
"Jangan lupa besok kita berangkat ke Kalimantan, Nal."
"Iya, udah tau! Berapa kali lagi Lo harus ingetin gue, hah?!" kesal Donal.
"Eh, udah yah?" sahut Richard menyengir. "Yaudah, gue duluan yah. Amanda minta ditemenin di butik hari ini."
"Aduh, enak banget yah yang Bos main pergi gitu aja. Nggak mikirin bawahan yang belum makan siang daritadi!" sinis Donal.
"Emang siapa yang suruh Lo jangan dulu makan?! Kalo udah tahu jam makan siang ya makan dulu, lah. Nggak usah bawa-bawa bos segala!" sahut Richard tidak kalah sinis.
"Iya, ok. Bawahan emang selalu salah."
Richard berdecak beranjak dari kursi depan meja Donal. "Serah Lo! Gue pergi dulu, bye!"
Pria dengan tato melingkar di lengan kanannya itu berjalan meninggalkan ruangan sekretarisnya. Meski menggerutu dan mengeluh, tapi nasib menjadi bawahan harus diterima Donal dengan lapang dada.
Jika tidak mengingat perjodohan tidak masuk akal yang diatur oleh ibu dan ayahnya, Donal mana mau bekerja menjadi babu begini. Mungkin dia harus cepat-cepat mengenalkan Celin pada kedua orang tuanya, pikirnya.
Mengingat wanita berambut panjang itu, Donal mengambil telepon kantor untuk menghubungi kepala divisi dimana Celin ditempatkan. Dia tidak sempat menemui wanitanya semalam karena sibuk dengan pekerjaan tambahan yang diberikan Richard.
Karena mereka akan berangkat ke Kalimantan, ada beberapa laporan yang harus segera Donal selesaikan. Jadi pria berkulit sawo matang itu pun memilih menemui Celin hari ini di kantor, sekalian makan siang bersama. Mungkin dia juga akan menahan wanita itu di ruangannya sampai jam pulang kantor nanti.
"Halo, Pak. Bisa tolong panggilkan nona Celin kesini?" ujar Donal setelah panggilan itu tersambung.
"Maaf, Pak. Tapi nona Celin baru saja mengundurkan diri dari perusahaan, Pak Donal," sahut kepala divisi dari ujung telepon.
"Apa? Mengundurkan diri?" kaget Donal.
"Iya, Pak. Dia baru saja mengirimkan email surat pengunduran dirinya tadi pagi. Saya juga tidak tahu kenapa tiba-tiba nona Celin berhenti."
Donal menutup panggilan telepon setelah mendengarkan penuturan kepala divisi berkepala plontos itu. Buru-buru dia menyelesaikan pekerjaannya yang memang tinggal sedikit lagi.
Dia harus kerumah Celin sekarang, dia harus mencari tahu kenapa wanita itu berhenti bekerja dari perusahaan ini.
Dalam langkah panjang menuju basemen untuk mengambil mobil, bunyi dering ponselnya mengalihkan perhatian pria itu. Donal langsung mengangkatnya tanpa melihat nama pemanggil tersebut.
"Halo...."
"Halo, Nal. Lo dimana?"
"Ini siapa?" tanya Donal menjepitkan ponselnya di antara pundak dan telinga.
"Astaga ... Lo nggak save nomor gue, yah?"
"Nggak tau, ini siapa sih?" ketus Donal mulai menyalakan mobil.
"Ish, gue Mawar! Lo masak gak kenal suara gue sih!" sahut wanita berkulit putih itu kesal.
__ADS_1
"Oh iya sorry, War. Gue lagi ada urusan soalnya, kenapa Lo nelpon gue?"
"Urusan apa? Penting gak?" sahut Mawar balik bertanya.
"Iya penting banget. Sorry yah gue tutup dulu, gue lagi keburu waktu ini, bye!"
"Eh tapi, Nal...." Belum sempat selesai berbicara, Donal sudah menutup panggilan teleponnya.
Mawar hanya bisa mendengus kesal membanting ponselnya ke kursi samping kemudi. Dia baru saja tiba di halaman perusahaan untuk menemui Donal.
Karena Amanda yang minta ditemani oleh Richard, wanita itu di perbolehkan pulang lebih cepat dari biasanya oleh bosnya. Mawar ingin menggunakan kesempatan ini untuk bisa berduaan dengan Donal.
