
"Lagi ngapain Beby?" tanya Richard dari panggilan video di ponselnya.
"Lagi makan, Chad."
"Hah? Makan lagi?"
"Iya, aku laper ... kenapa emangnya?"
Richard menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Hari ini selama mereka menelepon, entah sudah berapa kali Amanda makan.
Setiap kali Richard tanya sedang apa, wanitanya itu pasti akan berkata kalau dia sedang makan. Dia sampai heran melihat Amanda yang sedikit-sedikit makan tanpa pernah kenyang.
"Nggak takut gendut, By?" tanya Richard.
"Kenapa, kamu nggak mau aku gendut emangnya?!" sahut Amanda dengan nada suara meninggi.
"Eh, bukan gitu, By. Aku cuma-"
"Tuh, kan bener kamu nggak mau aku gendut!" potong Amanda cepat.
"Udah, aku nggak mau makan lagi mulai sekarang!" sambung Amanda mendorong piring di depannya.
"Nggak, bukan gitu, By. Jangan ngambek ... aku tetep cinta kok sama kamu meski nanti bentuk badan kamu berubah," bujuk Richard.
"Boong! Aku baru makan begini aja kamu udah protes, apalagi kalo aku jadi gendut beneran. Kamu pasti langsung tinggalin aku!" sahut Amanda mulai menangis.
"Astaga Beby, jangan nangis. Aku nggak ada maksud apa-apa ngomong begitu sama kamu. Jangan nangis, yah? Nanti kalo mama liat gimana?"
"Bodo! Biar mama tahu kalo kamu sering bikin aku nangis sekarang!" sahut Amanda makin kuat menangis di ujung sana.
"Ya ampun Beby, iya ... maaf. Aku minta maaf, kamu boleh kok makan se banyak yang kamu mau. Udah, yah ... jangan nangis lagi Beby."
Richard masih membujuk istrinya yang sekarang cepat sekali berubah-ubah. Bahkan untuk sekedar bercanda saja, Richard harus pintar-pintar mencari bahan agar tidak membuat mood Amanda jelek dan berakhir menangis seperti ini.
Amanda akan sangat susah dibujuk jika sudah menangis dan merajuk begini.
"Udah dong, By. Kita lagi jauh-jauhan begini kamu malah nangis terus di sana. Kamu mau aku kerja nggak tenang mikirin kamu terus disini? Udah yah, jangan nangis lagi...."
"Kamu mau ngasih apa biar aku brenti nangis?"
"Hah? Kasih apa?"
"Iya, aku mau brenti nangis asal kamu kasih sesuatu sama aku."
Richard mengernyit memutar otak mencari satu alasan yang bisa dia gunakan untuk membujuk wanitanya. Dia harus berpikir dengan baik kalau tidak mau Amanda makin marah dan kesal padanya.
"Kalo gitu kamu maunya apa? Aku usahain aku bakal kasih sama kamu."
__ADS_1
"Kok malah nanya mau aku apa sih, Chad. Aku tuh maunya kamu yang mikir mau ngasih apa sama aku!"
Richard menghembuskan nafas panjang bingung harus menjawab apa. Pertanyaan Amanda ini seperti pertanyaan jebakan untuknya.
Kalau dia salah menjawab, Amanda pasti akan langsung mematikan panggilan telepon mereka, dan akan susah dihubungi nanti.
"Aku bawa makanan khas dari sini aja gimana?" tawar Richard.
"Makanan?"
"Iya, mau nggak? Katanya makanan khas dari sini enak-enak, By."
Amanda terlihat menelan salivanya dalam. Membayangkan makanan sudah bisa membuat otak Amanda berkeliaran kesana kemari. Entah kenapa sekarang dia jadi penggila satu kata dengan bermacam-macam rasa dan model itu.
"Yaudah, kapan kamu mau bawain?" tanya Amanda tidak sabar.
"Ya nanti kalo aku pulang, By."
"Emang nggak bisa sekarang yah?"
