Touch Me Slowly

Touch Me Slowly
Bodyguard Dua


__ADS_3

"Selamat pagi Nona Manda," sapa Mawar berdiri di depan pintu rumahnya.


"Mawar? Lo ngapain kesini pagi-pagi begini?"


"Aku mau jemput Nona, hari ini Pak Richard kan nggak bisa datang jemput Nona. Jadi aku ditugaskan beliau menjemput Nona disini."


"Iya, gue tahu. Nggak usah formal begitu ngomongnya sama gue, War. Masuk dulu yuk...." ajak Amanda membuka pintu rumahnya lebih lebar.


Mawar mengangguk dan mengikuti wanita yang terlihat sangat cantik meski tanpa polesan make up di wajahnya.


"Duduk dulu War."


"Iya Nona."


"Lo nggak usah panggil gue nona kali, War. Panggil Manda aja biasa, gue bukan putri raja yang biasa dipanggil begitu!" protes Amanda merasa risih dengan panggilan Mawar padanya.


"Tapi aku yang nggak enak Nona...."


"Udah, nggak usah lebay. Dengerin aja apa kata gue! Lo mau minum apa?"


Mawar menggeleng cepat. "Nggak usah No ... maksud aku Manda. Aku udah sarapan tadi sebelum kesini."


"Yaudah, Lo mau nunggu disini aja apa diatas sama gue dikamar?"


"Hah?"


"Mau nunggu disini apa diatas sama gue Mawar...."


Wanita cantik dengan rambut panjang yang dia ikat tinggi ke atas itu kaget mendengar ucapan desainer muda terkenal di negara mereka. Ternyata benar kalau Amanda Ninda adalah seorang wanita baik hati dan juga lembut. Dia beruntung bisa bekerja dan mengenal wanita ini pikirnya.


"Malah bengong lagi nih orang, ayo cepet!"


Amanda berjalan meninggalkan Mawar yang masih ragu-ragu ingin naik ke kamarnya atau tidak.


"War...!" teriak Amanda dari lantai dua.


Mantan anggota rahasia itupun buru-buru naik ke lantai dua dimana kamar atasan tunangannya berada.


"I-iya Manda?"


Amanda berdecak menatap Mawar yang masih berdiri di pintu kamarnya, tidak enak mau masuk ke dalam.


"Lo kalo mau bediri seharian disana terserah, gue mau mandi dulu!"

__ADS_1


Wanita bermata cipit itu menyambar bathrobe yang tergantung di dekat kamar mandinya, dan berjalan masuk ke dalam sana.


Mau tidak mau, Mawar pun akhirnya masuk ke kamar bernuansa serba putih yang kontras dan sangat cocok dengan kepribadian Amanda.


Mawar duduk di atas kursi kecil depan meja kerja Amanda dan asik menjelajah seluruh isi ruangan ini dengan dua matanya.


Pandangan Mawar jatuh pada sebuah frame 4R yang terpajang di atas meja kerja di depannya. Foto kebersamaan Amanda dan Richard yang tengah saling menatap satu sama lain dan tersenyum penuh cinta membuat Mawar sontak menjadi iri.


Ah, kalau saja dia lebih dulu mengenal Richard. Pasti hatinya akan sangat bahagia mendapatkan pria setampan itu pikirnya.


Tiba-tiba ponsel milik Amanda bergetar, sebuah pesan masuk terlihat muncul di layar yang tidak terkunci itu.


Pesan dari seseorang bertuliskan Ardi berhasil Mawar baca pada judulnya. Ardi? Apa dia pria yang dikatakan Donal kemarin?


Pria berkulit sawo matang itu sudah menjelaskan tentang hubungan atasannya Richard dengan Amanda, hingga gangguan dari mantan tunangan yang tidak bisa move on bernama Ardi.


Penasaran dengan pria yang menjadi musuh utama atasan yang membayarnya, Mawar memberanikan diri membuka pesan tersebut.


Disana Ardi menuliskan ingin bertemu dengan Amanda di kafe tempat biasa mereka bertemu. Pria itu ingin meminta bantuan karena usahanya yang bangkrut dan harus membayar hutang pada pihak bank.