Apalagi dia dengar kalau pria itu akan berangkat selama lima hari bersama Richard, besok. Mawar berharap mereka bisa bertemu dulu sebelum Donal pergi.
"Sial! Lagi-lagi gue kalah cepet!"
Mawar memukul kemudi mobil berlalu meninggalkan halaman perusahaan. Dia yakin kalau Donal pasti akan menemui Celin, hingga mengabaikan dirinya.
Tiba di depan rumah minimalis yang dulu pernah Donal singgah untuk mengantarkan Celin, pria itu turun dan mengetuk pintu pagar yang terkunci.
"Siang...!" Donal setengah berteriak karena rumah itu terlihat sangat sepi.
Sambil mengetuk pagar besi dengan batu yang dia pungut, Donal terus bersuara hingga seorang tetangga dirumah itu keluar.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya seorang wanita paruh baya memakai daster batik.
"Oh, non Celin. Dia udah berangkat tadi pagi sama keluarganya."
"Berangkat?" Wanita itu mengangguk.
"Berangkat kemana, Bu?" tanya Donal lagi.
"Katanya sih keluar negeri, tapi nggak tau juga kalo bener."
Donal kaget mendengar jawaban dari wanita yang tinggal di samping rumah Celin. "Mereka dari kapan berangkatnya, Bu?"
"Tadi pagi-pagi sekitar jam enam deh kalo nggak salah. Bapak emang siapa?"
"Oh, saya pacarnya Celin."
"Pacar?"
Kali ini giliran Donal yang mengangguk. Wanita itu terlihat menatap dari atas ke bawah penampilannya.
"Saya nggak tau kalo, non Celin udah punya pacar." sahutnya masih mengamati Donal.
Donal tidak menggubris ucapan wanita itu dan malah bertanya tentang kepergian Celin. "Ibu tau nggak kapan mereka balik?"
__ADS_1
"Wah kalo itu saya nggak tau, Pak. Mungkin mereka nggak bakal balik kesini lagi deh, soalnya rumah ini juga udah dijual."
"Apa? Dijual, Bu?"
"Iya, Pak. Katanya pacar, kok kayak gak tau apa-apa tentang non Celin sih?"
Donal hanya tersenyum masam dan pamit meninggalkan depan rumah minimalis bercat putih abu-abu itu.
Masuk ke dalam mobilnya, Donal menekan nomor ponsel Celin namun tidak kunjung tersambung. Selama beberapa kali mencoba, panggilan itu masih saja sama.
"Lo kemana sih, Cel?" Donal kesal sendiri dan melempar ponselnya ke atas dashboard mobil.
Menyandarkan kepalanya mencoba menenangkan diri, Donal melihat ponselnya bergetar.
Sebuah pesan masuk terlihat dari nomor tidak dikenal. Donal membuka itu dengan malas namun begitu terkejut saat melihat nama Celin ada di sana.
'Hai, Nal. Maaf gue pergi gak bilang-bilang. Gue tau Lo sekarang pasti sedang nyariin gue di rumah. Maaf yah, tapi gue nggak bisa pamit secara langsung sama Lo. Gue takut gue gak mampu. Mungkin emang lebih baik kita kayak gini, sekarang Lo udah bebas. Lo bebas mau ngapain aja, gue yakin Lo pasti bahagia suatu saat nanti. Jangan cari gue lagi yah ... bye, Nal.'
Selesai membaca pesan masuk dari Celin, Donal segera menghubungi nomor itu. Namun kekecewaan lagi-lagi harus diterima Donal karena nomornya yang tidak bisa dihubungi.
Donal merasakan hatinya berdenyut sakit saat membaca ulang isi pesan tersebut. Dia tidak bisa menerima Celin yang malah pergi meninggalkan dirinya tanpa penjelasan apapun.
Cuman karena salah paham waktu itu, Lo tinggalin gue, Cel? Tega banget sih Lo sama gue. Mata Donal sontak terasa penuh, sebuah bulir kristal jatuh membasahi pipinya.
Ini pertama kalinya seorang Donal menangisi wanita, ternyata se sakit ini ditinggal pergi oleh seseorang di saat sedang sayang-sayangnya, pikirnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sabar yah, Nal....
Ini hanya ujian Nasional untukmu 🤭
__ADS_1