
"Richard, kamu kenapa, Nak?" tanya ibu mertuanya baru tiba di sana.
"Manda, Ma...."
"Manda kenapa?" tanya Amel mulai khawatir.
"Nggak pa-pa Tante, dokter lagi periksa dia di dalem," sahut Donal lebih dulu. Dia tidak ingin membuat dua orang itu sama-sama ketakutan karenanya.
"Emang anak Tante kenapa, Nal?"
"Nggak pa-pa, Tan. Tenang aja, dokter lagi di dalem. Aku udah bilang sama Richard buat tenang, tapi dia nggak mau denger dan malah nangis begini disini."
Richard memang masih duduk di atas lantai sambil menangis, beberapa orang yang lewat di sana menatapnya miris dan kasihan. Pria itu terlihat berantakan dengan mata bengkak dan merah, karena menangis sejak tadi.
Amel mengangguk, memberi kode pada Donal untuk mundur menjauh dari Richard. Wanita itu memegang pundak menantunya menatap manik mata cokelat muda Richard dalam.
"Kamu musti tenang, Chad. Amanda butuh kamu sekarang. Kalo kamu lemah, istri kamu bisa ikut lemah di dalam sana. Dia bisa ngerasain apa yang kamu rasakan!" ujar wanita paruh baya itu memberi keyakinan pada menantunya.
Meski dia sendiri pun takut dengan berita tidak enak yang bisa kapan saja datang, tapi Amel ingin Richard bisa lebih tegar lagi.
Dia yakin kalau anak perempuannya pasti kuat, Amanda sedang berjuang di dalam sana. Amel ingin agar Richard terus mendoakannya dari luar sini.
"Bangun, Chad. Kamu mesti kuat demi Amanda!"
Pria blasteran itu mengangguk dan ikut berdiri bersama ibu mertuanya. Apa yang dikatakan Amel memang benar, dia tidak boleh lemah. Amanda sedang berjuang sendiri sekarang, yang bisa dia lakukan saat ini hanyalah berdoa untuk istrinya.
Memohon pada Yang Empunya Hidup untuk memberikan kesempatan dan kesembuhan untuk Amandanya.
Richard mengusap wajah dan menghembuskan nafas panjang, dia berusaha tegar dan tenang bersama Amel yang tersenyum lega melihatnya.
Menantu dan ibu mertua itu saling berpegangan tangan, seakan sedang menguatkan satu sama lain.
Donal ikut tersenyum melihat sahabatnya sudah lebih tenang sekarang, dia yakin kalau Richard pasti kuat melewati cobaan ini.
Bunyi pintu ruangan ICU dibuka mengalihkan perhatian ketiganya. Dokter Brian keluar bersama seorang dokter wanita yang lain.
"Gimana keadaan istri saya, Dok?" Richard maju mendekati mereka dengan wajah khawatirnya.
"Kondisi ibu Amanda sudah stabil kembali sekarang, Pak. Bapak dan Ibu tidak perlu khawatir, detak jantung istri Bapak memang sempat melemah tadi. Kami berusaha semampu kami untuk menyelamatkan nyawanya, ibu Amanda ternyata masih punya semangat untuk hidup," sahut Dokter Brian panjang lebar.
Wajah kelegaan langsung terpancar dari ketiga orang itu, diikuti ucapan syukur yang bersamaan keluar dari mulut mereka.
__ADS_1
"Terima kasih, Dok. Terima kasih banyak...." Richard memegang tangan pria yang memakai jubah putih di depannya dengan bahagia.
"Sama-sama, Pak Richard. Ini sudah tugas kami untuk mengupayakan keselamatan jiwa pasien."
Richard mengangguk, bersyukur wanitanya masih bisa diselamatkan.
"Kita akan lihat perkembangan kondisi istri Bapak beberapa hari ke depan. Semoga saja kondisinya akan lebih baik, dan ibu Amanda bisa segera bangun dari komanya."
Dokter Brian dan satu dokter wanita yang menemaninya tadi di dalam ruang ICU berlalu meninggalkan tiga orang tersebut.
