
Seperti janji Amanda pada Amel dan dirinya sendiri, wanita itu membawa Richard ke tempat peristirahatan terakhir ayahnya Doni.
Bertempat di sebuah pemakaman umum dekat rumah mereka, Amanda datang sambil membawa bunga kesukaan ayahnya di tangan.
Richard menggandeng bahu Amanda dengan kacamata hitam bertengger di hidung mancungnya.
Suasana hati Amanda selalu berubah sedih jika dia datang mengunjungi makam Doni, itu terlihat dari bagaimana dia hanya diam berjalan bersama Richard dengan pikiran yang melayang jauh.
"Selamat siang Pa...." sapa Amanda pada sebuah makam bertuliskan nama Doni Ninda di batu nisannya.
"Maaf baru sempet mengunjungi papa lagi," sambung Amanda duduk di tepi makam.
Richard ikut mendudukkan dirinya di samping Amanda sambil terus menatap makam ayah mertuanya.
"Papa pasti bingung, kan kenapa aku bawa cowok kesini?" Amanda diam sejenak tersenyum pahit.
"Ini suami aku Pa, aku udah nikah sekarang. Maaf karena nggak ngasih tau Papa dulu. Aku udah janji sama Papa, kan kalo aku bakal bawa cowok tapi kalo cowok itu udah sah jadi suami aku. Dan hari ini, aku udah bawa dia Pa." Amanda berpindah menatap Richard yang sudah membuka kacamatanya.
"Bener Pa, maaf karena aku juga nggak minta izin dulu mau nikah sama Amanda. Namaku Richard Klose. Aku pria yang akan menggantikan papa menjaga Amanda sampai nanti. Mohon kiranya papa mau merestui pernikahan kami...."
Airmata haru dan kebahagiaan tidak mampu lagi ditahan oleh Amanda. Dia bersyukur karena mendapatkan jodoh sebaik dan sesempurna Richard. Baginya pria ini seperti malaikat yang datang disaat hatinya tengah terluka dan jatuh.
"Jangan nangis By, nanti papa pikir aku nggak serius lagi sama ucapan aku barusan...." sambung Richard menghapus airmata di pipi tirus Amanda.
Wanita itu tertawa sambil memukul lengan Richard manja. Dia memang paling tahu menggodanya dan membuat suasana hati Amanda menjadi hangat.
"Aku nggak akan janji, tapi aku bakal buktiin kalau aku akan selalu ada disamping kamu baik susah maupun senang, maupun dalam keadaan sakit dan sehat."
Richard menarik dagu Amanda dan mencium mesra bibir tipis merah mudanya. Di depan makam ayah mertuanya, dia bersumpah akan selalu menjaga dan melindung Amanda sampai akhir nafasnya. Mencintai wanita itu dengan setulus hati, dan selalu setia menjaga cinta dihatinya untuk Amanda bersama anak-anak mereka kelak.
"Makasih Chad, i love you...."
Richard tersenyum dan kembali menautkan bibir mereka satu sama lain menyalurkan rasa hangat dan cinta yang dalam di hati mereka.
Tepat pukul dua siang Richard dan Amanda berangkat dari bandara internasional Soekarno Hatta menuju bandara internasional Velana, Maldives.
Menaiki pesawat komersial dan duduk di bagian first class, Richard dan Amanda sama-sama menikmati waktu kebersamaan mereka selama delapan jam tiga puluh menit, dengan satu kali transit di salah satu negara.
Bercanda, tidur, dan saling menyuapi satu sama lain mengisi kegiatan mereka selama di pesawat. Richard dan Amanda sudah tidak sabar untuk segera sampai ke tempat yang sering di sebut surganya dunia.
__ADS_1
"Mau ke toilet gak By?" tanya Richard saat lampu pesawat sudah di redupkan oleh pramugari.
"Ngapain?"
"Temenin pipis."
"Pipis?"
"Iya."
"Gak berani emang?" Richard mengangguk. "Yaudah."
Richard tersenyum senang dan lebih dulu berdiri berjalan menuju toilet pesawat. Amanda mengikuti suaminya dari belakang tanpa berprasangka apa-apa pada Richard.
