Touch Me Slowly

Touch Me Slowly
7 Minggu


__ADS_3

"Gimana Sayang?" tanya Amel dari balik pintu.


Amanda keluar memegang dua testpack digital dan yang biasa di tangan. Menunjukkannya pada Amel, wajah wanita itu tersenyum dengan mata memerah.


"Ini...." Amel menutup mulutnya tidak percaya. "Kamu hamil, Manda."


"Iya, Ma. Aku hamil, hamil anaknya Richard." Tangisan kebahagiaan langsung pecah diantara dua wanita berbeda usia itu.


Amel memeluk anak perempuannya penuh cinta. Hatinya ikut bahagia mendapatkan kabar menggembirakan seperti ini.


"Selamat sayang, Mama ikut bahagia untuk keluarga kalian."


"Makasih, Ma."


Amel mengusap punggung Amanda, mendaratkan ciuman hangat di pipi anaknya.


"Kita cek ke rumah sakit yuk," ajak Amel.


"Sekarang?"


"Iya sayang, biar kita bisa lebih yakin lagi."


Amanda mengangguk. "Yaudah, aku siap-siap dulu."


Wanita yang tengah diliputi kebahagiaan itu masuk ke dalam kamarnya dan mulai bersiap.


Mereka meluncur menuju rumah sakit dengan diantar oleh Mawar. Bodyguard yang kini sudah menjadi teman Amanda, mengernyit bingung saat Amel mengatakan untuk membawa mereka ke rumah sakit ibu dan anak di dekat rumahnya.


"Ada yang sakit, Bu?" tanya Mawar dari balik kursi kemudi


"Nggak ada. Kita cuma mau meriksa sesuatu," sahut Amel belum mau memberitahukan yang sebenarnya pada wanita berambut panjang itu.


Dia ingin semuanya lebih pasti setelah mereka melakukan pengecekan dirumah sakit.


Mawar mengangguk menatap Amanda dari balik kaca spion depan, istri bosnya itu hanya memberikan senyum seakan mengerti dengan rasa penasarannya.


Tidak butuh waktu lama untuk mereka tiba rumah sakit. Amanda dan Amel lebih dulu turun, dengan Mawar yang pergi memarkirkan mobil.


"Kamu tunggu disini aja, biar Mama yang ambil nomor antrian."


Amanda mengangguk patuh, duduk di dekat wanita-wanita hamil lainnya. Ada lima orang pasangan suami istri yang juga ikut mengantri menunggu nomor mereka di panggil oleh perawat.


Di samping kanan Amanda duduk sepasang suami istri bersama satu orang anak laki-laki berumur sekitar lima tahun, seperti ponakannya Keith.


Keluarga dengan wajah luar negeri itu terlihat begitu hangat dan bahagia, dengan anak laki-lakinya yang tidak berhenti mengelus perut ibunya.


(Pembicaraan Bahasa Inggris diubah ke dalam bahasa Indonesia)


"Apa adiknya sudah mau keluar sekarang, Mom?" tanya anak laki-laki.


"Belum, Nak. Mommy cuma kelelahan saja karena penerbangan yang cukup lama tadi pagi," sahut ayah anak itu.


"Tapi, Mommy baik-baik saja, kan?" tanyanya khawatir.


"Iya Xander, Mommy baik-baik saja. Kamu tidak perlu khawatir, ok?" sahut ibu anak itu menenangkan anak pertamanya.


Amanda tanpa sadar tersenyum bahagia melihat keluarga kecil tersebut. Dia jadi membayangkan Richard dan juga anak mereka kelak akan seperti mereka nanti.


Anak kecil yang dipanggil Xander oleh ibunya mengangguk dan tidak sengaja menatap Amanda yang sejak tadi sedang menatapnya berbinar.

__ADS_1


"Halo Tante," sapa Xander melambaikan tangan.


Pasangan suami istri itu sontak mendongak, menatap Amanda yang tersenyum malu.


"Halo," sapa Amanda balik.


"Perut Tante kenapa tidak sama seperti mommy-ku?" tanya Xander menunjuk perut Amanda.


"Oh, anak tante masih sangat kecil. Belum seperti adik kamu yang sudah mulai besar di dalam perut mommy-mu."


"Benarkah? Boleh aku mengelus perutmu Tante?" tanya Xander bersemangat.


"Boleh." Amanda tersenyum duduk bersandar di kursi agar Xander bisa mengelus perutnya dengan leluasa.


"Sehat selalu adik," ujar anak kecil itu tersenyum bahagia.


