Touch Me Slowly

Touch Me Slowly
Pemaksa


__ADS_3

"Muka gue gimana nih, War? Udah berapa hari bengkaknya masih kek gini!" tunjuk Dira pada wajah tanpa nodanya.


"Ya gimana, tunggu aja. Nanti juga bengkaknya ilang!" sahut Mawar santai.


Dira berdecak menarik tangan Mawar yang sibuk menulis di depannya. "Lo musti tanggung jawab!"


"Ish, tanggung jawab apaan?! Dah, kayak orang hamil aja Lo." Mawar menepis tangan Dira darinya.


Pria bermata sipit itu kembali menarik tangan Mawar hingga wajah mereka sangat dekat.


"Jadi Lo nggak mau tanggung jawab?" tanyanya menatap tajam Mawar.


"Apa, sih?! Gue, kan udah bantuin kompres muka elo dari kemarin, Dir. Nggak usah aneh-aneh, deh Lo!"


"Cuma itu doang tanggung jawab lo?!"


Mawar mengernyit. "Trus mau Lo apa lagi, hah?!"


Dira tersenyum, makin mendekati wajah cantik Mawar. "Temenin gue nanti malam...," ujarnya setengah berbisik.


"Temenin apaan ini maksud Lo?" sahut Mawar curiga.


Dira mundur melepaskan tangannya dari Mawar. "Temenin gue makan malam, nanti bakal ada acara reuni sama temen-temen SMA gue."


Mawar berdecak, menggelengkan kepala. "Mau ngajak makan malam aja harus pake alasan tanggung jawab segala! Dasar cowok!" cibirnya.


"Kaum kayak gue, tuh emang begitu, War ... Lo nya aja yang kadang gak peka," kekeh Dira.


"Jadi nanti malem Lo temenin gue, ok?" sambung pria itu lagi penuh harap.


"Ogah! Males! Lo pasti bakal bilang ke temen-temen Lo, gue ini pacarnya elo, kan?!"


"Eh, emang Lo mau gue bilang begitu?" goda Dira.


"Ish, jangan GR Lo! Siapa juga yang mau ... geli yang ada gue!" sahut Mawar bergidik.


"Nggak usah malu-malu kali, War. Gue tau kok gue cakep, makanya Lo ngomong begitu, kan sama gue...."


"Ya ampun ... Lo jadi cowok kegeeran banget, sih?" sahut Mawar kembali menggelengkan kepala.


Wanita itu terlalu malas menanggapi ucapan Dira yang terus menggodanya dengan ketampanan pria berwajah oriental itu.


Dira memang tampan dan cute, sayangnya pria ini bukan tipe Mawar. Dia lebih senang dengan tipe seperti Donal.


Ah, kenapa gue jadi mikirin Donal lagi, sih? Mawar menghembuskan nafas panjang teringat pria yang dia cinta tidak tahu ada di mana sekarang.


Sudah selama ini tidak melihat Donal membuat hatinya rindu. Mawar berusaha merelakan dia tapi masih sangat sulit hingga sekarang. Donal benar-benar sudah merasuki hati dan pikirannya.


"Malah ngelamun lagi Lo...." sentak Dira menarik dagu Mawar.


"Apa, sih Lo, Dir? Seneng banget kayaknya pegang-pegang gue dari kemaren!" kesal Mawar menepis kasar tangan Dira.


"Makanya Lo jangan kebanyakan ngelamun, mau kesambet Lo?!"


"Bodo!"

__ADS_1


"Yaudah, tar malem pake baju yang cantik, yah? Gue jemput Lo jam tujuh."


"Eh, gue nggak iyain, yah ajakan Lo!" sahut Mawar tidak terima.


"Gue nggak mau tau! Pokoknya tar malem gue jemput. Gue pergi dulu, bye...."


"Eh, jangan ngada-ngada Lo, Dir...!" Mawar beranjak ingin mengejar pria yang sudah menghilang di balik pintu ruangan atasannya.


Pria itu baru saja mengantarkan sebuah dokumen yang dititipkan Richard, dan seenaknya pergi setelah ajakan tidak masuk akalnya.


Mengenal Dira selama beberapa hari membuat Mawar perlahan mengenalnya sebagai pribadi yang suka memaksa. Liat aja kalo gue mau pergi sama Lo! Kesalnya melanjutkan pekerjaan.


Mawar baru saja menyelesaikan pekerjaannya saat jam sudah menunjukkan hampir pukul tujuh malam. Ternyata pekerjaan di butik Amanda membutuhkan waktu yang ekstra pikirnya.


Sudah beberapa hari ini dia harus lembur untuk menyelesaikan banyaknya pekerjaan yang memang sempat tertunda karena pemiliknya yang koma.


