
"Richard...!"
"Donal...!"
"Mike....!"
Teriakan dari ruang persalinan terdengar memenuhi sepanjang koridor rumah sakit ruangan itu.
Dari jauh ketiga sahabat yang dijuluki para biji oleh Tari, berlari secepat kilat memasuki rumah sakit saat ketiganya baru tiba dari kantor masing-masing.
Mereka dihubungi sesaat sebelum Amanda, Celin, dan Manis dibawa ke rumah sakit setelah mengalami kontraksi bersamaan.
Kebetulan ketiga wanita hamil itu sedang berada di rumah Amanda, sembari menghabiskan waktu sebelum para suami pulang dari pekerjaan mereka.
Mike sengaja mencari rumah baru yang sedikit dekat dengan rumah dua sahabatnya yang lain, agar Manis tidak kesepian jika ditinggal bekerja olehnya.
Setelah kehamilan Manis memasuki lima bulan, Mike sudah bisa beraktivitas kembali seperti biasa, meneruskan perusahaan milik ayahnya dan juga beberapa bisnisnya.
"Beby...."
"Cel...."
"Nis...."
Ketiga pria itu kompak mendorong pintu ruang persalinan dengan nafas yang naik turun. Beruntung saat pintu di dorong, mereka tidak salah masuk ruangan.
Dokter dan perawat yang berada di sana ikut kaget melihat kedatangan mereka yang tiba-tiba masuk dengan wajah panik.
"Chad ... sakit, Chad." Pria blasteran dengan tato melingkar di lengannya mendekati Amanda yang terbaring menahan sakit di ranjang.
"Iya, By. Aku udah ada disini, maaf aku lama nyampenya." Richard mengecup dahi Amanda, mengusap keringat yang memenuhinya.
"Aku udah nggak kuat, Chad. Sakit banget," keluh Amanda lagi.
"Jangan ngomong gitu, By. Kamu harus kuat buat anak kita, dia juga lagi berjuang mau keluar ketemu kita Beby...." Richard terus memberi semangat untuk istrinya yang memerah menahan sakit di depannya.
Richard tiba di sana saat Amanda baru mengalami pembukaan kelima. Mereka harus menunggu sampai pembukaan kesepuluh yang kata dokter sebentar lagi.
__ADS_1
"Nal, Lo kemana aja, sih?! Kenapa baru dateng?!"
"Iya, sorry. Tadi jalanan macet, Cel. Lo nggak apa-apa, kan?" sahut pria berkulit sawo matang itu khawatir.
"Nggak apa-apa Lo bilang?! Nggak liat ini gue udah tersiksa nahan sakit?!" Celin menarik rambut Donal saat kontraksi itu datang lagi.
"Aduh, Cel ... sakit, Cel!" Donal ikut berteriak bersama istrinya menahan rasa sakit bersama.
Kedua pasangan itu paling berisik di ruang persalinan dibanding yang lain.
"Nis, Lo kuat, kan? Gue udah bilang Lo operasi aja biar nggak ngerasa sakit kayak gini. Gue nggak tega liatnya, Nis...." Mike mulai menangis berdiri di samping ranjang di mana istrinya berada.
Pria bermanik mata abu-abu itu memang tidak mau Manis melahirkan secara normal, karena terlalu takut melihat video-video kelahiran ibu-ibu hamil sebelumnya.
Mike sempat beberapa kali memaksa Manis untuk melahirkan secara cesar, demi memastikan istrinya tidak akan merasa sakit saat melahirkan anak mereka.
"Nggak pa-pa Mike. Aku perempuan, udah kodratnya aku bakal ngerasa sakit kayak gini. Lagipula mau normal ataupun cesar, aku tetap bakal ngerasa sakit abis itu." Manis berusaha menenangkan Mike yang makin kuat menangis di sampingnya.
Dokter dan perawat sampai bingung kenapa ibu hamil yang malah membujuk dan memberi ketenangan pada suaminya dan bukan sebaliknya. Manis justru jauh terlihat lebih tenang dibanding calon ayah tersebut.
"Udah pembukaan sepuluh sekarang yah, Bu. Ibu bisa mulai mengejan mengikuti arahan dari saya...." Masing-masing dokter yang berada di ruang persalinan memberi instruksi untuk ketiga wanita hamil yang sedang berjuang di dalam sana.
Tari dan Amel terlihat saling memegang tangan, berusaha saling memberi ketenangan satu sama lain. Sedangkan Dena dan Linda duduk bersama besan-besan mereka tidak tenang.
"Sedikit lagi, Bu Amanda." Dokter kandungannya bersuara.
"Terus dorong, Bu Celin." Dokter kandungannya juga bersuara.
"Tarik nafas yang dalam, Bu Manis." Dokter kandungan wanita itu ikut bersuara, hampir bersamaan dengan dua dokter di ruangan lain.
Richard, Donal dan Mike kompak memberi semangat untuk istri mereka. Ketiga calon bapak itu ikut mengatur nafas dan mengejan, saat istri-istri mereka di instruksikan dokter demikian.
Dalam satu tarikan nafas panjang, Amanda, Celin dan Manis berhasil mengeluarkan bayi-bayi lucu mereka hanya berselang beberapa detik saja.
Bayi sehat yang ketiganya berjenis kelamin laki-laki, tampak begitu tampan dan kecil di atas dada wanita yang kini sudah resmi berstatus sebagai seorang ibu itu.
Tangis kebahagiaan langsung pecah diantara pasangan suami istri, yang tengah berbahagia dengan kehadiran buah cinta mereka.
__ADS_1
"Makasih, By. Makasih udah berjuang buat anak kita." Richard kembali mendaratkan kecupan lembut di dahi istrinya, mengusap tangan kecil anak mereka.
Melihat perjuangan Amanda yang dengan susah payah melahirkan anak mereka ke dunia, Richard jadi tahu kalau seorang wanita ternyata makhluk yang jauh lebih kuat, daripada mereka kaum pria.
"Namanya siapa, Chad?"
"Rama, namanya Rama Klose. Anak pertama dari Richard dan Amanda...," sahut pria itu tersenyum bahagia.
Di ruangan yang lain, Donal ikut terharu melihat kehadiran putra pertama mereka yang tengah di dekap oleh Celin. Sejak tadi pria itu tidak berhenti mencium kening istrinya, dan mengusap pipi anak mereka.
Menjadi seorang ayah di umur yang matang adalah impian terdalam Donal sebagai seorang pria. Bersama Celin, wanita yang langsung diajaknya bercinta di pertemuan pertama mereka, justru membawanya jatuh cinta dengan pesona wanita bertubuh montok itu.
Donal bahagia, tidak ada kebahagiaan yang bisa melebihi apa yang tengah dia rasakan hari ini.
"Makasih, Cel. I Love you...."
Tidak jauh berbeda dengan pasangan suami istri tadi, di ruangan yang lain Mike bersama Manis sedang menangis penuh kebahagiaan.
Mike yang memang tidak pernah berhenti menangis sejak tadi, makin terharu melihat kehadiran anak mereka di dada Manis.
Pertemuan yang tidak disengaja di sebuah cafe, dan memutuskan membawa Manis kesisinya telah merubah banyak hal untuk hidup Mike yang kesepian dan penuh amarah.
Karena Manis lah keluarga mereka bisa rukun kembali, sampai bisa menguak satu rahasia besar yang tidak pernah dia tahu. Mike bersyukur karena wanita sebaik Manis bisa menjadi istri, dan juga ibu dari anak mereka.
"Makasih, Nis. Makasih udah jadi wanita luar biasa buat keluarga kita."
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Extra Part selesai