"Anaknya pinter sekali, Bu." Amanda mengusap kepala Xander setelah dia duduk kembali di kursi samping ibunya.


"Iya, dia memang selalu penasaran dengan hal-hal yang baru. Ibu, mau periksa juga?" tanya wanita berhidung mancung itu.


"Iya, saya mau periksa lebih lanjut setelah tadi pagi tes lewat testpack."


"Oh, semoga semuanya sehat-sehat, Bu."


Amanda mengangguk sambil mengelus perutnya yang masih rata.


"Ibu Ruby Lionel?" Seorang perawat keluar memanggil nama wanita itu.


"Nama saya dipanggil. Saya duluan, Bu." pamit wanita bernama Ruby itu pada Amanda.


Suami Ruby membantu istrinya berdiri dari kursi dengan hati-hati. Terlihat pria bertubuh tinggi dengan rambut berwarna cokelat tua itu, sempat tersenyum menatap Amanda sebelum mereka masuk ke dalam ruangan dokter kandungan.


Pria itu memakai kemeja bertuliskan Lionel's Kitchen yang diketahui Amanda sebagai salah satu restoran western favoritnya di kota ini.


Jika memang benar mereka adalah pemiliknya, Amanda sangat bangga bisa bertemu dan berbicara dengan orang sehebat mereka, pikirnya.


(Pembicaraan Bahasa Inggris diubah ke dalam bahasa Indonesia, selesai)


"Minum dulu sayang...." Amel duduk setelah mendaftarkan anaknya ke perawat yang berjaga.


"Habisin kalo perlu, yah?" sambung wanita paruh baya itu menyodorkan dua botol air mineral berukuran sedang ke tangan Amanda.


"Hah? Harus emang, Ma?"


"Iya, kata perawat kamu harus minum yang banyak. Biar nanti pas pemeriksaan baby-nya bisa terlihat jelas di layar," terang Amel.


Amanda mengangguk mengikuti perintah ibunya. Dalam beberapa kali tegukan saja, wanita itu berhasil menghabiskan dua botol air mineralnya. Dia begitu bersemangat dan tidak sabar menunggu giliran dia di panggil.


"Silahkan berbaring, Bu." ujar seorang perawat mendekati Amanda dan Amel.


Amanda berbaring di atas sebuah ranjang dalam ruangan praktek dokter kandungan, dengan perawat yang membantunya membuka setengah kemeja yang dia pakai.


"Baru cek pertama kali yah, Bu?" tanya dokter wanita bernama Rahma.


"Iya, dok. Saya baru cek tadi pagi pakai testpack."


"Baik. Permisi yah, Bu. Kita periksa dulu."


Dokter mulai membalurkan sebuah gel dingin ke perut Amanda dan mulai mengarahkan sebuah benda panjang di atasnya.

__ADS_1


"Ini udah ada kantungnya yah, Bu. Detak jantungnya juga udah terdengar. Bayi ibu kira-kira berusia 7 Minggu lebih."


Suara penuh rasa syukur terdengar dari mulut Amanda dan Amel bersamaan. Mereka sangat bahagia mendengar penuturan dokter saat ini.


Amanda bahkan sampai menangis terharu, tidak percaya kalau di perutnya sudah ada buah cinta dia dan Richard selama ini.


"Selamat yah, Bu. Nanti jangan lupa rajin cek up setiap sebulan sekali, saya akan kasih resep untuk vitaminnya juga."


"Makasih Dok," sahut Amanda mengusap sudut matanya yang basah.


"Dengerkan tadi kata dokter, sayang? Kamu nggak boleh capek-capek dulu sekarang. Kurangin aktifitas kamu setidaknya sampe trimester satu lewat." Amel keluar ruangan praktek dokter kandungan menggandeng Amanda di sampingnya.


"Iya, Ma. Aku bakal ngurangin aktifitas di butik. Aku juga nggak mau anak aku kenapa-napa nanti."


Tiba di pintu keluar rumah sakit, anak dan ibu itu tidak sengaja bertemu dengan wanita berpakaian modis dengan kacamata hitam bertengger di hidungnya.


"Manda, jeng Amel?" ujarnya kaget


"Mommy?"


"Kalian ngapain disini?" tanya Tari menatap bergantian Amanda dan Amel.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Kalo denger Ruby sama Andrew Lionel pasti tau mereka siapa yee, kan 🤭


hehehe


Yang ikutin karya kedua author pasti kenal sama mereka 😁


Yang belum tau bisa mampir di DENDAM, yah guys 🤗


.


.


.


.

__ADS_1


.


Next part,, tar sore yah 😁


__ADS_2