Touch Me Slowly

Touch Me Slowly
Firasat Dua


__ADS_3

"Semuanya udah siap, kan?"


"Udah, Chad. Buru-buru amat sih, Lo!" sahut Donal.


"Amanda lagi nggak bisa di ajak kompromi, maunya gue cepet pulang."


"Bukannya tadi malem kalian udah baikan?"


"Emang udah baikan, tapi dia masih sering jutek sama gue. Nggak ngerti deh sama, Manda...." sahut Richard masuk ke dalam mobil taksi.


Semalam setelah menghabiskan waktu selama dua jam di telepon, Amanda akhirnya mau bicara seperti biasa padanya. Richard jadi teringat pembicaraan mereka tadi malam.


"Sayang...?"


"Iya Beby? Kenapa? Kangen, yah?"


Amanda tersenyum di ujung sana. "Iya, kangen banget. Kamu cepet pulang, yah?"


"Iya, sabar Beby. Aku juga kangen kok sama kamu. Kangen mau cium kamu sampe sesak," kekeh Richard.


"Ish, aku maunya sesak yang di bawah bukan yang di atas."


Tawa langsung terdengar memenuhi panggilan telepon tersebut. Richard senang karena Amanda akhirnya mau bicara seperti biasa lagi padanya, setelah dua hari kemarin merajuk tidak jelas. Richard sampai lelah sendiri membujuk Amanda.


"Chad, aku mau tanya boleh?"


"Tanya apa?"


"Kalo aku pergi, kamu bakal nikah lagi, gak?"


Richard mengernyit. "Maksud kamu?"


"Kalo aku yang lebih dulu tinggalin kamu, kamu bakal nikah lagi gak cari pengganti aku?"


"Astaga Beby, kamu ngomong apa sih?" sahut Richard tidak habis pikir.


"Jawab aja, Chad. Aku cuma pengen denger jawaban kamu apa," sahut Amanda bersikukuh.


"Aku nggak suka kamu nanya-nanya begini Beby!"


Amanda terdengar mendengus di ujung sana. "Jadi kamu nggak mau jawab, nih?"


Richard memijit pelipisnya bingung harus menjawab apa, ini kok tiba-tiba Amanda nanya hal begini, sih? Keluhnya dalam hati.


"Aku nggak tau Beby, aku nggak bisa bayangin kalo kamu bener ninggalin aku. Yang pasti sekarang dan sampe nanti, cinta aku cuma buat kamu."


Amanda terdiam, dengan hati yang menghangat. Dia hanya ingin mendengar ini dari Richard, sejak tadi Amanda sudah gelisah karenanya.


"Kok diam, By?"


"Nggak pa-pa. Trus kalo aku sakit gimana? Misalnya, aku koma trus gak bangun-bangun? Kamu masih mau nunggu aku nggak?"


"Kok pertanyaannya makin aneh gini, sih Beby?" protes Richard tidak suka.


"Jawab aja, Chad. Aku nggak ada maksud apa-apa kok nanya begitu."

__ADS_1


Membuang nafas kasar, Richard hanya bisa pasrah mengikuti kemauan istrinya yang sering berubah-ubah itu.


"Iya, aku bakal setia nungguin kamu. Sekalipun kamu nggak bangun-bangun atau cacat atau sakit keras, aku bakal terus ada di samping kamu dan mencintai kamu dengan tulus. Puas?"


Amanda tersenyum, mengangguk. "Iya, puas. Makasih yah, Sayang ... jangan pernah bosan-bosan nungguin aku nanti, yah?"


"Ish, nggak usah ngomong begitu lagi. Aku nggak suka!"


"Iya, nggak lagi. I love you...."


Richard tersenyum membalas ucapan cinta istrinya. Dalam hati dia berharap kalau apa yang sedang mereka bicarakan ini tidak akan pernah terjadi.


Richard tidak bisa membayangkan akan sehancur apa hatinya jika itu memang benar terjadi dan menimpa mereka berdua.


"Chad! Ngelamun aja Lo dari tadi!" sentak Donal membuyarkan lamunan sahabatnya.


"Apa sih?! Udah kayak Lo nggak suka ngelamun aja akhir-akhir ini!"


"Bedalah, Chad. Gue ngelamun karena emang nggak ada kepastian! Nah, elo ... udah nikah, udah punya bini, apalagi yang Lo lamunin?!"


"Berisik! Gue lagi ngelamun mau pake gaya apa tar malem!" sahut Richard sengaja membuat pria kesepian itu kesal.


"Bangkee nih, orang! Udah tau gue lagi nggak ada penghangat!"


