Touch Me Slowly

Touch Me Slowly
Welcome Home


__ADS_3

"Welcome home Beby...." Richard mendorong kursi roda di mana Amanda sedang duduk ke dalam rumah mereka.


Suara penyambutan dari rumah keduanya terdengar menyambut kedatangan pasangan suami istri itu. Amanda tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca.


Keluarga besar Richard dan Amanda berkumpul, memenuhi rumah seperti saat mereka akan menyambut kedatangan suaminya waktu lalu.


Bayangan ketika Amanda akan pergi ke bandara kembali menari di pikirannya. Dia tidak menyangka kalau kembalinya dia hari ini dirumah, tidak seperti dalam harapannya.


Lagi-lagi Amanda merasa sedih dan terpukul mengingat bagaimana kecelakaan itu merenggut harta berharga dia dan Richard.


"Kenapa By?" Richard berhenti mendorong kursi roda Amanda, mengerti dengan keterdiaman istrinya.


"Nggak pa-pa, aku cuma keinget aja sama kejutan yang kita siapin dulu buat kamu."


Richard pindah maju kedepan, dan berlutut dibawah kaki Amanda. "Udah, nggak usah inget yang sedih-sedih lagi. Kita pulang kerumah supaya kamu bisa lebih nyaman trus bahagia. Aku nggak mau liat kamu sedih ataupun mikirin yang udah lewat. Tugas kamu sekarang cuma bahagia, senyum yang manis buat aku...."


Richard mengusap pipi wanitanya, memberi kehangatan dihati Amanda yang kembali bersedih lagi. Dia hanya ingin agar Amanda tidak lagi memikirkan masa lalu.


Richard hanya ingin maju, melangkah bersama dan saling menguatkan satu sama lain kedepannya. Pria blasteran itu yakin kalau Yang Empunya Hidup pasti punya rencana yang indah untuk keluarga kecil mereka.


"Iya ... makasih, Chad. Bantu aku, yah biar lebih kuat lagi?" Richard mengangguk, berdiri dan mendaratkan kecupan mesra di dahi Amanda.


Mereka kembali masuk mendekati keluarga besarnya yang ikut terharu melihat kedatangan wanita yang begitu dicintai dua rumpun keluarga itu.


"Selamat datang kembali Sayang...." Amel mendekati anak tercintanya diikuti Tari yang bergantian mencium pipi menantunya.


"Mama sama Mommy mestinya nggak usah repot-repot begini. Aku jadi nggak enak," sahut Amanda menatap pesta penyambutan kecil-kecilan yang diadakan oleh dua wanita paruh baya itu.


"Nggak enak apa, sih? Kamu, kan anak Mommy juga. Mommy mau kamu bahagia pulang ke rumah kumpul sama kita lagi," sahut Tari lebih dulu.


Dia memang sudah mempersiapkan pesta penyambutan menantunya dua hari setelah Amanda sadar. Tari ingin Amanda tidak lagi bersedih dan menyalahkan dirinya atas kejadian tempo hari.


"Iya, makasih, Mom."


"Yaudah, sekarang kita makan dulu, yah? Nanti biar daddy yang baca doa." Tari mengajak keluarga besar mereka pindah ke taman belakang rumah, yang bersebelahan dengan kolam renang berada.


Dalam suasana penuh kebahagiaan itu, mereka tidak lupa mengucap syukur pada Yang Empunya Kehidupan karena telah mengembalikan Amanda ke sisi mereka lagi, hingga hari ini mereka bisa berkumpul kembali.


Jamuan makan siang menjelang sore itu dipenuhi oleh keluarga Amanda dan Richard yang bergantian menyapa pasangan suami istri tersebut.


Sembari memberikan dukungan dan doa yang tulus, mereka juga mengajak Amanda bercanda untuk menghibur hatinya yang masih sedih. Mereka ingin Amanda kembali seperti dulu, selalu ceria dan hangat dengan orang lain.


"Auntie...." Keith datang mendekati wanita berambut panjang itu terburu-buru.

__ADS_1


Amanda seketika membuka dua tangannya, menyambut Keith yang berlari dan langsung memeluknya.