"Astaga ... aku, kan baru sampe kemarin. Kerjaan aku masih belum selesai Beby...."
Amanda membuang nafas kasar dengan wajah yang cemberut, kesal karena harus menunggu beberapa hari lagi baru bisa mencicipi makanan-makanan itu.
"Sabar yah Beby, aku usahain cepet pulang kok buat kamu. Ini aja aku masih harus ketemu satu klien lagi. Doain aku yah, biar semuanya lancar...."
"Aku mau makan lagi kalo gitu, kamu hati-hati yah, Chad? Kabari aku kalo udah balik ke hotel lagi."
Panggilan setiap tiga jam sekali itu pun berakhir dengan Richard yang pamit ingin menemui klien terakhirnya hari itu.
Amanda duduk sambil makan dan melihat kertas-kertas desain yang baru saja selesai dia kerjakan tadi sore.
"Makan apa sayang?" tanya Amel baru pulang dari supermarket.
"Mama, udah pulang?"
Amel mengangguk menaruh belanjaannya di atas meja. Amanda buru-buru mengecek semua plastik kresek berisi bahan belanjaan ibunya, mencari sesuatu yang bisa dia makan.
"Cari apa sih?"
"Cemilan, Ma."
"Mama mana ada beli begituan, lagian sejak kapan sih kamu suka camilan malam-malam begini sayang?"
"Nggak tau, Ma. Pokoknya semenjak pulang dari bulan madu, aku udah seneng ngemil sampe sekarang," jujur Amanda.
"Hah? Beneran?" Amanda mengangguk.
__ADS_1
Amel mengernyit, memperhatikan anaknya dengan seksama. "Kamu udah pernah cek belum?"
"Cek apaan, Ma?" tanya Amanda tidak mengerti.
"Itu, cek kehamilan sayang."
Amanda terdiam, kaget mendengar ucapan wanita paruh baya di depannya. Dia lupa akan hal ini, dari semenjak dia dan Richard resmi pacaran. Suaminya memang tidak pernah memakai pengaman lagi.
Amanda bahkan lupa kapan terakhir kali dia datang bulan. Biasanya setiap bulan dia akan menyetok benda pribadinya di dalam kamar, tapi sepertinya benda itu tidak pernah lagi terpakai selama ini.
Astaga ... kenapa gue sama sekali nggak nyadar sih? Bisa aja sekarang di perut gue udah tumbuh buah cinta gue dan Richard. Amanda menggumam dalam hati sambil menyentuh perutnya.
"Mama perhatiin sekarang badan kamu udah lebih berisi aja, Manda. Mama curiga jangan-jangan kamu beneran udah hamil."
"Emang kalo berat badan naik, bisa karena hamil yah, Ma?" tanya Amanda polos.
"Bisa jadi sayang, makanya Mama tanya kalo kamu udah pernah cek. Apalagi liat kamu yang sedikit-sedikit laper kayak gini, kecurigaan Mama bisa jadi emang bener."
Amanda sontak kembali mengelus perut ratanya yang tidak lagi rata. Dia tahu kalau berat badannya memang sudah naik sekarang, terbukti dari beberapa celana dan rok yang sering dia pakai tidak lagi muat saat dia mencobanya kemarin.
"Udah nggak usah khawatir, biar nanti mama suruh supir buat beliin kamu testpack. Mama juga penasaran mau liat apa bener di perut kamu udah ada cucunya mama atau belum," sambung Amel tersenyum lembut.
"Tapi kok suruh supir sih, Ma? Manda, kan malu."
"Ngapain malu, sih. Kamu, kan udah nikah sekarang ... wajarlah kalo mau beli testpack. Ada-ada aja kamu!" Amel menggelengkan kepala, bangkit dari kursi menuju pintu depan rumah mereka.
Kebetulan supir yang selalu siap sedia mengantarnya masih ada di halaman. Amel pun meminta dia untuk membeli alat tes kehamilan untuk Amanda di apotek terdekat.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Aduh,, author juga ikut penasaran dengan hasilnya nanti 🤭😁