"Bodo! Siapa suruh Lo gangguin gue!"


Donal berdecak, keluar dari mobil taksi yang mereka pesan. Dua biji itu baru saja tiba di Bandara, dan masuk ke pintu keberangkatan untuk check in.


Dua puluh menit lagi pesawat yang akan membawa mereka ke Jakarta akan berangkat. Richard makin tidak sabar untuk bertemu dengan Amanda yang katanya akan menjemput dia di Bandara.


Rena menggeleng, menjauhkan ponsel miliknya dari telinga. "Belum, Mom. Kayaknya Richard masih di pesawat, deh."


Tari mengangguk, merasakan perasaannya tidak enak. Sejak Amanda pergi sejam yang lalu, wanita paruh baya itu tidak bisa menghubungi ponsel Richard maupun menantunya.


Amel yang duduk dekat dengannya pun merasakan hal yang sama. Dadanya sejak tadi terasa sakit dan sesak. Dia ikut menghubungi nomor ponsel Amanda yang tidak kunjung tersambung sejak tadi.


Meletakkan ponselnya kembali ke atas sofa dimana dia duduk, benda pipih itu berdering nyaring. Amel melihat sebuah nomor kantor tertera di layar.


"Siapa, Jeng?" tanya Tari penasaran.


"Nggak tau. Nomornya, nomor kantor ini."


Tari mengangguk, kembali fokus dengan Rena yang menghubungi nomor anak dan menantunya.


"Halo," angkat Amel.


"Selamat siang, Bu. Apa benar ini dengan Nyonya Amel Rahardian?" sahut suara seorang wanita di ujung sana.


"Iya benar, ini dari mana, yah?" tanya Amel tidak sabar.


"Maaf, Bu. Saya dari rumah sakit Harapan Indah mau mengabarkan kalau anak ibu, Amanda sedang berada di rumah sakit karena kecelakaan."


"A-apa?!" Amel sontak berdiri, kaget mendengar ucapan wanita itu.


Ponsel yang dia pegang jatuh ke lantai dan pecah terbelah dua, Amel memegang dadanya yang makin terasa sesak.

__ADS_1


"Kenapa jeng Amel?" Tari ikut kaget melihat besannya.


Semua yang ada di sana berjalan mendekati Amel yang mulai menangis histeris.


"Kenapa? Ada apa, Mel?" tanya salah seorang saudara wanita paruh baya itu.


"A-a-amanda—" sahut Amel terbata.


"Amanda kenapa, Jeng?" tanya Tari mulai khawatir.


"Amanda kecelakaan, Ta...."


"Apa?!" Tari menutup mulutnya tidak percaya.


Keluarga besar kedua rumpun keluarga itu kaget mendengar penuturan Amel yang terduduk di atas sofa. Kakinya tiba-tiba terasa lemas, tidak mampu menopang tubuhnya lagi.


"Amanda dibawa kemana, Jeng?" pekik Tari ikut histeris.


"Mom, tenang, Mom...." Tommy mendekati istrinya, mengusap pundak wanita itu.


"Jeng Amel...! Kita harus ke rumah sakit sekarang!" Tari membungkuk, menggoyang lengan ibu kandung Amanda itu.


Dia tau kalau Amel pasti sangat syok sekarang, tapi mengingat kalau menantunya membutuhkan kehadiran mereka saat ini. Tari memaksa besannya itu untuk sadar, dan tidak boleh lemah.


"Ha-harapan Indah, dia dibawa kesana, Ta...." sahut Amel berlinang air mata.


"Ok, kita kesana sekarang. Daddy siapin mobil cepet!" perintah Tari mendorong suaminya.


Keluarga besar Klose dan Ninda ikut heboh, mereka mengikuti Tommy keluar mengambil mobil mereka masing-masing.


Menjadi wanita yang paling disayang diantara dua keluarga itu, membuat mereka ikut khawatir dengan keadaan Amanda saat ini.


"Rena, kamu dirumah aja. Telpon Deryl dan minta dia jemput Richard di bandara sekarang!"


"Iya, Mom. Mommy hati-hati." sahut Rena menggendong Amore dengan Keith disampingnya.


"Ayo, Jeng. Kita harus ke rumah sakit sekarang!" Tari berusaha menahan tubuh Amel yang masih syok itu.


Tari berusaha kuat, kalau dia lemah tidak ada yang bisa menjaga keluarga ini, pikirnya. Dalam hati wanita yang selalu berpakaian modis itu berdoa agar Amanda baik-baik saja nanti.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2