Touch Me Slowly

Touch Me Slowly
Rumah Baru


__ADS_3

Selesai makan, Richard mengendarai mobilnya menuju tempat tujuan mereka. Sambil mendengarkan musik untuk mengusir kebosanan karena jalanan yang sedikit macet, Richard dan Amanda ikut bernyanyi mengikuti alunan lagu yang diputar.


Pun aku merasakan, getaranmu ... mencintaiku seperti ku mencintaimu. Sungguh kasmaran aku kepadamu...


...(Jaz. Kasmaran)...


"Kalo denger lagu ini, aku jadi inget pertama kali jatuh cinta sama kamu, By."


"Oh yah, masa sih?" tanya Amanda tidak percaya.


Richard mengangguk. "Iya, abis denger lagu ini, aku jadi sadar kalo perasaan aku sama kamu itu emang beneran cinta. Makanya aku mati-matian ngejar kamu waktu itu. Yah, walaupun kamu masih belum mau nerima aku juga sih," sahutnya panjang lebar.


Amanda tersenyum mengingat beberapa bulan lalu mereka hanyalah orang asing yang tidak saling mengenal satu sama lain.


Karena mabuk dan tidak sengaja bertemu dengan Richard, mereka malah berakhir menjadi suami istri yang sah.


Amanda masih sering tidak menyangka kalau jodohnya justru adalah pria yang tiba-tiba datang ke kehidupan dia.


"Kok diem, By? Mikirin apaan sih?"


"Eh, enggak mikir apa-apa kok, Chad. Aku cuma inget pertemuan kita aja dulu."


"Pertemuan ato mainnya?" goda Richard.


"Ish, main mulu di otak kamu itu!"


"Lah emang bener, kan? Kita ketemu sekaligus main waktu itu?" sahut Richard masih menggoda istrinya.


"Iya, iya tau. Nggak usah di omongin juga kali!"


Richard tertawa puas melihat wajah menggemaskan Amanda, wanita itu duduk di kursi sampingnya dengan bibir yang maju lima senti ke depan.


"Kita mau kemana sih ini? Daritadi kok gak nyampe-nyampe?" sambung Amanda memotong pembicaraan mereka.


"Ada, lah pokoknya. Duduk sabar aja disitu, udah deket kok."


Amanda mengangguk menyandarkan kepalanya dengan nyaman di kursi mobil, rasa kantuk kembali menyerangnya. Hanya dalam waktu lima menit saja, dia sudah jatuh tertidur di sana.


"By, nanti kalo aku pergi hati-hati yah disini. Aku usahain cepet pulang, besok kamu mau anterin aku ato gimana?" Richard berbalik menatap istrinya yang ternyata sudah tidur di sampingnya.


"Astaga ... tidur lagi?" Richard melambaikan tangannya di depan wajah Amanda yang terdengar mendengkur halus.


Richard makin aneh melihat istrinya yang sedikit-sedikit tidur, tanpa melihat tempat. Dia tahu kalau Amanda tidak pernah begini sebelumnya.


Terbiasa bekerja bahkan sampai larut malam, Amanda selalu kuat menahan mata berjam-jam di depan meja kerja untuk menyelesaikan desainnya.


Richard hanya bisa tersenyum mengusap kepala Amanda dengan satu tangannya, penuh cinta.


Memasuki sebuah kawasan yang cukup sepi dari padatnya kota Jakarta, Richard membawa mobil lebih pelan sambil mengecek rumah yang akan menjadi awal tempat mereka membangun keluarga yang bahagia.


Bernomor kode 1203, Richard memberhentikan mobilnya di depan rumah modern bergaya Eropa dengan pagar tinggi yang membungkusnya, bercat putih dengan taman yang cukup luas di depannya.


Amanda ikut bangun saat merasakan mobil yang membawa mereka berhenti.


"Kita dimana, Chad?"

__ADS_1


"Udah bangun?" Richard kembali membelai kepala wanitanya.


"Turun yuk, aku pengen nunjukin sesuatu sama kamu."


Amanda mengangguk patuh dan ikut turun bersama Richard.


"Ini rumah siapa?" tanyanya saat mereka sudah berada di luar mobil.


Richard mendekat, merangkul pundak Amanda. "Rumah kita, By. Kita bakal tinggal disini setelah aku balik dari Kalimantan."


"Hah? Beneran?" kaget Amanda.


"Iya, aku bangunnya sejak kita tunangan dulu."


"Apa? Serius?" Richard mengangguk. "Astaga, kamu kok bisa kepikiran sampe kesana sih, Chad?"


