
Dalam mimpinya Donal bermimpi bertemu dengan Celin. Wanita itu terlihat sangat cantik dengan rambut blonde-nya yang panjang.
Tersenyum dan mengusap pipi Donal yang dingin, tangan halus Celin begitu wangi di indera penciumannya.
"Jangan pergi lagi, Cel. Gue nggak sanggup jauhan sama Lo, gue butuh elo, Cel...." Donal bergumam dalam tidurnya, meraih tangan kecil mungil Celin, dan disandarkannya ke pipi.
Wanita berbibir penuh itu hanya tersenyum, mengusap kepala Donal lembut.
"Dingin, Cel...," keluh Donal mulai menggigil.
Tubuh pria itu sudah polos tanpa sehelai benangpun, dan hanya di bungkus dengan selimut tebal tiga lapis. Dia masih beranggapan kalau dia hanya bermimpi saat ini.
"Baju Lo basah, Nal. Gue nggak punya baju ganti buat Lo...," bisik Celin lembut.
"Dingin banget, Cel. Gue nggak sanggup...." Tubuh dengan perut kotaknya mulai bergetar di balik selimut.
Celin mulai kebingungan tidak tahu harus berbuat apa. Buru-buru dia mencari tahu di internet tentang cara menghangatkan tubuh seseorang yang kedinginan dengan cepat.
Ada beberapa cara yang dianggap ampuh tertulis di sana, salah satunya dengan berpelukan secara skin to skin (kulit dengan kulit).
Celin menelan salivanya kasar, bingung harus bagaimana. Jadi maksudnya gue musti buka baju trus peluk Donal gitu? Gumamnya dalam hati.
Dilema masih terus Celin rasakan hingga terdengar bunyi kertakan gigi dari arah Donal.
"Dingin, Cel...." Pria itu masih terus mengigau dalam tidurnya.
Celin tidak bisa berpikir lebih lama lagi, dia pun mengambil keputusan untuk melucuti semua pakaiannyaa. Dia harus bergerak cepat sebelum Donal mengalami hipotermia akut, dan berimbas pada kondisi tubuhnya yang menurun.
Tidak sampai lima menit, Celin sudah berhasil masuk bersama Donal di dalam selimut tebalnya. Pria itu masih menggigil di dalam sana dan terus memanggil-manggil nama Celin, dan berkata mencintainya.
Celin sampai malu sendiri melihat tingkah pria yang masih tidak sadarkan diri di samping dia. Berpelukan seperti ini malah membuat Celin gugup.
Meski bukan pertama kalinya mereka tidur bersama tanpa busanaa, tapi mendengar Donal terus berkata cinta untuknya membuat jantung Celin berdebar tidak tenang. Ternyata pria ini benar-benar mencarinya sampai kesini, pikirnya.
"Tidur aja, Nal. Gue ada disini sama Lo...," bisik Celin mengusap punggung pria itu.
Untuk Donal, ini adalah mimpi yang paling indah. Pria itu tersenyum di balik dekapan hangat Celin untuknya.
Denting lonceng alarm milik Celin di atas nakas berbunyi nyaring. Pria yang merasa tubuhnya sudah lebih baik dari semalam, mengerjapkan mata dan mengusap-usapkan wajahnya di benda kenyal yang terasa berbeda dari biasanya.
Apa ini? Gumam Donal berusaha menebak-nebak benda yang ada di depannya. Tangannya mulai menyentuh sudut benda yang berlekuk, dan halus.
Dalam mata yang masih berkunang-kunang, Donal sedikit mundur untuk memastikan ada benda apa di depannya.
"Astaga...!" Donal membola melihat dua benda kesukaannya berada tepat di depan mata pria itu.
"I-ini, kan—"
"Udah bangun?" potong Celin terbangun dari tidurnya.
"Ce-celin?" sahut Donal makin terkejut.
__ADS_1
"Apa sih, udah kayak liat hantu aja Lo!"
"Lo beneran Celin, kan?" Donal mulai meraba wajah wanitanya dan mencubit pipi Celin kuat.
"Aduh ... sakit, Nal!" ringis Celin.
"Ya ampun ... ini ternyata beneran elo, Cel," pekik Donal heboh sendiri.
Pria itu langsung menghambur, memeluk Celin penuh kerinduan. "Gue kira gue mimpi lagi ketemu elo, Cel ... gue nggak nyangka kali ini kita beneran ketemu." Suara Donal terdengar bergetar.
