Touch Me Slowly

Touch Me Slowly
Usaha Manis


__ADS_3

Pulang ke Jakarta, Mike membawa Manis pulang ke rumahnya. Di sana keluarganya sudah menunggu kepulangan dua orang yang akan segera menikah itu, dengan jamuan makan siang yang sudah disiapkan Linda ibu tirinya.


Jamuan ini sama sekali tidak diketahui oleh Mike dan Manis. Saat mereka tiba di sana, Mike kaget mendapati rumahnya terbuka dengan dua mobil di halaman depannya.


"Siapa yang dateng Mike?" tanya Manis.


"Nggak tau, tapi kayaknya itu mobil papi, deh...," sahut Mike turun dari mobil.


Manis mengikuti calon suaminya masuk ke dalam rumah.


"Surprise...!" Teriakan penyambutan keduanya dari dalam rumah terdengar memenuhi ruangan depan dengan spanduk bertuliskan selamat datang calon pasangan suami istri.


"Kakak ... selamat, yah." Lila lebih dulu mendekati Manis dan Mike yang kaget.


Di depan keduanya berdiri Jessie, Linda dan ... Moses. Mike makin kaget melihat pria paruh baya itu juga berada di sana. Tidak biasanya Moses akan berkumpul begini dengan mereka ataupun mengunjungi dia dirumahnya.


"Selamat, yah Manis ... Mike." Jessie ikut memberikan selamat memeluk dua cucunya bergantian.


"Makasih Oma," sahut Manis membalas pelukan Jessie hangat.


"Jaga kesehatan kalian berdua, yah? Bentar lagi udah mau nikah. Jangan kebanyakan begadang."


Manis mengangguk. "Iya Oma. Makasih."


Linda maju bergantian mendekati Mike anak tirinya. Baru dua langkah berjalan, pria blasteran itu sudah masuk ke dalam rumah meninggalkan mereka.


"Mau kemana kamu Mike?!" sentak Moses.


"Masuk, kenapa? Nggak boleh? Ini rumah aku kalau perlu Papi inget!" sinis Mike.


"Kurang ngajar! Kamu memang nggak ada sopan-sopannya sama orang tua!"


"Orang tua? Sekarang udah ngerasa jadi orang tua, yah? Kemana aja kemarin-kemarin?" Mike tertawa sinis berjalan naik ke lantai dua.


"Kamu—"


"Udah, Pi. Jangan merusak hari ini," sela Linda menenangkan suaminya.


"Dengerin tuh apa kata istri kesayangan Papi!" sinis Mike lagi membanting pintu kamarnya dengan kuat.


Pria itu tidak suka melihat Linda ada disini bersama mereka. Belum lagi melihat Moses yang baru sekarang mau datang ke rumahnya, membuat Mike semakin muak karenanya. Entah apa lagi yang diinginkan Moses darinya, pikir Mike.


"Maafin Mike, Mi. Dia-"


"Nggak pa-pa, Nis," potong Linda cepat. Mereka sedang berada di dapur sembari membersihkan sisa makan siang mereka di atas meja.

__ADS_1


"Mami udah biasa hadepin sikap Mike begitu sejak dulu. Kamu nggak usah khawatir," sambung Linda berusaha lapang dada.


Sejak memutuskan menikah dengan Moses dan masuk ke dalam keluarganya, Linda memang sudah tidak disukai oleh anak tirinya itu.


Bahkan Mike terkesan membenci dia dan menuduh kalau ibunya meninggal karena Linda. Entah dari mana Mike bisa menyimpulkan semua itu.


"Aku bakal berusaha bujuk Mike buat buka amplop itu, Mi."


Linda terlihat membuang nafas panjang, dia sudah yakin kalau Mike pasti tidak akan membukanya. Anak tirinya itu memang tidak mau menyentuh apapun yang dia berikan sejak dulu.


"Nggak usah dipaksain, Nis. Mike paling nggak mau ngomongin masalah ini. Bisa-bisa dia marah sama kamu," sahut Linda mengingatkan.


Manis mengangguk mengiyakan ucapan calon mertuanya. Mungkin dia akan mulai malam ini untuk memberitahukan yang sebenarnya pada Mike, pikir wanita muda itu.