Richard bisa bernafas sedikit lega karena Amanda masih ada dengannya, meski dalam keadaan koma tidak sadarkan diri.
Pria itu memutuskan masuk ke dalam ruang ICU, bertemu dengan istrinya setelah mimpi buruk yang menimpanya tadi.
"Aku mau liat Amanda dulu, Ma." Amel mengangguk mengerti.
"Nal, titip mertua gue." sambung Richard menatap sahabatnya.
"Ok."
Pria dengan mata sembabnya itu masuk ke dalam ruangan ICU dan mengganti pakaiannya dengan baju steril.
Richard menarik kursi, duduk di samping wanita yang hampir pergi meninggalkan dia untuk selamanya.
"Aku cuma mau kamu janji satu hal sama aku ... kamu, nggak akan pernah nyerah dan ninggalin aku lagi. Aku bakal selalu ada disini buat kamu, aku akan nungguin kamu sampe kamu siap buka mata lagi. Aku nggak akan nyerah untuk cinta kita Beby, aku nggak akan lelah menunggu dan akan selalu berdoa untuk kesembuhan kamu." Richard mencium punggung tangan Amanda dan juga dahinya. Air mata kembali merembes keluar dari dua matanya.
Dia sudah berjanji akan menunggu Amandanya, menunggu hingga hari bahagia penuh canda tawa itu kembali menghampiri hidup mereka berdua. Richard yakin kalau Amanda pasti sembuh dan bisa bangun dari koma.
"Gue duluan yah, Chad. Sorry gue nggak bisa lama-lama, bokap Lo udah nelpon gue tadi." Donal mendekati sahabatnya yang baru saja masuk ke dalam ruang perawatan VVIP.
"Iya, makasih, Nal."
"Makasih apa, sih? Lo sahabat gue, nggak usah pake ngomong begitu segala! Geli tau gak gue dengernya," canda Donal ingin menghibur pria di depannya.
Richard hanya tersenyum tipis menanggapi candaan sahabatnya.
"Yaudah gue pergi, yah. Tadi tante Amel ke kantin, katanya mau beliin Lo sarapan."
"Iya, hati-hati Lo."
Donal mengangguk keluar dari sana. Sebelum memutuskan pergi ke perusahaan batu bara di mana selama ini dia bekerja, pria berhidung mancung itu menyempatkan diri menjenguk Mawar di ruangannya yang berbeda satu lorong dengan ruangan VVIP tadi.
__ADS_1
Donal sedikit mengintip di balik kaca pintu ruang perawatan Mawar untuk memastikan ada siapa saja di dalam sana. Ternyata wanita itu baru saja sadar dan tengah diperiksa oleh dokter Brian.
Terlihat seorang wanita paruh baya berdiri di samping ranjang Mawar, sedang menangis terharu penuh kelegaan. Sepertinya Mawar baik-baik saja pikir Donal.
Dia pun masuk setelah dokter Brian keluar dari dalam sana.
"Hai, War...." sapa Donal menatap wanita yang memakai cervical collar atau penyangga leher itu.
"Halo Tante," sapa dia lagi.
"Ini siapa, War?" tanya wanita itu pada anaknya.
"Sekretarisnya pak Richard, Bunda."
Wanita itu mengangguk dan tersenyum meninggalkan keduanya di dalam ruang perawatan Mawar.
"Gue seneng Lo baik-baik aja, War," sahut Donal membuka suara.
"Makasih, Nal." Wanita berkulit putih itu masih terlihat pucat, namun lebih baik dari kondisi Amanda saat ini.
"Manda keadaannya gimana, Nal?"
"Lo fokus sembuh dulu aja, War. Nggak usah pikirin yang lain," sahut Donal tidak ingin memberitahukan keadaan Amanda yang sebenarnya.
"Tapi, Amanda nggak pa-pa, kan?"
Donal hanya mengangguk tidak ingin bersuara. Mungkin akan lebih baik untuk Mawar tahu setelah dia sembuh, pikirnya.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Semoga Amanda bisa lekas bangun dari komanya yah, guys