Touch Me Slowly

Touch Me Slowly
Harta Karun


__ADS_3

"Lo disini tinggal sama siapa, Cel?"


"Sendiri."


"Sendiri?" Celin mengangguk. "Orang tua Lo kemana?"


"Mereka masih di indo."


Donal mengernyit. "Di indo? Kok gue nggak tau?"


"Mereka pindah rumah, sekarang udah tinggal di Tangerang."


Donal manggut-manggut mengerti, berjalan mendekati wanitanya yang sedang sibuk membuat sarapan untuk mereka.


"Trus Lo ngapain pindah kesini? Sengaja mau jauhin gue, yah?" goda Donal.


"Udah tau nanya!" Donal terkekeh, memeluk pinggang ramping Celin dari belakang.


"Mau gimanapun Lo jauhin gue, Lo nggak bakal bisa lari dari gue, Cel. Gue tetep bisa ngendus bau bibir bawah Lo dari jauh!" Pria itu mencium ceruk leher Celin berkali-kali.


"Udah kayak anjingg aja Lo!" cibir Celin menepis tangan Donal yang mulai menjalar ke dadanya.


"Lo, kan emang paling demen kalo gue ngajak nge-dooggy, Cel...," sahut Donal dengan jawaban absurd-nya.


"Ish, udah sana duduk. Sarapan kita nggak bakal selesai kalo Lo nempel kayak cicak begini sama gue!" dorong Celin.


"Bodo! Mulut gue belum laper, Cel. Yang laper justru biji gue sekarang." Donal mengangkat tubuh wanitanya ke atas meja dapur, menyingkap baju tidur yang Celin pakai.


"Nal!" pekik Celin kaget.


"Apa sih, jangan berisik. Gue lagi mau nyari harta karun." Pria itu sedikit menunduk menarik benda berenda yang dipakai Celin di tubuh bawahnya.


"Ya ampun, Nal. Gue belum mandi...," sahut Celin malu.


"Nggak pa-pa, gue lebih seneng kalo Lo belum mandi ... kan, bisa sekalian gue bersihin." Donal bersiap di depan Celin yang tengah duduk.


Membuka sedikit kaki wanitanya, Donal masuk menyentuh kelembutan itu dengan bibir basahnya. Lembab dan ... wangi.


Ini bahkan lebih wangi dari bunga segar pikirnya. Donal menerobos kelembutan itu, perlahan memutari area lembutnya dengan lidah.


Celin mengerangg merasakan lidah panjang Donal tengah menikmati tubuh intinya di bawah sana. Ini pertama kalinya Donal menyentuhnya dengan bibir pria itu.


Ada rasa dan sensasi berbeda yang diberikan Donal padanya, Celin hanya bisa meremas pinggir meja sembari menahan gejolak kenikmatan yang diberikan Donal.


Tangan kekar pria itu bahkan asik meremass dadanya dan memainkannya dengan sangat lembut. Hanya dalam waktu lima menit saja, Celin bisa merasakan kalau dia sudah basah di bawah sana.


"Enak, Cel...." ujar pria berkulit sawo matang itu menarik diri dari sana.


Wajah Celin sudah memerah sekarang, mendapatkan pujian dari Donal yang jelas-jelas telah membuatnya basah, sungguh membuat wanita itu malu dan salah tingkah.

__ADS_1


"Punya gue dong," bujuk Donal mengarahkan tangan Celin ke pangkal pahanya.


"Mau apa diapain?"


"Terserah, yang penting jangan di potong aja...," kekeh Donal masih sempat-sempatnya bercanda.


Celin tersenyum, turun dari atas meja dapur. "Sana, duduk di sana aja. Jangan disini," tunjuknya pada kursi meja makan.


"Ok." Donal menarik tangan Celin ke dekat kursi dan menjatuhkan dirinya di atas sana.


"Gue aja yang buka." Celin menarik tali bathrobe yang Donal pakai.


Tubuh polos dengan enam roti sobeknya menyambut pandangan mata Celin. Manik mata cokelat tua itu semakin turun menatap sebuah benda yang sudah tegak sempurna di depannya.


Tidak butuh waktu lama untuk wanita itu memainkan benda perkasaa prianya hingga suara lenguhann berhasil keluar dari mulut Donal.