"Aku tunggu disini aja," ujar Amanda saat keduanya tiba di depan pintu toilet.
Richard mengangguk dan mulai membuka pintu toilet, sedikit celingak celinguk menatap ke sekitar. Pria itu tiba-tiba menarik tangan Amanda hingga keduanya masuk ke dalam ruang berukuran sempit, yang sebenarnya hanya dikhususkan untuk satu orang saja.
"Kamu apa-apaan sih Chad?!" kesal Amanda memukul dada pria itu.
"Sstt ... jangan berisik," sahut Richard menempelkan jari telunjuknya ke bibir Amanda.
"Iya aku tau, makanya jangan gasrak gusruk biar kita gak makin sempit disini." Richard tersenyum nakal dan mulai menyentuh paha mulus Amanda.
Wanita itu memakai rok di atas lutut yang sejak tadi membuat pikiran dan mata Richard tidak bisa fokus.
Iya, setelah mereka transit tadi, Amanda sudah mengganti pakaiannya dengan rok berwarna kuning langsat, yang dipadu padankan bersama kaos putih press badan.
Belum lagi dengan sepatu kets berwarna senada dengan kaosnya, makin membuat penampilan desainer muda itu terlihat menggemaskan. Amanda sudah seperti girlband Korea, pikir Richard.
"Chad, jangan aneh-aneh deh kamu. Kita lagi di pesawat ini Chad, kamu mau kita di lempar pilot dari sini, hah?!" kesal Amanda menepis tangan kekar Richard dari pahanya.
"Mana berani mereka mau lempar kita, tenang aja ... nggak bakal ada yang tahu kita main disini."
Richard makin gencar menyentuh setiap sudut tubuh istrinya, dia harus cepat sebelum ada penumpang lain yang ingin memakai toilet ini.
Ah, Amanda tidak habis pikir dengan pikiran Richard saat ini. Entah ide gila darimana sampai Richard memaksa ingin bermain bersamanya di dalam sini.
Di tengah suasana yang serba sempit dan udara yang terbatas, dua orang itu mulai bermandikan peluh. Richard malah makin gila menyodokk Amanda dari belakang dengan suara yang tertahan dari bibir wanitanya.
__ADS_1
"Sssttt...." Richard menutup mulut Amanda dan terus memaju mundurkan tubuhnya merengkuh kenikmatan bersama.
Sambil menatap pantulan mereka di balik kaca dalam toilet, Richard begitu bersemangat dan seksi dengan dahi yang penuh keringat bercucuran.
Amanda bisa gila karena permainan pria ini, sentuhan jari jemarinya di area hangat di bawah sana membuat Amanda makin kuat merintih di balik tangan kanan Richard yang menutup mulutnya.
Hampir sepuluh menit terkurung di tempat yang pengap dengan tubuh seakan melayang nikmat tiada tara, Richard berhasil menyemburkan miliknya dengan nafas yang terengah-engah.
"Aku nggak mau lagi kek gini, Chad!" keluh Amanda dengan rambut basah karena keringat.
Pria blasteran itu hanya tersenyum tanpa merasa bersalah, sambil menaikkan celananya.
"Tapi enak, kan By?" goda Richard mengusap peluh di dahi Amanda.
"Udah sana keluar, aku mau bersih-bersih dulu!"
"Iya, iya ... jangan galak-galak ih." Richard tertawa geli dan keluar dari dalam toilet pesawat meninggalkan Amanda di dalam.
Tatapan aneh langsung terlihat dari seorang wanita tua yang berdiri dekat dengan toilet, menunggu ingin memakai ruangan itu juga. Richard sampai terkejut melihat wanita berkewarganegaraan asing tersebut.
"I'm sorry, there are still people inside." (Maaf, masih ada orang di dalam).
Richard melangkah cepat meninggalkan wanita tua yang geleng-geleng kepala menyadari apa yang baru saja terjadi di dalam toilet pesawat.
.
.
.
.
.
.
Hadeh ...
Serah Lo deh, Bang Chad 🤭😆
__ADS_1