
'Pagi By, aku jemput yah nanti...
I love you'
Bunyi pesan masuk di ponsel Amanda pagi ini dari Richard mengawali hari baru di hidupnya. Setelah resmi mengikat hubungan dengan pria yang tidak sengaja bertemunya di club waktu itu.
Kini mereka malah bersama dan sebentar lagi akan menikah. Amanda bahagia dan bersyukur. Di tengah rasa sakitnya kehilangan Ardi, pria pertamanya. Richard malah hadir dan perlahan menyembuhkan rasa di hatinya.
Pria itu memang cuek dan lebih banyak menggodanya, tapi ada saja hal-hal kecil yang bisa membuat hati Amanda menghangat karenanya.
Richard punya caranya sendiri untuk bisa membuat Amanda terpesona dan jatuh dalam dekapan tubuh hangatnya.
Ah, dia jadi merindukan burungnya saat ini. Dasar gila! Apa yang Lo pikirin sih Manda, ini masih pagi astaga....
Amanda tertawa geli di balik selimut tebal yang dia pakai, pesan yang diterimanya barusan dari Richard membuat pikirannya berlarian entah kemana.
Apa dia sudah mulai jatuh cinta dengan Richard? Ya, tidak dapat Amanda pungkiri, Richard selalu bisa membuatnya rindu.
Rindu dengan senyuman pria itu, rindu dengan sentuhannya yang memabukkan, rindu bagaimana pria itu selalu membuatnya kesal namun malah menyukainya.
Dia harus bergegas, Richard akan menjemputnya sebentar lagi. Kalau bisa, Amanda ingin pagi nanti mereka bisa bermesraan sebentar untuk mood booster-nya sepanjang hari ini.
Ya ampun, kok gue jadi malu-malu gini kayak anak remaja baru jatuh cinta sih, gumamnya menyibakkan selimut dan berjalan masuk ke kamar mandi.
"Pagi Beby...," sapa Richard hangat.
"Pagi ... kok nggak masuk dulu?"
"Nanti sore aja, gue udah telat ini."
Amanda mengangguk dan duduk tenang di samping kursi kemudi dimana Richard duduk.
"Pake seat belt-nya dong Beby...." Richard menarik tali pengaman dalam mobil dan memakaikannya untuk tunangan yang bukan bohongan lagi.
"Makasih...."
"Cium dulu dong," goda Richard.
"Apa sih."
"Cium dulu...." Richard menunjuk pipi kirinya.
Amanda tertawa dan maju mendekati pipi Richard. Belum sempat menyentuhnya, Richard menoleh dengan cepat hingga bibir tipis merah mudanya mengenai bibir basah pria blasteran itu.
Richard menahan tengkuk Amanda dan memperdalam ciuman pagi mereka. Saling bertukar saliva dengan menggebu, keduanya sama-sama larut dan menginginkan hal lebih.
Ah, kalau saja tidak mengingat dia ada rapat penting hari ini. Richard pasti sudah membawa Amanda ke apartemennya dan mengurung burungnya di dalam sangkar kelembutan Amanda.
__ADS_1
"Kita berangkat yah," ujarnya mengusap bibir tipis yang sedikit bengkak itu.
Amanda mengangguk. Wajahnya tampak memerah, mencoba menahan diri dengan serangan memabukkan bibir serta lidah Richard.
Sempat terlena hingga mengharapkan pria itu akan melakukan hal yang lebih, Amanda sepertinya harus bersabar karena Richard terlihat terburu-buru pagi ini.
Sambil membawa mobil, Richard menggenggam tangan Amanda tidak ingin lepas sedikit saja.
Dia tahu kalau dia butuh Amanda sekarang, tidak sabar wanita ini akan segera resmi menjadi istrinya.
Perasaan bahagia dihatinya hanya bisa dia dapatkan dari Amanda, calon istri yang sudah merebut hatinya dari awal pertemuan mereka.
"Nanti siang ke kantor gue yuk, sekalian makan siang disana."
"Hah? Kenapa? kok tumben?"
"Ya nggak apa-apa, sekalian 'main' juga nanti, kan...," kekehnya menaik turunkan alisnya.
"Mau elo itu," cibir Amanda.
"Nanti gue pesen makanan buat kita makan siang. Mau gue jemput ato gimana?"
