
"Masih marah?"
"Tau!"
Richard menarik tubuh Amanda agar makin dekat dengannya. "Udah dong marahnya, kan aku udah minta maaf."
"Minta maaf tapi abis itu bikin lagi! Minta maaf apa itu?!" kesal Amanda menepis tangan Richard dari atas perut ratanya.
Wanita cantik yang masih memakai kaos dengan tubuh bagian bawah yang sudah polos itu, terbangun dari tidurnya saat Richard tengah asik memaju mundurkan tubuhnya di atas Amanda.
Pria blasteran itu langsung menyambar bibir Amanda sebelum dia sempat protes hingga akhirnya terbuai dalam permainan lembut dan menggairahhkan Richard di tubuhnya.
"Ok kalo gitu kamu mau apa hari ini? Aku bakal ikutin semua mau kamu Beby...." bujuk Richard lagi.
Amanda diam memutar otak, dia harus menggunakan kesempatan ini untuk sedikit mengerjai Richard pikirnya.
"Besok pagi aku mau jalan-jalan di sekitar sini, kalo perlu aku mau naik kapal keliling-keliling pulau."
"Ok fine (ok baik), aku siap ikutin mau tuan putri...."
"Eh, ada lagi."
"Ok, apa lagi?"
"Seharian besok aku nggak mau 'main'!"
Richard yang baru saja akan mengangguk tidak jadi menggerakkan kepalanya ke atas dan ke bawah mendengar ucapan Amanda.
"Kok gitu sih By, jangan yang itu dong ... yang lain aja yah?" pintanya tidak terima.
Pria dengan bulu-bulu halus di atas bibir dan di bawah dagunya itu tidak bisa jika tidak menyentuh Amanda sehari saja. Apalagi melihat wanitanya akan tidur seharian di sampingnya besok, Richard tidak yakin bisa menahan diri nanti.
"Pokoknya keputusan aku udah fix, kalo kamu nggak mau yaudah. Mending kita pulang aja besok!"
"Eh, kok gitu sih By. Jangan dong, ok aku bakal ikutin mau kamu. Sehari doang, kan?" Amanda mengangguk senang.
"Yaudah aku ikutin mau kamu," sambung Richard dengan berat hati.
Daripada istrinya ini ngambek dan minta pulang, lebih baik dia mengikuti apa mau Amanda pikirnya.
Pagi harinya Amanda sudah lebih dulu bangun dan bersiap, wanita itu sudah memesan sarapan untuk mereka dan juga sudah menyiapkan baju ganti untuk Richard pakai.
Pria yang semalam tidur dengan gelisah karena tidak bisa menyentuh sedikit saja tubuh Amanda, baru bisa tertidur pukul empat subuh.
"Chad, bangun...." Amanda menggoyang-goyangkan tangan Richard.
"Mmm...."
"Bangun Chad, kita kan mau jalan-jalan pagi ini. Kamu udah janji loh." Amanda kembali menggoyangkan tangan Richard.
"Mmm...." Pria yang masih mengantuk itu tidak kunjung membuka mata, dan malah menarik Amanda mendekat padanya di atas ranjang.
__ADS_1
"Ih, bangun dulu Chad. Nanti kita telat!" protes Amanda tidak bisa bergerak di peluk oleh pria yang jauh lebih besar darinya.
"Mmm...."
Kesal dengan Richard yang tidak mau bangun juga, Amanda menggigit dada bidang suaminya hingga Richard menjerit kaget.
"Aaaa...." pekiknya langsung membuka mata. "Apa-apaan sih By," rengek Richard.
"Sakit yah? Itu makanya bangun, daritadi di bangunin malah tidur mulu!" kekeh Amanda tanpa rasa bersalah.
"Iya, iya, aku bangun. Sini ... cium dulu."
"Nggak mau, nanti bukan cium malah yang lain lagi!" tolak Amanda mendorong dada Richard.
"Enggak, cuma cium doang." Richard menarik tengkuk Amanda dan menciumnya dengan lembut.
"Tiap pagi kita harus kek gini yah?"
"Iya. Mandi sana, bentar lagi sarapannya dateng. Aku udah taruh baju kamu di kamar mandi."
Richard tersenyum dan memeluk Amanda. "Makasih istriku."
