
"Dimana Lo?"
"So-sorry. Gu-gue la- ahh...."
"Eh anjrittt Lo ngapain ta*i! Sialan ni orang!"
Richard memutuskan panggilan telepon saat mendengar suara aneh dari ujung sana. Sekretaris barunya yang notabene adalah sahabatnya sendiri, menghilang tidak tahu kemana.
Richard menghubunginya karena tidak mendapati pria itu di ruangannya. Ba*ngke emang tu orang! Masih pagi begini udah main goyang aja nggak tau dimana! Awas aja kalo dia berani ngotorin tempat kerja gue, kesalnya dalam hati.
Sepuluh menit kemudian, Donal masuk dengan kemeja kusut serta rambutnya yang masih basah. Seakan tidak berbuat kesalahan di hari pertamanya bekerja, Donal duduk di depan meja direktur utama.
"Sorry tadi gue lagi sibuk dikit. Ngapain Lo manggil gue kesini!"
"Eh t*ai ... Lo kalo mau maksiat jangan di kantor orang! Kebiasaan Lo yah, baru juga masuk udah bikin hal yang nggak bener! Jangan bikin sial tempat gue kerja yah sama bau ba*ngke Lo!"
"Yaudah, nggak usah nge-gas gitu juga kali, Chad. Lo tau kan hal begituan nggak bisa di tahan ... lagian yah mantan sekretaris Lo jago banget tau nggak. Hebat banget goyangannya tadi...." sahut Donal menunjukkan gaya apa yang mereka lakukan di dalam mobil.
Richard melemparkan papan nama miliknya yang masih baru di atas meja. "Anjrittt ... nggak usah di praktekin juga kali Nal!"
Donal menangkap papan nama itu gelagapan, takut jangan sampe pecah.
"Lo gila yah, sekretaris gue aja Lo embat! Taii emang ni orang!" sinis Richard kesal dengan tingkah pria ini.
"Ya kan sayang Chad. Masa seksi begitu Lo anggurin. Gue cuma penasaran aja sama dua semangkanya, enak apa enggak."
"Bangkee emang Lo! sekarang Lo ikut gue. Kita harus temuin semua pegawai perusahaan di ruang pertemuan!" sambung Richard bangkit berdiri dari kursinya.
"Ok Bos...." sahut sahabatnya meletakkan papan nama itu kembali ke atas meja.
"Eh, udah cuci tangan belum Lo?" tanya Richard berbalik menatap Donal.
Pria itu menyengir dan mengendus dua tangannya. "Udah, ni Lo cium nih...." jawabnya mengarahkan dua tangannya ke arah Richard.
"T*ai! Sono, jangan deket-deket gue! Bau angsa pandan Lo masih kecium sampe sini!"
"Udah nggak bau, Chad. Coba deh lo cium...."
"Enggak, makasih. Jangan racuni hidung gue dengan bau-bau aneh dari Lo!"
Donal berdecak. "Lo kayak nggak pernah cium hal enak begitu aja...."
"Ish, ogah! Mending gue cium punya gue sendiri sama Manda daripada punya Lo sama si angsa!"
Pembicaraan absurd keduanya berlangsung sampai masuk ke dalam lift dan berhenti tepat di depan pintu ruang pertemuan, untung saja tidak ada siapa-siapa disana.
"Gue duluan yah Nal. Mau jemput tuan putri dulu."
__ADS_1
"Asik ... kata-kata Lo emang selalu manis kayak pucuk biji."
"Serah Lo! Jangan lupa selesein dulu kerjaan Lo baru pulang. Awas yah kalo besok masih belum kelar!"
"Ok Bos."
Richard pun keluar dari ruang kerja sekretarisnya, pulang menjemput Amanda di butik. Sesuai janji pria itu tadi pagi, mereka akan mengecek gedung pernikahan mereka sore ini.
Sekitar tiga puluh menit mengendara dengan mobil mewahnya, Richard sampai di depan butik Amanda.
Tidak lupa memakai kacamata hitam dan mengatur rambutnya agar selalu terlihat keren dan menawan, Richard turun sambil bersiul rendah.
"Selamat sore Pak Richard...." sapa Vania asisten tunangannya Amanda.