Celin memang selalu bisa membuatnya melayang, meski hanya menggunakan bibir tipisnya saja.


"Udah, Cel. Gue udah nggak tahan." Donal mendorong wanitanya, menyandarkannya ke pinggir meja makan dan mulai memasuki tubuh Celin.


Berminggu-minggu tidak pernah lagi merasakan kehangatan bercintaa, Donal begitu bersemangat memaju mundurkan tubuhnya di atas tubuh Celin yang membelakangi dia.


Menarik leher Celin dan sesekali menciumnya, Donal berhasil menyemburkan miliknya di dalam sana dengan suara desahann yang cukup panjang.


"Banyak banget, Cel...," bisik Donal dengan nafas yang terengah.


"Gue mana bawa pengaman, Cel."


"Hah? Maksud Lo, Lo nggak pake pengaman, Nal?!"


"Enggaklah ... Lo, kan liat sendiri tadi gue nggak pake," sahut Donal santai.


Pria itu masih belum mau melepaskan diri dari kelembutan wanitanya.


"Astaga, Nal ... kalo gue hamil gimana? Ini masa subur gue, Nal?!" pekik Celin mencoba berontak di bawah tubuh Donal.


"Hamil, yah nikah. Ribet amat, sih!"


"A-apa? Jangan gila Lo, Nal! Gue belum mau nikah!" protes Celin.


"Udah diem aja, gue mampu kok hidupin Lo sama anak kita. Sepuluh juga gue masih mampu!"


Celin berdecak tidak habis pikir dengan pikiran Donal. Entah dia serius atau tidak, tapi Celin tidak ingin nantinya dirinyalah yang merasa dirugikan karena ini.


"Jangan becanda, Nal. Nggak lucu! Awas, gue mau ke kamar mandi!" Celin masih berusaha melepaskan diri dari tautan Donal di bawah sana.


"Nanti aja sekalian, gue masih pengen lagi...." Donal kembali menyentakk kuat melanjutkan ronde ketiganya pagi itu.


Kalaupun Celin hamil, justru akan lebih baik untuknya. Dia jadi punya alasan untuk mengikat wanita itu nanti, pikir Donal.

__ADS_1


"Lo mau kemana?"


"Kerja, Nal. Gue ada meeting sore ini."


"Lo kerja apa disini?" tanya Donal penasaran melihat Celin memakai baju yang cukup seksi menurutnya.


"Marketing, Nal. Gue kerja di perusahaan parfum." sahut Celin memoles pipinya dengan blush-on.


"Setiap hari Lo pake baju kayak gini?"


"Iya, kenapa?" tanya Celin polos.


"Nggak, Lo nggak boleh kemana-mana kalo pake baju begitu. Ganti yang lain!" perintah Donal tidak suka.


"Lo kenapa, sih? Ini juga baju kantor kayak yang biasa gue pake di Jakarta. Jangan aneh-aneh, deh, Nal!"


"Nggak! Gue nggak suka ada orang liat dada besar Lo! Apalagi itu...," tunjuk Donal pada paha Celin.


"Rok elo, itu pendek banget, Cel. Gue nggak mau ada orang lain yang liat paha mulus Lo selain gue!" protesnya.


Celin duduk, membuang nafas panjang di depan meja rias. "Lo cemburu gue jadi bahan perhatian cowok lain?"


"Iyalah gue cemburu! Lo, kan calon bini gue. Mana rela gue ngebiarin Lo diliatin sama cowok lain!" kelakar Donal tidak terima.


Membayangkan tubuh seksi wanitanya digerayangii oleh pandangan mata nakal pria lain saja, sudah bisa membuat hati Donal cenat cenut. Apalagi kalau sampai dia memergokinya, entah akan jadi apa mata pria-pria tersebut, pikir Donal.


"Nggak usah lebay, gue mau kerja bukan mau jual diri!" sahut Celin mulai kesal dengan tingkah pria bermata sedikit sipit itu.


"Udah nggak usah pergi kerja, kita jalan-jalan aja hari ini. Besok kita pulang ke Indonesia, gue udah pesen tiket buat kita berdua!"


"Apa?"


.


.


.


.


.


.


.


.


Serah ... serah Lo aja, deh Donal duck 🤭😂

__ADS_1


__ADS_2