
Bunyi panggilan di ruangan dokter Bryan, mengalihkan perhatian pria itu dari atas berkas data-data pasiennya.
Terlihat kalau panggilan itu berasal dari ruangan ICU di mana salah satu pasiennya bernama Amanda di rawat.
Buru-buru pria yang seumuran dengan Richard itu mengambil jubahnya yang tergantung di dekat kursi, dan melangkah cepat menuju ruangan tersebut.
"Apa yang terjadi?" tanya dokter Bryan pada seorang perawat wanita.
"Pasien tadi memberikan tanda-tanda bergerak, Dok," sahut perawat itu.
Dokter Bryan mengangguk, masuk ke dalam ruangan setelah memakai baju steril. Pria bertubuh tinggi itu mendekati Amanda yang terbaring lemah dengan tubuh yang pucat.
Memeriksa detak jantung dan pupil mata Amanda, dokter Bryan terkejut melihat gerakan samar di jari-jari tangannya. Apa wanita ini sudah mulai sadar dan merasakan sesuatu, pikir dokter Bryan.
"Ibu ... ibu Amanda?" Dokter Bryan mencoba memanggil nama wanita itu untuk mengecek kesadarannya.
Mata yang tertutup itu terlihat mulai bergerak namun masih tidak terbuka. Dokter Bryan semakin curiga dengan hasil pemeriksaannya tadi.
"Ibu, saya Dokter Bryan. Kalau Ibu mendengar saya ... tolong gerakkan apa saja yang bisa Ibu gerakan di tubuh Ibu."
Pria itu memperhatikan dengan seksama tubuh lemah Amanda, bersama satu orang perawat wanita yang berdiri di depannya.
Dokter Bryan kembali bersuara mencoba memanggil nama Amanda lagi berulang kali. Dalam panggilan ke berapanya, tiba-tiba saja jari-jari tangan Amanda bergerak semakin kentara dan intens.
Dokter itu sontak saling berpandangan dengan perawatnya, memberi kode satu sama lain.
"Pak Richard," panggil Dokter Bryan mendekati pria yang terlihat sangat berantakan itu.
"Ada apa, Dok?" tanyanya.
"Bisa kita bicara sebentar?" Richard mengangguk mengikuti dokter Bryan ke ruangannya.
"Silahkan duduk, Pak." Dua orang itu duduk saling berhadapan diantara meja kerja dokter Bryan.
__ADS_1
"Jadi begini, Pak. Tadi istri Bapak menunjukkan tanda-tanda kesadaran namun masih belum seberapa."
"Apa?" kaget Richard. "Maksud Dokter, istri saya sudah sadar?"
"Ini masih kecurigaan kami, Pak. Tadi saya sempat memanggil nama istri Bapak berapa kali, dan ibu Amanda menunjukkan respon yang baik. Dari sana kami bisa mengambil kesimpulan kalau istri Bapak ada kemungkinan akan segera bangun dari komanya. Kita berharap saja agar keajaiban itu bisa terjadi pada istri Bapak," sahut dokter Bryan panjang lebar.
Richard terdiam, mengusap rambutnya dengan dua tangan ke belakang. Dia masih kaget dengan fakta baru yang diberikan dokter Bryan padanya.
"Mulai sekarang Pak Richard harus terus mengajak ibu Amanda bercerita tentang apa saja. Panggil istri Bapak dan perbanyak bercerita tentang kehidupan kalian sebelum kecelakaan terjadi. Semoga saja melalui ini, ibu Amanda bisa segera sadar."
"Baik, Dok. Terima kasih...."
Richard berjalan dengan langkah kaki gontai menuju ruangan di mana istrinya di rawat. Mendengar penjelasan dokter Bryan barusan membuat pria itu tersenyum dengan mata yang memerah. Sedikit lagi dan dia bisa berkumpul dengan wanitanya, pikir Richard.
"Beby...." Pria blasteran dengan kantung mata yang menghitam, duduk di samping ranjang Amanda.
"Kata dokter kamu udah nunjukin tanda-tanda mau sadar, yah? Kangen, yah sama aku, By?" Richard tersenyum, menggenggam tangan dingin Amanda.
"Sama ... aku juga kangen banget sama kamu Beby. Aku kangen banget mau peluk kamu, kita udah lama nggak tidur sambil pelukan. Biasanya kamu paling sebel kalo aku udah megang kamu di sana sini, kan? Aku kangen banget liat wajah kesel kamu sama aku, By...." Mata Richard terlihat mulai berkaca-kaca menatap wajah pucat di depannya.
Hati pria itu tidak bisa berbohong, jika mengingat bagaimana Amanda sempat membuatnya kesal karena sedang hamil. Richard ingin sekali kembali ke masa itu.
Dia rela jika Amanda terus marah dan membuatnya jengkel, Richard berjanji akan lebih sabar menghadapinya dan terus berada di samping wanitanya.
Richard hanya berharap Amanda mau bangun dan kembali padanya, memberikan dia kesempatan untuk bisa merasakan kebahagiaan itu sekali lagi.
"Aku kangen kamu Beby, please ... tetep disini temenin aku sampe aku tua." Richard menangis tersedu di depan istrinya yang masih setia menutup mata.
Airmatanya tidak sengaja jatuh mengenai punggung tangan Amanda, hingga jari tangan kanan istrinya refleks bergerak.
Richard kaget menatap sekali lagi tangan mungil yang selalu dia genggam itu, bergerak dengan perlahan di depannya seakan memberi kode kalau dia mendengar ucapan Richard sejak tadi.
"Beby...," panggil Richard tersedu.
__ADS_1
"Kamu denger suara aku Beby?" Richard menatap bergantian wajah Amanda dan tangannya.
Wanita itu kembali memberi respon dengan intens. Senyum sumringah langsung menghiasi wajah Richard, hatinya sangat bahagia melihat kemajuan yang terjadi pada Amanda.
"Beby, ini aku Beby ... aku suami kamu, pria yang sempat kamu tolak tapi kamu inginin ada di ranjang kamu." Richard terus mengajak Amanda berbicara untuk membuat wanitanya sadar dari koma.
"Aku yang dulu selalu buat kamu mendesahh dengan sejuta fantasi aku selama ini. Aku yang juga yang selalu mencari rasa candu di tubuh kamu Beby, kamu ingat, kan?" Jari tangan Amanda kembali bergerak.
Richard semakin bersemangat mengajak wanitanya berbicara dan mulai menceritakan awal mula mereka bersama hingga menikah sampai sekarang.
"Kita nikah, trus kita pergi bulan madu ke Maldives, By. Aku masih ingat kamu godain aku nggak pake baju waktu itu ... aku ingat gimana kamu jalan deketin aku di kolam malu-malu, By. Aku ingat semuanya...." Richard tertawa sembari menangis, merasa geli dengan ucapannya sendiri berharap Amanda mau membuka mata.
"Aku juga ingat pertama kali kamu ngucapin cinta buat aku Beby ... aku seneng banget waktu itu. Nggak ada yang pernah bikin aku sebahagia itu sebelumnya. Ternyata perjuangan aku buat dapetin hati kamu bisa berhasil, By." Richard mulai menceritakan kembali masa-masa bahagia yang sudah mereka lewati bersama.
Meski Amanda masih menutup mata, tapi Richard bahagia. Usaha dan setiap doanya selama ini ternyata mulai membuahkan hasil.
Richard bersyukur karena Amanda mulai menunjukkan tanda-tanda kesadaran walau masih sedikit.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Semoga cepet sadar, yah Manda 🥺