Touch Me Slowly

Touch Me Slowly
Nanaeng Hela


__ADS_3

"Apa sih, Ka teriak-teriak begitu?" Manis keluar dari dapur sambil membawa nampan berisi teh yang masih mengepul.


"Manis?" kaget Malo, kakak perempuannya.


Buru-buru wanita yang berbeda empat tahun dengannya mendekati Manis. "Kau sudah pulang, Nis? Sampe kapan?"


"Baru, Ka. Aku belum lama sampai sama mereka."


Malo mengernyit. "Mereka? Mereka siapa maksud kau?"


"Mereka berdua ini, Ka." tunjuk Manis pada Mike dan asisten pria itu, Parto.


"Apa? Kau dibawa orang itu dua ini kesini? Kau diancam apa sama mereka? Bilang sama Kakak, biar Kakak tumbuk ni orang satu-satu!" Malo mengangkat lengan bajunya, bersiap melayangkan tinju ke wajah dua pria yang melongo menatapnya.


"Ya ampun, Ka ... bukan, aku datang kesini bareng sama mereka. Ini Mike bos aku, dan ini Pak Parto asistennya," sahut Manis menunjuk dua orang itu.


Keduanya kompak tersenyum, menunjukkan gigi putih mereka menatap Malo.


"Bos?" sahut Malo tidak percaya.


Dia pikir dua orang yang sedang duduk menatapnya itu adalah rentenir yang biasa datang kerumah mereka, untuk menagih hutang suaminya yang tidak pernah pulang lagi.


"Iya, Ka. Bos aku datang kesini mau—"


"Saya mau melamar Manis, Ka...," potong Mike sebelum Manis sempat menyelesaikan ucapannya.


"Me-melamar?" sahut Malo terbata.


"Mike!" sentak Manis tidak ingin kakaknya tahu dulu.


"Benar itu, Nis?" tanya Malo menatap adik perempuannya.


"Eh, i-iya, Ka...," sahut Manis malu-malu.


"Astaga ... Kakak pikir mereka mau nagih utang si perut buncit Simbolon kesini." Malo duduk di dekat Mike yang refleks mundur ke belakang.


"Kau yang mau melamar adik aku?" tanyanya menyelidik.


"Iya, Ka," sahut Mike menahan nafas.


Wanita berambut panjang dengan warna kulit yang tidak jauh beda dengan Manis itu, mencondongkan wajahnya menatap Mike dari dekat.


Memcingkan mata dan mengendus, Malo mundur setelah memperhatikan Mike dengan seksama.


"Kau orang Jakarta?" Mike mengangguk.


"Kau punya apa di Jakarta?" tanya Malo ingin tahu.


"Ka...," sela Manis tidak enak.


"Sudah kau diam saja, kakak tidak tanya sama kau!"


Manis berdecak, menatap Mike. Pria itu terlihat tidak nyaman namun berusaha duduk dengan tenang.


"Saya model, Ka," sahut Mike sopan.

__ADS_1


"Model?"


"Iya."


"Muka macam kau ini jadi model? Sudah kayak cowok-cowok tampan saja kau...!" cibir Malo.


"Tapi Mike lebih ganteng dari perut buncit kau, Ka!" sela Manis lagi.


Dia tidak terima calon suaminya dikata-katai begitu oleh kakaknya yang memang sejak dulu hobi menjelekkan pria lain kecuali Simbolon.


"Aku becanda, Nis. Diliat dari manapun calon suami kau memang lebih tampan dari perut buncit banyak utang itu!" sahut Malo tertawa geli.


"Kau sudah sadar rupanya sekarang." Manis balik mencibir kakak perempuannya.


"Dulu aku nggak sadar karena disodorin bijinya ke mulut," sahut Malo tertawa terpingkal di depan tiga orang itu.


Manis hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar ucapan kakaknya, diikuti Mike yang tertawa meringis menatap kasihan wanita yang sempat ingin Manis jodohkan dengannya di awal pertemuan mereka dulu.


Asik menertawakan dirinya sendiri, Malo tiba-tiba saja dilempar sendal oleh seorang wanita paruh baya dari depan pintu.


"Aduh...," ringisnya kaget.


"Ibu sudah bilang jangan tertawa seperti nenek-nenek kurang biji begitu Malo!" ujar wanita paruh baya itu masuk ke dalam rumah mereka.