"Harus dong, aku udah mikirin masa depan kita jauh sebelum cinta kamu untuk aku ada."


"Kamu yakin banget yah, bisa dapetin hati aku?" cibir Amanda.


"Yakinlah, pesona Richard Klose gak akan bisa ditolak oleh wanita manapun. Termasuk kamu...!"


Amanda berdecak namun ikut tertawa bersama suaminya. Memang benar kalau pria blasteran itu punya wajah yang rupawan juga pesona yang luar biasa.


Wanita manapun pasti akan langsung jatuh cinta dengannya, Amanda mungkin bisa di bilang beruntung mengenal Richard bahkan dicintai olehnya.


"Masuk yuk," ajak Richard. "Aku udah masukin semua perabotannya lengkap. Kita tinggal nempatin aja nanti."


Pasangan suami istri itu pun berjalan masuk ke dalam rumah yang terlihat sangat rapi dan bersih.


"Di lantai satu ada dua kamar, di lantai dua juga sama ada dua kamar." terang Richard menunjukkan sudut rumah mereka.


"Ini dapur, nanti kita bisa coba main disini kapan-kapan. Aku sengaja bikin meja yang sama tinggi dengan pinggang aku biar nggak susah nanti," kekeh pria itu tersenyum penuh arti.


"Ish, otak kamu emang!"


"Kan biar punya suasana baru, By."


Amanda hanya bisa membuang nafas panjang mendengar alasan suaminya, sejak dulu Richard memang selalu punya fantasi gila dan terkadang di luar batas pemikirannya.


Jika mau membantah pun, Richard tetap akan melakukannya, toh mereka sudah suami istri. Menyenangkan suami adalah salah satu ibadah juga pikirnya.


"Di belakang ada kolam juga, nanti kalo kita udah punya anak mereka bisa berenang puas disana." Richard masih menunjukkan semua sudut ruangan di lantai satu, hingga mereka naik ke lantai dua.


"Nah ini kamar kita Beby, menghadap ke arah kolam belakang. Tiap sore bakal keliatan sunset-nya dari sini."


Amanda tampak terpukau melihat kamar mereka yang sangat luas dengan kamar mandi di dalam, dan ada juga balkon yang mengarah tepat ke belakang rumah.


Kamar itu sudah tertata rapi dengan segala perabotan yang lengkap dan juga pakaian mereka berdua.


"Ya ampun, Chad...!" pekik Amanda kaget.


"Kenapa?" Richard buru-buru mendekati istrinya.


"Ini kok bisa ada disini?" tunjuk Amanda pada sebuah lukisan dirinya di dalam walk in closet.

__ADS_1


Richard tersenyum geli menatap lukisan Amanda yang waktu itu dia lukis di studio miliknya.


"Kenapa sih, itu kan lukisan kamu Beby...."


"Iya tau, tapi masa lukisan telanjangg aku, kamu taruh disini sih? Gimana nanti kalo ada orang masuk dan liat ini? Astaga ... kamu ada-ada aja deh!" protes Amanda.


"Nggak ada yang bakal masuk kesini, aku suka lukisan itu ada di sana. Aku mau setiap kali aku ganti baju, aku liat kamu bergaya kayak gitu di ujung sana." tunjuk Richard ke arah lukisan di gantung.


"Kamu bener-bener deh, nggak abis pikir aku sama kamu tau nggak!"


"Nggak usah dipikirin, cukup di hayati aja, By...." sahut Richard mendekati istrinya.


"Main disini yuk?" bisiknya.


"Apa? Main lagi?"


"Iya, aku jadi pengen main liat lukisan seksi kamu itu."


"Ogah! Aku masih capek! Sana, jangan deket-deket!" tolak Amanda mendorong suaminya.


"Bentar doang, By. Mau yah?" bujuk Richard.


"Nggak!" Amanda berlalu meninggalkan pria mesumm itu keluar dari walk in closet.


Tidak mau kehilangan kesempatan dan butuh pelepasan segera. Richard berlari menyambar tubuh Amanda, menggendongnya naik ke atas ranjang.


"Chad...!" pekik Amanda kaget.


"Bentar doang." Richard buru-buru menarik celana Amanda dan membenamkan diri disana.


Wanita itu hanya bisa pasrah saat lagi-lagi Richard menggoyangkan pinggulnya di atas tubuhnya. Ah, susah kalo punya suami on terus kayak gini, gumam Amanda.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Susah katanya guys,, 🤭


satu part lagi dengan keuwuan pasangan ini yah... 😆

__ADS_1


__ADS_2