
"Ini, Amanda baru aja selesai di periksa dokter barusan," sahut Amel lebih dulu.
"Periksa? Emang menantu kesayangan mommy kenapa?" tanya Tari khawatir.
Wanita itu buru-buru mendekati Amanda dan membuka kacamata hitamnya.
"Nggak kenapa-napa, Mom. Tadi Amanda ke dokter kandungan."
"Trus?"
"Amanda sedang hamil, jeng Tari," sela Amel menatap bahagia besannya.
"A-apa, hamil?" kaget Tari.
"Iya, Mom."
"Astaga ... Mommy seneng banget dengernya, Manda." Tari sontak memeluk menantu perempuannya penuh cinta.
Sebentar lagi cucunya akan bertambah satu orang lagi. Tidak ada kebahagiaan yang lebih indah dari ini dibandingkan apapun pikirnya.
"Udah berapa Minggu, Manda?" tanya Tari melepaskan pelukan mereka.
"Udah jalan tujuh Minggu, Mom."
"Aduh, Richard emang tokcer yah? Jago banget dia udah bikin kamu hamil secepat ini," puji Tari bangga pada anak laki-lakinya.
"Yaudah sekarang kita pulang yuk kerumah Mommy. Mommy mau bikin makanan kesukaan kamu, jeng Amel ikut juga," sambung Tari bersemangat.
"Eh, Mommy nggak jadi masuk ke dalam?" tanya Amanda.
"Nggak usah, sebenernya Mommy mau jengukin anak temen mommy yang baru lahiran. Tapi udahlah, gampang dia. Menantu mommy lebih penting sekarang."
Amanda mengangguk diikuti ibunya Amel. Mereka hanya pasrah saat Tari memaksa ikut dengan dia naik ke mobilnya.
"Mawar ikut aja dari belakang, yah?" ujar wanita rempong itu sebelum masuk ke mobil Alphard-nya.
Mawar mengangguk dan kembali ke parkiran untuk mengambil mobil. Padahal dia baru saja memarkirkan mobil tersebut setelah cukup lama menunggu parkiran yang kosong.
Parkiran yang memang tidak terlalu luas membuat beberapa pengendara harus bersabar menunggu parkiran yang kosong, untuk mobil mereka.
"Richard udah tahu belum soal ini?" tanya Tari begitu mobil yang mereka naiki meluncur meninggalkan rumah sakit.
"Belum, Mom. Rencananya aku bakal ngasih tahu pas Richard pulang aja, sekalian kasih surprise buat dia dirumah baru kami."
"Aduh, padahal mommy berharap kalian tuh mau tinggal di rumah mommy. Rumah udah lebih sunyi sekarang," keluh Tari mulai merasa kesepian di rumah besarnya.
Amanda hanya tersenyum menatap bergantian ibu mertua dan ibu kandungnya. Bukannya tidak mau, tapi mungkin lebih baik begini agar keduanya tidak saling iri jika Amanda maupun suaminya tinggal di salah satu rumah orang tua mereka.
Lagipula setau dia jika sudah menikah akan jauh lebih baik, kalau tidak tinggal serumah dengan orang tua. Banyak temannya dulu sering menceritakan ini, terlebih pegawai di butiknya.
Mereka bahkan sering mengeluh dan menangis jika menceritakan bagaimana susahnya tinggal dengan mertua ataupun orang tua kandung. Amanda tidak mau hal itu terjadi padanya, baginya pilihan Richard membeli rumah dan tinggal di sana setelah menikah adalah yang paling baik untuk keluarga mereka masing-masing.
__ADS_1
"Nanti kita bikin pesta kecil-kecilan aja dirumah baru kalian sayang, mommy akan atur semuanya. Jadi nanti pas kamu jemput Richard di bandara, dia pasti bakal kaget saat pulang kerumah dan lihat surprise yang kita siapin buat dia. Gimana?" tanya Tari dengan segudang rencana di kepalanya.
"Boleh, aku ikutin maunya Mommy aja gimana."
"Ok, kalo gitu nanti urusan surprise di rumah baru kalian mommy yang atur, yah? Jeng Amel bisa pesenin makanan catering waktu lalu yang makanannya enak-enak."
Amel mengangguk. "Iya, nanti aku bakal hubungi pihak catering."
"Richard kapan pulang, Manda?" tanya Tari bergantian menatap menantunya yang terlihat mulai mengantuk.
