Maksudnya?"


"Monik juga ngatain Ardi, sapii. Astaga ... kok kalian bisa sama sepemikiran begitu sih," sahutnya masih tertawa.


"Emang dia pantes kok dikatain begitu!"


"Iya, iya ... jangan marah, Chad. Aku yakin Betty nggak punya maksud apa-apa ngomong tentang itu sama aku. Yah, mungkin dia pengen mengeluarkan unek-uneknya aja kali...." bujuk Amanda mengusap tangan kekar yang terus menggenggam tangannya.


"Iya, ok...."


Selesai makan, Richard membawa Amanda menuju rumah kakaknya Rena. Berada di kawasan elit di kota ini, sebuah rumah bergaya modern minimalis berdiri dengan kokohnya di tempat itu.

__ADS_1


"Wah, kakak kamu suka tanam bunga yah Chad?" tanya Amanda terpukau melihat banyaknya bunga-bunga cantik di depan rumah mereka.


"Iya, hobby katanya."


"Wah, sama kayak mama. Aku harus belajar nanam bunga nih sama kakak kamu."


"Nggak usah, nanam bibit dari aku aja udah cukup!" canda pria blasteran itu.


Amanda berdecak dan mengikuti langkah kaki Richard, tangan keduanya masih asik berpegangan sejak tadi.


"Auntie...." teriak Keith keponakan Richard.


Anak kecil berumur lima tahun itu berlari menghambur memeluk Amanda saat dia dan Richard masuk kerumah Rena.


"Hai Keith, how are you?" (Hai Keith, apa kabarmu?), Amanda menyambut pelukan hangat anak tampan itu.


"I'm good auntie. Kenapa baru dateng sekarang? Keith, kan kangen auntie...." sahutnya manja.


"Eh, udah bisa ngomong bahasa, yah?" kaget Amanda.


"Iya Manda, dia belajar bahasa setelah pulang dari pertunangan kalian waktu itu. Katanya biar bisa ngomong lebih banyak lagi sama kamu," sela Rena yang sejak tadi mendengar pembicaraan anak sulungnya dengan calon adik iparnya ini.


"Wah ... hebat, Keith anak pintar rupanya." puji Amanda mengelus kepala Keith.


"Udah, udah. Auntie-nya mau duduk dulu!" Richard ikut menyela pembicaraan mereka dan menarik Amanda duduk di dekatnya.


Anak kecil berusia lima tahun itu akan semakin mendominasi Amanda kalau dia tidak segera menariknya kesisinya pikirnya.


"Apa sih," protes Amanda mencubit pinggang Richard.


"Aww ... sakit By," ringisnya.


"Anak kecil aja dicemburuin, gimana nanti kalo udah punya anak!"


"Ya itukan beda lagi By...." sahut pria itu beralasan.


"Jadi kapan kalian nikah?" Rena ikut duduk di kursi sofa tamu rumahnya.


"Tanggal sepuluh Ka, bulan depan."


"Hah? Kok udah bulan depan? Bukannya tiga bulan lagi?" kaget Rena.


"Kelamaan itu. Aku udah booking tempat semuanya udah siap, besok kita mau cobain baju pengantin."


"Hah?" kaget dua orang wanita itu.


"Kok nggak bilang-bilang sih, Chad?" tanya Amanda lebih dulu.


"Ini jugakan lagi dikasih tahu By."


"Ya tapi kalo Ka Rena nggak tanya mana mungkin kamu ngomong ke aku!" kesalnya bersedekap dada.


Dua orang yang akan menikah itu akhirnya berdebat hingga Rena hanya bisa geleng-geleng kepala melihatnya. Astaga ... semoga aja pas udah nikah nanti mereka gak bertingkah kayak gini lagi pikirnya.


.


.


.


.


.


.


.


Guys, doain yah biar karya author ini bisa di terima kontrak disini...


Ada beberapa bab yang harus di revisi sama author,, jadi mungkin awal-awal bab ada yang berubah...


Tapi tenang aja ceritanya tetap sama kok...

__ADS_1


__ADS_2