Amanda ikut membalas dekapan hangat tubuh suaminya dengan erat. Tidak ada kebahagiaan yang lebih indah dari sekedar pelukan di pagi seperti ini.
Selesai sarapan, Richard dan Amanda pergi menaiki kapal yang disediakan pihak cottage untuk mengelilingi pulau. Hamparan laut biru yang jernih dengan matahari pagi yang hangat, membuat dua pasangan suami istri baru itu terpesona dengan keindahan pulau ini.
Amanda memakai sebuah bikinii berwarna kuning langsat dengan Richard yang memakai celana kain Bali berwarna senada dengan istrinya. Tubuh atletisnya dia biarkan terbuka, menampakkan enam kotak roti sobeknya.
"Cantik yah By?"
"Iya, cantik banget. Baru dua hari disini rasanya udah betah banget."
"Iya bener, jadi nggak mau pulang. Maunya bulan madu mulu sama kamu," goda Richard mencium gemas pipi Amanda.
"Aku mau deh punya cottage di pinggir pantai kek gini Chad. Biar nanti kalo kita udah punya anak, kita bisa sekalian liburan disana."
"Boleh, nanti aku minta Donal cariin tempat yang bagus."
"Hah? Kamu serius?" tanya Amanda tidak percaya, padahal dia cuma asal bicara saja tadi.
"Serius Beby, apa sih yang enggak buat kamu. Selama aku bisa penuhinnya, semua bakal aku kasih...."
"Aww ... romantis banget sih kamu," sahut Amanda bahagia memeluk Richard. "Makasih yah suamiku...."
Kecupan manis langsung mendarat di bibir Richard, pria ini memang paling tahu bagaimana cara membuat Amanda bahagia.
"By...."
"Iya?"
"Kamu mau punya berapa anak?" tanya Richard memeluk Amanda dari belakang.
__ADS_1
Keduanya masih duduk di atas kapal menikmati suasana pulau yang tenang dan damai.
"Kalo kamu maunya berapa?" tanya Amanda balik.
"Aku sih terserah kamu aja By, semampunya kamu aja. Aku nggak mau maksain kamu harus mengandung berapa banyak anak untuk keluarga kita."
"Beneran?"
Richard mengangguk. "Iya. Aku pernah liat ka Rena dulu susahnya lahirin Keith gimana. Aku yang temenin Ka Rena di ruang bersalin, karena nggak ada siapa-siapa disana selain aku. Dia takut kalo ditinggal sendiri, si bule waktu itu ada tugas di luar kota. Jadi nggak bisa temenin ka Rena."
"Bule?" tanya Amanda tidak mengerti.
"Iya bule, si Deryl suaminya ka Rena."
Amanda menggelengkan kepala mendengar panggilan Richard untuk kakak iparnya sendiri.
Pria yang dipanggil bule jadi-jadian itu memang tidak berada di samping Rena saat akan melahirkan. Rena yang hamil tua harus rela ditinggal pergi oleh Deryl karena urusan bisnis yang tidak bisa diwakilkan.
Sempat kecewa karena pria itu lebih memilih pekerjaannya, Rena pernah berkata ingin berpisah dengan Deryl. Namun pria berkewarganegaraan asing tersebut terus meminta maaf dan berjanji akan menemani Rena melahirkan di kehamilannya yang kedua ini.
"Mulai dari situ aku janji nggak akan maksain bini aku nanti untuk lahirin berapa banyak anak, aku tahu gimana susahnya wanita mau melahirkan!" sambung Richard mengeratkan pelukannya pada Amanda.
"Iya, makasih Chad. Aku se dikasihnya aja sama yang Di Atas. Mau satu, dua, atau lima juga aku nggak pa-pa."
"Tapi aku yang apa-apa nanti By...."
Amanda mengernyit. "Maksud kamu?"
"Nanti aku bakal rebutan sama anak aku lagi kalo mau mainin ini," sahut Richard meremass dada kenyal Amanda.
"Ish kamu emang yah, tangannya gak pernah bisa diem!" tepis Amanda. "Sama anak juga nggak mau kalah, dasar!"
"Biarin, aku juga kan butuh By."
Amanda berdecak tertawa geli, rasanya dia tidak sabar untuk mengandung hasil buah cinta mereka.
.
.
.
.
.
.
.
Hari ini belum ada kuda-kudaan yah seperti mau Amanda.... 🤭😆
__ADS_1
Sabarrr 😂