"Aku kangen Auntie...." lirih Keith dalam dekapan Amanda.


"Auntie juga kangen sama kamu."


"Auntie kemana aja, sih? Kata Mommy, Auntie lagi pergi. Kok pulangnya lama banget?" tanya Keith polos.


Pria kecil itu memang sengaja tidak diberitahukan keadaan Amanda saat koma. Meski saat kejadian kecelakaan dia mendengar bagaimana Amel menerima telepon dari rumah sakit.


Tapi Rena sengaja tidak mengatakan kondisi Amanda yang sebenarnya. Anak pertamanya itu akan terus meminta bertemu dengan adik iparnya jika Rena memberitahukan Amanda sedang dirawat dirumah sakit.


"Maaf ... Auntie lama, yah perginya?" Keith mengangguk.


Amanda melepaskan pelukan mereka, menatap hangat keponakannya. "Maaf, yah udah buat Keith nunggu lama. Auntie nggak akan kemana-mana lagi abis ini."


"Beneran Auntie?"


"Iya, Keith bisa ketemu Auntie kapan aja Keith mau...."


"Asik...," sahut Keith girang. Dia kembali memeluk Amanda menumpahkan rasa rindunya untuk wanita itu.


"Udah, udah cukup kamu meluk-meluk istri Uncle!" Richard datang menyela pembicaraan keduanya.


"Apa, sih kamu?!" Rena ikut mendekati ketiga orang itu.


"Sama anak kecil juga mau dicemburuin nggak jelas!" sambung Rena bersedekap dada.


"Bodo! Gue nggak suka bini gue dipeluk-peluk laki-laki lain selain gue!" sahut Richard tidak bisa menutupi rasa tidak suka dihatinya.


"Nggak usah lebay! Emang bini Lo patung yang nggak bisa disentuh?!" cibir Rena.


"Emang...." Richard menjulurkan lidahnya, sengaja meledek kakaknya.


Rena berdecih, bersiap melayangkan satu pukulan ke lengan Richard.


"Kenapa lagi, sih kalian?!" Tari baru saja datang membawa sebuah kue diatas nampan untuk menantunya.


"Tanya sama anak perempuan Mommy, sirik aja dari dulu sama aku!" sahut Richard masih menatap Rena dengan pandangan mata mengejek.


"Ish, siapa juga yang sirik sama Lo?! Nggak ada kerjaan banget gue!" sahut Rena bergidik.


"Udah, udah ... kalian ini. Udah tua tapi kelakuannya nggak pernah berubah dari dulu!" sela Tari mulai jengkel dengan kelakuan dua anaknya.

__ADS_1


"Anak pertama Mommy, tuh yang duluan!"


"Enak aja, elo yang duluan gangguin anak gue!" sahut Rena tidak terima disalahkan oleh Richard.


Tari hanya bisa mendengus, mengajak Amanda dan cucu laki-lakinya pergi dari sana. Biar saja dua orang itu terus berdebat untuk sesuatu hal yang tidak pernah penting, pikirnya.


Berhenti agak menjauh dari Richard dan Rena. Tari mendorong kursi roda Amanda dan memutarnya menghadap pada mereka.


"Adik kamu mana Keith?" tanya Tari tidak mendapati cucu perempuan dia disekitar sana.


"Lagi dijagain daddy, Grandma."


"Emang daddy kamu di mana?"


"Ada di kamar, adik bayi baru tidur tadi."


Tari mengangguk, mengambil sepotong kue untuk Amanda dan cucunya Keith.


"Kamu mau kue? Ini kue yang dibikin sama grandma Amel." tanya Tari menyodorkan kue kehadapan Keith.


"Mau Grandma," sahut anak berumur lima tahun itu bersemangat.


Ketiga orang itu asik menyantap kue buatan ibu kandung Amanda, hingga seorang wanita muda datang mendekati mereka.


"Selamat sore," sapanya sopan.


Amanda dan Tari kompak mendongak menatap wanita yang berdiri di depan mereka.


"Mawar?" sahut Amanda kaget.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Hari ini Up 2 part, yah


Stay tuned 🤗


__ADS_2