Ah, Mawar jadi rindu dengan wanita itu. Wanita yang selalu memperlakukan dia dengan baik selama ini, dan sudah menganggapnya seperti seorang sahabat.


Hingga sekarang Mawar belum berani ke rumah sakit. Mengingat ibu atasannya yang masih marah padanya, makin membuat Mawar takut pergi ke sana. Mungkin ada baiknya dia jangan dulu menunjukkan wajahnya di depan mereka pikirnya.


"War...!" Bunyi pintu yang dibuka kasar dengan suara menggelegar, membuat wanita itu berjengkit kaget dari kursi atasannya.


"Taii...!" pekik Mawar. "Ngapain Lo teriak-teriak disini, hah?!" kesalnya melemparkan kotak hiasan di atas meja pada Dira.


"Sorry, sorry ... kaget, yah?" kekeh pria itu tidak merasa bersalah.


"Sekali lagi Lo teriak-teriak begitu, gue patahin leher Lo!" ancam Mawar beranjak dari kursi.


"Wih ... sadis amat, sih jadi cewek."


Mawar tidak mempedulikan ucapan Dira, dan berjalan meninggalkan dia setelah mengambil tasnya.


"Apalagi?!" kesal Mawar.


"Lo, kan mau temenin gue makan malam. Ayo, cepet. Kita udah telat ini...."


"Emang siapa yang bilang mau pergi sama Lo, hah?! Minggir, gue mau pulang!" Mawar mendorong pria bertubuh jauh lebih tinggi darinya itu.


"Pokoknya Lo harus ikut gue...," sahut Dira bersikukuh.


"Nggak! Minggir!" Mawar kembali mendorong Dira menjauh.


Kesal dengan penolakan yang terus diberikan Mawar, Dira langsung menggendong tubuh kecilnya ke atas pundak dia.


"Aaaa...," pekik Mawar kaget. "Lo apa-apaan, Dir?! Turunin gue...," sambungnya meronta.


"Diem!" Dira memukul bokong Mawar. "Lo nggak bakal kemana-mana sebelum Lo temenin gue malem ini."


"Bangkee emang ni orang! Turunin gue sebelum gue pukulin Lo lagi kayak kemarin!" ancam Mawar terus meronta di gendongan Dira.


"Coba aja kalo berani, gue lempar Lo ke jalan sekarang juga!"


Dira membawa Mawar turun dari lantai dua butik dan menurunkannya di dalam mobilnya. Sontak dua orang itu langsung menjadi pusat perhatian satpam yang berjaga di butik Amanda.


"Ibu Mawar kenapa, Pak?" tanya satpam itu.

__ADS_1


"Nggak pa-pa, Pak. Biasalah kalo cewek lagi ngambek, ribet."


Satpam manggut-manggut melihat Mawar yang berteriak di dalam mobil Dira. Pria itu masuk setelah berpamitan pada satpam yang berjaga.


"Turunin gue Dira...!" Suara Mawar terdengar meninggi dengan tangan yang bersiap meninju wajah pria itu lagi.


"Nanti kalo kita udah sampe, gue turunin Lo di sana," sahut Dira santai.


"Kalo Lo nggak brenti, gue lompat sekarang juga!"


"Emang Lo berani? Udah diem aja disitu. Kita cuma mau makan malam bukan mau check in."


Mawar makin meradang mendengar ucapan pria pemaksa di sampingnya, wanita itu kembali melayangkan tinju ke lengan Dira yang sedang membawa mobil.


"Aduh," ringis Dira kaget.


Pria itu segera memberhentikan mobilnya di pinggir jalan sebelum terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan.


"Lo jadi cewek nggak ada lembut-lembutnya, yah emang...?!"


"Bodo! Buka pintunya gue mau turun!"


Semakin kesal dengan penolakan yang diberikan Mawar, Dira membuka seatbelt yang dia pakai dan menarik tengkuk Mawar dengan kuat. Dengan cepat Dira mencium bibir tipis merah muda mawar hingga wanita itu kaget.


Dira menahan dua tangan Mawar yang ingin kembali meninjunya seperti sebelumnya dengan satu tangan, dan tangan yang lain menahan tengkuk Mawar.


Mengigit bibir Mawar hingga mulut itu terbuka, Dira dengan cepat masuk menjelajah isi di dalam sana penuh semangat.


.


.


.


.


.


Aduh,, dasar biji pemaksa! 🤧


.


.


.


.


.


Guys


Author minta maaf belum bisa update banyak, yah


Author masih sibuk seminggu ini

__ADS_1


Sabar menanti up, yah guys


Terima kasih 🌹


__ADS_2