"Kamu kok nggak turun makan Mike?" Manis masuk ke dalam kamar mereka.


"Males. Mereka masih dibawah?"


"Udah pulang barusan. Kamu nggak laper?"


"Laperlah, ayok temenin gue makan...." ajak Mike bangkit dari ranjang.


"Jadi kalo mereka nginap disini kamu bakal nahan lapar terus sampe mereka pulang?" Manis mengikuti Mike berjalan di sampingnya.


"Mereka nggak bakal betah tinggal disini, terutama Papi! Dia mana mau tidur dirumah sederhana kayak gini, gue aja heran kenapa dia bisa dateng kesini setelah beribu purnama."


"Eh, ada semur ayam juga?" Mike menatap berbinar makanan kesukaannya di atas meja.


"Iya, kami sisain ini buat kamu...."


Mike mulai makan dengan lahap, rasanya bahkan masih sama seperti dulu. Omanya memang paling jago membuat semur ayam setelah ibunya, pikir Mike.


"Kenyang banget...." Mike menepuk-nepuk perutnya yang sedikit membuncit.


"Mami pasti seneng kamu habisin makanan yang dia buat Mike."


Mike mengernyit. "Maksud Lo?"


"Eh, kamu nggak tau, yah kalo semur yang selalu kamu makan selama ini itu dimasak sama mami?" tanya Manis mulai memberikan satu fakta baru yang tidak Mike ketahui.


"A-apa? Lo tahu dari mana kalo yang masakin ini, si wanita itu?"


"Aku liat sendiri tadi mami masak, kok. Dia bilang kalo kamu paling suka sama semur ayam buatan dia, mami sampe kasih resepnya, loh buat aku."


Mike diam dengan pikiran yang berkecamuk. Selama ini dia pikir omanya yang selalu memasakkan semur ayam kesukaannya setelah ibunya meninggal.

__ADS_1


Tapi kenapa sekarang malah Linda yang memasaknya? Apa omanya sengaja memberitahukan resepnya pada Linda agar bisa menarik perhatian dia?


"Kata mami, sejak kecil kamu paling suka makan semur ayam buatan dia. Hampir setiap hari kamu maunya makan itu doang," sambung Manis sengaja membuat Mike bingung.


"Maksud Lo, dia yang masak semur ayam ini dari gue kecil? Gitu?" Manis mengangguk.


"Ya nggak mungkinlah, Nis. Dia udah bohongin elo, nyokap gue yang dulu sering masakin ini. Trus sekarang Oma gue yang gantiin, jangan gampang percaya sama dia!"


"Gimana kalo emang beneran mami yang sering masakin kamu dari dulu Mike?"


Pria itu menggeleng cepat. "Enggak, Nis. Pikiran Lo udah diracunin sama dia! Gue udah bilang jangan deket-deket sama wanita itu, dia bisa nyuci otak Lo biar Lo kasian trus percaya sama dia!"


Manis diam menatap dalam pria di depannya. Wanita itu bangkit berdiri meninggalkan Mike di meja makan, masuk menuju kamar pertamanya di rumah ini.


"Lo kenapa lagi, Nis?" pekik Mike melihat calon istrinya pergi begitu saja.


Dia duduk dengan pikiran yang bertanya-tanya, kalau memang benar Linda yang sering memasakkan semur ayam untuknya sekarang. Lalu kenapa rasanya bisa sangat sama dengan masakan ibunya?


Mike masih sibuk dengan pikirannya dan tidak menyadari kalau Manis sudah keluar dari kamar dan tengah berada di ruang TV rumah itu.


Manis memasukkan sebuah flashdisk ke dalam layar TV dua puluh empat inch dan mulai menyalakan sebuah video di sana.


"Mike...!" panggil Manis.


"Kenapa?" Pria itu bangkit mengikuti Manis di ruang TV.


"Mau nonton?"


"Nonton apaan? Film biru, yah?" canda Mike duduk di dekat Manis.


"Film biru apaan, sih?" tanya Manis polos.


"Nanti gue tunjukin sama Lo kalo kita udah nikah. Sekalian Lo belajar cara nyenengin biji."


Manis berdecak mulai memutar sebuah video di depan mereka.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Ikut penasaran dengan videonya 🤔


__ADS_2