"Belum tau, Mom. Nanti aku telpon dia kalo udah di rumah," sahut Amanda dengan mata memerah.
"Kamu ngantuk?" tanya Tari mengusap punggung tangan Amanda.
"Iya, Mom."
"Yaudah tidur aja, ibu hamil memang begitu. Bawaannya ngantuk sama laper melulu."
Belum selesai berbicara, Amanda sudah lebih dulu tertidur di kursi mobil dekat dua ibunya. Tari dan Amel sampai menggelengkan kepala melihat Amanda tidur dengan nyenyak di sana.
"Cepet banget Amanda udah tidur, yah Jeng?"
"Iya, Amanda akhir-akhir ini emang begitu. Dia bahkan sedikit-sedikit makan kalo dirumah," sahut Amel menatap lembut anak semata wayangnya.
"Wuah, anaknya pasti sehat di dalam sana."
Mobil yang membawa ketiganya tiba di rumah mewah dan megah Tari. Ketika mobil berhenti, Amanda ikut bangun sembari mengucek dua matanya.
Amanda mengangguk mengikuti ibunya keluar dari mobil. Tari sudah lebih dulu turun menyiapkan makanan untuk menantu dan besannya di siang menjelang sore itu.
"Manda, selamat yah?" Rena menyambut adik iparnya sambil menggendong Amore.
"Eh, Ka Rena udah tahu?"
"Iya, barusan mommy ngomong kalo kamu udah hamil. Wah, Richard pasti bakal seneng banget denger berita ini."
"Iya, aku juga udah nggak sabar nunggu dia pulang."
Amanda masuk bersama kakak iparnya dan Amel. Mereka duduk di depan meja makan setelah Tari selesai menyiapkan makanan.
"Kamu harus makan yang banyak yah, Sayang. Kalo laper makan, nggak usah inget-inget berat badan kamu. Kalo Richard protes, bilang sama mommy. Jangan maunya enak aja pas langsing tapi nggak mau pas udah gendut!"
"Iya bener kata Mommy, Manda. Kasih tau sama aku juga kalo Richard macem-macem, biar aku getok sekalian kepalanya!" sela Rena tertawa jahat.
"Iya, Richard gak gitu kok orangnya. Mommy sama Ka Rena tenang aja," sahut Amanda makin lahap memakan makanan di atas meja.
Ibu mertuanya ini memang jago memasak, semua makanan western dan lokal tidak ada yang tidak dia tahu. Mungkin setelah ini Tari akan sering-sering memasakkan makanan untuknya.
"Kamu nggak ada keluhan apa-apa, kan? Mual atau pusing, gitu?"
"Nggak ada Mom, sejauh ini cuma laper terus sama ngantuk doang."
__ADS_1
"Syukurlah kalo gitu, padahal dulu mommy waktu hamil Richard mual sama muntah gak berhenti. Mommy sampe gak bisa makan dan berat badan turun jauh...." Tari asik menceritakan bagaimana susahnya dulu dia mengandung Richard.
Anak laki-lakinya yang memang sedikit manja itu, dari masih di kandungan saja sudah membuatnya susah. Tari masih ingat betul dirinya yang harus bolak balik rumah sakit karena mual dan muntah yang tidak pernah habis menyerangnya, sampai di usia kehamilannya lima bulan.
"Aku telpon Richard dulu sebentar." Amanda pamit setelah menghabiskan dua piring makanan.
Mengambil ponsel dari dalam tas tangannya, Amanda menekan nomor suaminya.
"Halo, Chad."
"Iya Beby?" sahut Richard dari ujung telepon.
"Lagi ngapain? Aku kangen...," sahut Amanda dengan suara manjanya.
"Iya, aku masih kerja. Bentar lagi, yah? Nanti aku telpon kalo udah selesai."
"Jam segini masih kerja juga? Katanya tadi mau telponan sama aku sampe malem!" protes Amanda.
"Eh, bukan. Nggak gitu, By ... aku cuma—" Richard tidak sempat meneruskan ucapannya karena Amanda sudah lebih memutuskan panggilan mereka.
Sengaja, Amanda ingin sedikit mengerjai Richard sampai nanti suaminya kembali ke Jakarta dan kaget mendapati kabar kehamilannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ok,, kita tunggu yah nanti...
Untuk Part Donal dan Celin akan berlanjut setelah dia resmi mengundurkan diri sebagai sekretarisnya Richard, yah.... 😁
Sabar menanti up guys
Terima kasih 🌹
__ADS_1