Memendam rindu selama berminggu-minggu pada wanita yang dia cinta, ternyata bisa membuat hati Donal rapuh juga. Pria dengan mata yang sedikit sipit itu begitu bahagia bisa memeluk Celin secara nyata.
"Gue nggak bisa napas, Nal!" Celin memukul lengan pria yang melingkar di tubuhnya.
"Nggak pa-pa, nanti gue kasih napas bantuan kalo Lo sesak napas," sahut Donal makin kuat memeluk tubuh polos wanitanya.
"Udah, ih ... Lo berat banget, Nal," keluh Celin lagi.
"Berat apaan, sih? Perasaan selama ini gue selalu di atas elo, Lo nggak pernah ngeluh gue berat, deh?"
"Ya itu, kan beda, Nal!" sahut Celin beralasan.
Donal berdecak melepaskan pelukan mereka, pandangannya langsung terpaut pada manik mata cokelat tua Celin.
"Gue kangen banget tau sama elo, Cel. Tega banget Lo ninggalin gue gitu aja abis Lo grepee-grepeinn gue...," ujar Donal memelas.
"Apa, sih?! Omongan Lo makin gak jelas sekarang!" kesal Celin. "Minggir, Lo udah sehat, kan? Sana pulang!" usirnya.
Celin mencebik mendengar ucapan Donal. "Nggak usah lebay! Gue udah kenyang dengerin omongan manis Lo yang udah kayak gula aren, yang bentar lagi di kerubungi semut-semut nakal!" cibirnya.
Tawa geli seketika keluar dari bibir tipis Donal, pria itu rindu dengan omongan pedas wanitanya yang selalu tepat sasaran menyindirnya sejak dulu. Mungkin itu salah satu alasan sampai dia jatuh cinta padanya, pikir Donal.
"Nggak ada semut-semutan lagi, Cel. Yang ada cuma satu semut nakal bernama Celin. Wanita yang udah berhasil memporak porandakan hati gue sejak dia pergi. Wanita itu juga yang bikin gue ngerti apa itu cinta. Dia udah kayak malaikat seksi yang turun dari surga buat temenin dan mengikat biji gue biar nggak nakal lagi!" sahut Donal panjang lebar.
"Lo emang nggak ada romantis-romantisnya, Nal. Omongan Lo selalu aja absurd, nggak jelas semua!" sahut Celin gagal baper.
"Tapi Lo demen, kan?" goda Donal mencolek benda kesayangannya yang terpampang jelas di depan mata.
"GR!"
Donal kembali tertawa menarik Celin menempel padanya lagi, rasa bahagia menyelimuti hatinya yang selama ini gundah gulana di tinggal pergi oleh Celin.
Donal bersyukur karena bisa bertemu dengan wanita yang dia cinta, dan masih diberikan kesempatan untuk bersama. Setelah ini dia berjanji tidak akan pernah melepaskan Celin lagi.
"Cel...," panggil Donal.
"Apa?"
"Kangen anu, nggak?"
"Anu?"
__ADS_1
"Iya."
Celin mengernyit. "Anu apa, sih?!"
"Ini...." Donal mengambil tangan Celin, memindahkannya ke area pangkal paha yang ditumbuhi bulu-bulu halus itu.
"Ish, dasar!" sahut Celin dengan wajah yang memerah malu.
"Kangen nggak?"
"Nggak!"
"Bener?"
"Iya, ngapain gue kangen sama biji Lo kalo gue udah punya biji yang Laen?!"
Donal tersentak, meregangkan pelukan mereka. "Maksud Lo?"
"Iya, gue udah punya biji sekarang. Jadi biji Lo udah nggak ada gunanya lagi buat gue!" sahut Celin sengaja membuat pria itu kesal.
"Jangan boong! Jangan macem-macem sama gue kalo nggak mau gue jahit bibir bawah Lo, Cel...," ancam Donal dengan wajah seriusnya.
"Bodo!"
Donal berdecak menangkup pipi wanita itu gemas, dan mendaratkan ciuman paginya dengan rakus.
.
.
.
.
.
.
.
Cieee yang udah ketemuan,,
Ada yang seneng dan berdiri, nih 🤭🤣
.
.
.
Guys,, author mau kasih tau kalo author punya judul baru di platform G**d No**l Judulnya Jerat Cinta Tuan Vampire...
__ADS_1
Yang punya aplikasi itu bisa mampir,, yahh 🤗