Seakan tidak punya rasa malu, Ardi juga mengatakan ingin meminjam uang dan memohon bertemu hari ini juga dengan Amanda.


Cih, Mawar sontak merasa ingin muntah membaca isi pesan mantan tunangan Amanda. Mungkin dia harus bertemu dengan Ardi dan membuat perhitungan dengannya jika pria itu masih terus mengganggu hubungan Amanda dan Richard pikirnya.


Sebelum Amanda keluar dari kamar mandi, Mawar buru-buru menghapus pesan tersebut dan meletakkan kembali ponsel berlambang buah itu keatas meja.


"Gue mau singgah beli espresso dulu bentar, War."


"Ok, tempatnya dimana?"


"Deket butik, jalan aja. Tar gue tunjukin sama Lo."


Mawar mengangguk dan mulai melajukan mobil menuju butik. Sebuah mobil sama yang pernah mengikuti Amanda waktu lalu, terlihat berada di belakang mobil mereka.


Mawar tidak curiga sama sekali karena berpikir mungkin itu hanya mobil yang kebetulan searah dengan mereka. Hingga saat mereka berhenti di depan cafe yang menjual espresso kesukaan Amanda, mobil itu juga ikut berhenti tidak jauh dari mobil mereka.


Mawar makin curiga melihat seorang pria berpostur tubuh tinggi memakai kacamata hitam terlihat berjalan tergesa-gesa masuk ke dalam cafe dimana Amanda berada.


Mawar langsung turun untuk memastikan apa dugaannya benar atau tidak. Sedikit terkejut Mawar mendapati pria tadi tengah menarik Amanda keluar lewat pintu belakang cafe.


"Woi...!" teriaknya berlari mendekati Amanda dan pria tersebut.


"Mau apa Lo?!" sentak Ardi menarik tangan Amanda kesisinya.

__ADS_1


"Lepasin gue Ar...," keluh Amanda takut pria itu akan kembali menculiknya seperti tempo hari.


"Lepasin dia bro, Lo nggak denger tadi dia bilang apa, hah?!" sela Mawar berusaha tenang.


"Diem Lo! Gue nggak punya urusan sama Lo! Minggir, jangan halangin jalan gue!"


"Jangan macem-macem bro, gue bisa patahin tangan Lo kalo gue mau!" ancam Mawar.


Amanda semakin gelisah di samping Ardi, mantan tunangannya ini bisa berbuat nekat jika sedang kesal ataupun merasa terganggu oleh seseorang.


"Emang Lo siapanya Manda, hah?! Cewek kecil aja belagu, minggir nggak Lo!"


Mawar mendengus merasa kesabarannya semakin habis menghadapi pria keras kepala itu, dalam sekali tendangannya Ardi terjungkal ke belakang dan mendarat di kerasnya jalan paving cafe.


"Brengsek!" teriak pria itu marah.


"Manda, mending Lo ke mobil. Jangan kemana-mana sebelum gue kesana!" ujar Mawar memberikan kunci mobilnya ke tangan Amanda.


"Tapi Lo gimana, War?"


"Udah tenang aja, cuma satu orang sapii nggak akan bisa ngalahin gue. Sana pergi!" usir Mawar memaksa agar Amanda pergi ke mobil.


Lebih aman jika wanita itu berada disana pikirnya, bisa saja Ardi membawa orang atau siapapun yang mau menculik Amanda jika wanita itu masih berada di dekat mereka.


"Kunci mobilnya Manda...!" teriak Mawar sebelum Amanda makin jauh darinya.


"Brengsek! Lo siapa hah?!" pekik Ardi bangkit berdiri.


"Lo nggak perlu tau siapa gue, yang pasti setelah ini Lo nggak akan bisa deketin Manda lagi!"


Ardi tertawa remeh. "Oh yah, apa yang bakal Lo lakuin? Lo cuma cewek, makhluk lemah yang cuma bisa ngangkang di depan cowok!"


"Kalo gitu ayo kita liat apa abis ini Lo bakal bilang cewek itu makhluk lemah apa enggak!" sahut Mawar tersenyum penuh arti.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Next Part yah guys 🤭😁


__ADS_2