"Ibu...." Manis berdiri mendekati wanita yang terlihat sangat lelah setelah pulang dari sawah.


"Manis, kamu sudah pulang, Nak?" sahutnya memeluk anak bungsunya.


"Iya Ibu, aku belum lama tiba."


"Ini siapa?" tanyanya.


"Itu nanaeng hela (calon menantu) nya Ibu...," sahut Malo lebih dulu.


Badia melepaskan pelukannya dengan Manis, menatap tajam Malo. "Kau mau nikah lagi? Belum puas kau dimainin Simbolon?!" sentaknya menunjuk wajah anak sulungnya.


"Kenapa jadi Malo, Bu? Ini calon suaminya Manis, bukan Malo!" sahut wanita itu bersedekap dada tidak terima.


"Apa? Calon suami Manis?" kaget Badia.


"Iya, Bu. Saya Mike, calon suaminya Manis...," sahut pria dengan wajah luar negeri itu memperkenalkan diri.


"Astaga Manis, kau dapat pria tampan begini dari mana?" Badia mulai heboh sendiri, menarik Mike duduk di dekatnya.


Malo seketika mencibir melihat ibunya yang masih bau keringat, sudah duduk dengan seorang pria yang wangi aroma parfum mahal.


"Ini kalian datang kesini bersama?" tanya Badia.


"Iya, Bu. Saya kesini mau sekalian kenalan dan melamar Manis," sahut Mike tanpa basa basi.


"Me-melamar?" kaget Badia.


"Iya, Bu. Kalau Ibu dan kakak berkenan, saya mau melamar Manis menjadi istri saya."


Manis tersipu malu mendengar ucapan lantang Mike pada ibu dan kakaknya. Tidak ada sedikit pun keragu-raguan yang terlihat dari wajah pria tampan itu.

__ADS_1


"Kau punya apa untuk melamar anak Ibu jadi istri kau?" tanya Badia ingin tahu.


Wanita itu tidak mau anak perempuannya kembali menjadi korban pria-pria yang berkata mencintai anaknya, tapi malah meninggalkan mereka dengan alasan mencari kerja.


Badia tidak mau kejadian yang menimpa Malo, terjadi pada anak bungsunya Manis. Anak yang paling dia sayang dan paling patuh padanya dibanding Malo.


"Saya punya pekerjaan sebagai model, dan punya bisnis pakaian, Bu. Saya juga sudah punya rumah, dan mobil serta beberapa properti yang saya beli sendiri untuk saya berikan pada Manis, sebagai mahar pernikahan kami nanti."


Badia menganggukkan kepala menatap Mike dari atas sampai ke bawah. Dilihat dari sudut manapun, pria di depannya ini memang terlihat orang berada dan tulus pada anaknya, pikirnya.


Mata Badia tidak sengaja menatap Parto yang sejak tadi hanya diam duduk di dekat mereka, sambil memegang tas berwarna hitam.


"Lalu ini siapa?" tunjuknya pada Parto.


"Oh ini asisten saya, Bu. Namanya Parto."


"Dah macam orang penting saja kau punya asisten segala...," sahut Badia geli.


"Kau cinta tidak sama anak Ibu?" tanya wanita paruh baya itu lagi.


"Cinta, Bu."


"Kau bisa menjamin anak Ibu bahagia bersama kau?!"


"Bisa, Bu."


"Gimana sama biji kau, tegak tidak berdirinya?"


"Bu...!" sela Manis dengan wajah merona.


"Apa? Ibu cuma mau pastikan saja. Ibu tidak mau anak-anak Ibu kekurangan nafkah lahir dan batin dari suaminya. Cukup kakak kau saja yang begitu, kau jangan!"


Malo mendengus dengan hati yang kesal. Ini semua gara-gara Simbolon sampai dia hidup dengan status yang tidak jelas, dan menjadi bahan cibiran orang sekampung sampai sekarang.


"Biji saya masih sehat, Bu. Bisa berdiri tegak sepanjang lima belas centi," sahut Mike dengan wajah yang serius.


Manis makin merona merah mendengar ucapan gamblang pria blasteran itu di depan ibu dan kakaknya.


"Bagus, besok Ibu panggil tetua adat kita untuk lamaran kau sama anak Ibu."


.


.


.


.


.


.


.


Ok, nafkah lahir batin versi, Bu Badia cakeppp 🤭😆

__ADS_1


__ADS_2