"Sore Va ... Manda ada?"
"Ada Pak diatas. Tapi Miss lagi terima tamu sekarang."
"Oh yah, siapa?"
"Mmm ... itu Pak, pelanggan VVIP kita yang waktu lalu," jawab Vania ragu-ragu.
Richard terdiam larut dengan pikirannya sendiri, apa pria brengsek itu yang sedang ada di atas sama Manda?
Tanpa berpamitan terlebih dahulu pada Vania, Richard berjalan menuju ruangan pemilik butik yang terletak di lantai dua.
Pikiran dan perasaan aneh di hatinya tiba-tiba datang mengganggunya. Richard resah dan gelisah dengan apa yang sedang mereka lakukan diruangan itu. Takut jika apa yang dia pikirkan benar terjadi.
Tiga orang yang sedang duduk berhadapan terlonjak kaget mendapati seorang pria blasteran berjalan masuk dengan wajah yang tidak bisa di gambarkan.
"Maaf By, gue nggak tau kalo Lo lagi ada tamu!" ujarnya berusaha terlihat biasa.
Richard berjalan mendekati meja Amanda, dan mengecup dahinya mesra saat tiba di samping tunangan cantiknya.
Pelanggan VVIP yang dikatakan Vania tadi adalah Ardi dan Betty. Richard pikir hanya pria brengsek itu sendiri yang datang menemui Amanda dan sedang berduaan di ruangannya.
Amanda tersenyum salah tingkah mendapati pria ini selalu saja menunjukkan kemesraan di depan orang tanpa malu.
Ini kedua kalinya Richard bertingkah seperti seorang tunangan yang baik, yang mencintainya dengan tulus.
"Halo Tuan Richard, kita bertemu lagi...," sapa Betty hangat.
"Halo Nona...." sahutnya menggantung ucapannya.
"Betty, Tuan...."
"Ah iya, halo Nona Betty."
__ADS_1
"Tuan ingin menjemput Miss Manda rupanya."
"Iya, kami akan mengecek gedung pernikahan kami hari ini."
Ardi yang sejak tadi diam mendengarkan, tersentak mendengar Richard yang berkata kalau mantan kekasihnya ini akan menikah bulan depan, termasuk Amanda.
Wanita itu sama kagetnya mendengar ucapan Richard tentang berita pernikahan mereka yang seenaknya diputuskan oleh pria ini.
"Wah ... selamat untukmu Miss. Tidak ku sangka Miss akan mendahului kami."
Amanda hanya mengangguk dan tersenyum tanpa tahu harus berkata apa. Otaknya seketika bleng, tidak bisa berpikir jernih. Richard keterlaluan, pikirnya.
"Lo apa-apaan sih, Chad. Seenaknya ngomong kalo kita bakal nikah bulan depan! Sejak kapan gue setuju dengan ide gila Lo itu, hah?!" marah Amanda setelah pelanggan VVIP-nya pergi.
"Kenapa? Lo nggak mau mantan Lo itu tahu soal pernikahan kita?" kesal Richard.
"Maksud Lo? Kenapa bawa-bawa dia sih, gue nggak-"
"Udah, ngaku aja Manda!" potong Richard cepat. "Lo masih cinta, kan sama dia. Masih berharap kalo si brengsek itu balik lagi sama Lo!"
Amanda makin naik pitam mendengar ucapan Richard. Kalaupun sisa-sisa cinta itu masih ada, untuk balikan dengan Ardi saja tidak pernah sedikitpun terlintas dalam pikirannya.
"Kenapa? Lo cemburu?"
"A-apa? Gue cemburu? Hahaha ... pikiran dari mana itu!" sahut Richard keki.
Benarkah dia cemburu? Astaga ... apa-apaan itu pikirnya.
"Udah ngaku aja. Lo cemburu karena udah jatuh cinta sama gue, kan?" goda Amanda tidak jadi marah dengan pria berhidung mancung ini.
"Trus kenapa kalo gue cemburu, Lo kan tunangan gue! Harus lah gue cemburu!"
"Hah?"
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Udah kayak kucing sama burung yahh mereka berdua ...
Eh emang burung, kan sih Richard ini 🤭😂