"Nggak usah, gue naik taksi aja. Jangan bolak balik di jalan."
"Ok deh, semangat kerja yah By...."
Richard mengangguk dan menarik tangan Amanda kembali mendaratkan bibirnya di bibir candu wanitanya, sebelum Amanda turun dari mobil. Mereka sudah tiba di depan butik, dan keadaan pagi itu masih sedikit sepi.
Tidak biasanya seperti itu, mungkin wartawan yang dulu selalu ramai menunggu mereka di depan sana sudah lelah dan bosan. Hingga pagi ini tidak terlihat bayangan mereka disana.
"Aku pergi yah By...." sahut Richard dari balik jendela mobilnya.
"Iya, bye...."
Amanda melambaikan tangan hingga mobil yang dibawa Richard menghilang jauh di depan sana.
Sentuhan kelembutan bibir Richard masih terasa di bibirnya, membuat hati Amanda membuncah bahagia. Tidak sabar menunggu nanti siang.
Baru saja berbalik, Amanda di tarik paksa oleh seseorang masuk ke dalam mobil yang terparkir tidak jauh dari sana.
"Lo...!" kaget Amanda mendapati sosok pria masa lalunya yang menyeretnya paksa masuk ke dalam mobil.
"Duduk diem disitu! Gue perlu ngomong sama Lo!"
"Enggak, lepasin gue!"
"Dengerin gue Manda, jangan sampe gue bikin hal yang enggak-enggak sama Lo!"
__ADS_1
"Mau Lo apa sih Ar?"
"Udah diem aja disitu."
Ardi pindah ke kursi kemudi dan mulai melajukan mobilnya meninggalkan halaman butik milik Amanda.
"Berhenti! Kalo nggak gue lompat sekarang!"
"Coba aja, emang Lo berani!" tantang Ardi.
"Brengsek!"
Amanda membuka pintunya dan berniat melompat dari dalam mobil yang tengah melaju kencang.
"Bisa diem gak sih Lo!" tahan Ardi menarik tangan Amanda. "Ok gue berhenti!"
Ardi memberhentikan mobilnya di pinggir jalan, dan mengunci pintu rapat agar Amanda tidak bisa keluar lagi.
"Mau Lo apa sih sebenarnya, hah?!"
"Elo! Gue butuh elo Manda. Gue butuh elo sekarang!"
"Sinting! Otak Lo emang udah nggak waras!"
"Gue emang nggak waras semenjak putus sama Lo. Gue emang gila karena lepasin elo waktu itu. Tolong maafin gue, Manda. Gue masih cinta sama Lo!"
Amanda tertawa sarkas. "Jangan bikin gue makin jijik sama Lo!"
"Terserah kalo Lo jijik sama gue Manda. Terserah ... gue nggak peduli, tapi elo cuma milik gue! Nggak ada yang boleh milikin elo selain gue!"
"Apa maksud Lo?"
"Kasih gue kesempatan Manda, setelah gue nikah sama Betty. Gue akan langsung cerein dia, dan kembali sama Lo. Kita bisa pergi jauh dari sini, seperti impian Lo dulu. Gue nggak cinta sama dia, gue nikah sama dia karena terpaksa. Elo yang gue cinta bukan dia!"
Lagi, Amanda tertawa sarkas mendengar ucapan Ardi mantan tunangannya dulu.
"Lo pikir gue percaya? Makasih ... tapi gue udah punya tunangan. Gue nggak tertarik mungut sampah bekas orang lain!"
Amanda berbalik dan mencoba membuka paksa pintu mobil Ardi, pria itu dengan sigap menahan dua tangan Amanda dan mengikatnya dengan tali dasi yang dia pakai.
"Lepasin gue, apa yang Lo lakuin!" pekik Amanda.
"Lo nggak bisa kemana-mana, Lo cuma milik gue. Nggak ada yang boleh milikin Lo selain gue!"
"Dasar gila! Lepasin gue!" teriak Amanda makin keras.
"Diem Manda, jangan coba-coba pancing amarah gue!"
__ADS_1
Baru saja akan melajukan mobilnya kembali, tiba-tiba jendela kaca dimana Ardi duduk di pukul kuat oleh seseorang hingga pecah