
Satu hari sebelum Amanda sadar...
"Donal...!" panggil Dena ibunya.
"Kenapa, Bu?"
"Buka dulu pintunya!" Dena menggedor pintu kamar anaknya dengan kuat.
Pria berkulit sawo matang itu beranjak dengan malas dari ranjang, melangkah pelan menuju pintu.
"Kenapa sih, Bu? Ganggu orang aja lagi tidur...," keluh Donal saat pintu dibuka.
"Tidur mulu kerjaan kamu! Ini Richard telepon ibu, katanya dia mau ngomong sama kamu!" Dena menyodorkan ponselnya ke tangan Donal.
Pria itu berdecak, meraih ponsel dari tangan Dena dan mendekatkannya ke telinga. "Halo...."
"Lama amat, sih lo angkat teleponnya?!" sentak Richard dari ujung sana.
"Gue lagi tidur, ngapain Lo nyariin gue?" Donal beranjak masuk ke dalam kamarnya diikuti Dena dari belakang.
"Ibu ngapain ikut masuk juga, sih?!" sambungnya menatap risih wanita bermata sipit itu.
"Ibu mau ambil ponsel ibu, udah kamu telpon aja. Ibu tunggu di sini!" Dena duduk di kursi sofa sudut kamar anaknya, dan mengambil sebuah majalah dari atas meja.
Donal mendengus tidak suka, namun tidak bisa membantah ucapan ibunya. Pria itu pun pasrah dan duduk di ranjang.
"Kenapa sih, Nal? Masih dihukum nyokap Lo juga?" tanya Richard mendengar pembicaraan sahabat bijinya dengan Dena.
"Lo kok tau gue dihukum?"
"Taulah, barusan nyokap Lo ngomong sama gue. Kenapa, sih pake dihukum-hukum segala? Bikin masalah apa lagi Lo?"
"Nggak ada, masalah biasa. Perjodohan...," sahut Donal setengah berbisik di telepon.
"Jodoh-jodohan lagi?"
"Iya."
"Astaga ... kasian amat, sih nasib Lo. Trus Celin gimana?"
"Nggak tau, gue juga bingung, Chad. Ini gue udah dikurung empat hari dirumah nggak boleh keluar sama nyokap. Lo tolongin gue dong pergi dari sini, nanti malem gue mau ketemuan sama keluarga cewek yang bakal di jodohin sama gue...," keluh Donal masih berbisik.
"Aduh ... gue mau tolongin Lo gimana, Nal? Sumpah gue gak berani sama nyokap Lo. Takut gue kualat!" jujur Richard.
Donal membuang nafas panjang merasa tidak berdaya. Dia tahu kalau ibunya memang tidak mudah dimanipulasi lagi setelah perbuatannya selama ini.
Mungkin Donal harus tetap pergi nanti malam demi menyenangkan kemauan ibu dan ayahnya, pikirnya.
__ADS_1
"Ngomongin apaan, sih kalian? Pake bisik-bisik segala," sela Dena mendengar anaknya berbisik di telepon.
"Nggak ngomong apa-apa, Bu. Mau tahu aja urusan anak laki...," sahut Donal setengah menggoda ibunya.
Dena berdecih, kembali membaca majalah bisnis ditangan. Ada-ada saja pikirnya.
"Lo kenapa nyariin gue, Chad?" tanya Donal lagi setelah Dena berhenti protes.
"Gue mau ngajak Lo kesini, sih sebenernya. Tapi karena tahu Lo lagi dihukum, yah udah deh nggak jadi."
"Sorry yah, Chad. Gue belum bisa temenin Lo di sana. Amanda gimana?"
Pria blasteran itu terdengar membuang nafas berat. Setiap kali membahas wanitanya, Richard pasti akan berubah sedih dan tidak bersemangat.
"Belum ada perubahan, Nal. Masih gitu-gitu aja."
"Lo yang sabar, yah ... gue yakin Amanda pasti bisa cepet sadar," sahut Donal memberi semangat untuk sahabatnya.
"Iya, makasih, Nal. Gue tutup, yah telponnya? Kabarin gue kalo Lo udah kelar dihukum."
"Iya, nanti gue telpon Mike, deh suruh dia temenin Lo di sana."
"Yaudah, terserah Lo aja." Panggilan telepon itu berakhir saat keduanya mengucapkan sampai jumpa satu sama lain.
Donal pun bangkit berdiri, mendekati ibunya yang entah sedang serius membaca majalah atau tidak di depannya.
"Udah?" tanya Dena mengulurkan tangan meminta ponselnya kembali.
"Ngapain kamu nyariin ponsel kamu segala? Pake ponsel ibu juga, kan bisa...."
Donal mengernyit. "Emang ponsel Ibu ada nomornya Mike?"
"Punya, semua nomor sahabat biji kamu ibu simpen. Pake itu aja, nggak usah alesan mau minta ponsel kamu lagi!"
Donal lagi-lagi berdecak, merasa kesal sendiri dalam hati. Padahal dia sempat berpikir bisa mendapatkan ponselnya sementara waktu untuk mengirim pesan pada Celin, memberitahukan keadaan dia saat ini.
Tapi siapa sangka wanita yang melahirkannya ini ternyata begitu cerdik sekarang. Donal benar-benar tidak bisa berkutik dibuatnya.
Selesai menghubungi Mike sedikit menjauh dari Dena. Donal kembali menyodorkan ponsel milik ibunya pada wanita itu.
Dena langsung beranjak, pergi menuju pintu kamar. "Jangan lupa nanti malam kita udah harus tiba di restoran jam tujuh ketemu keluarga calon istri kamu, Nal."
"Kok calon istri sih, Bu? Aku belum setuju, yah nikah sama pilihan Ibu!" sahut Donal tidak terima.
"Mau enggak mau, kamu harus terima perempuan itu jadi istri kamu, Nal. Ibu nggak mau nerima alesan apapun lagi dari kamu!" Dena berlalu meninggalkan Donal yang menggerutu kesal dalam hati.
Sepertinya rencana dia nanti malam untuk kabur harus bisa dia lakukan untuk menghindari perjodohan ibunya. Donal tidak mau lagi terkurung disini dan berakhir menikah dengan wanita yang tidak dia suka.
__ADS_1
"Donal mana, Bu?" tanya Doni menunggu tidak sabar di ruang tengah rumah mereka.
"Masih siap-siap kali, tunggu aja."
"Daritadi kok lama banget? Keburu telat kita, Bu...." keluh pria paruh baya itu melihat jam tangannya.
"Iya, iya ... bawel amat!" Dena pergi ke kamar anaknya memanggil Donal keluar.
Pria itu ternyata masih belum bersiap-siap dan hanya sibuk menonton TV sejak tadi.
"Ya ampun Donal...!" pekik Dena kesal. "Kamu kenapa belum siap-siap, hah?! Ini udah jam berapa?!"
"Aku lagi nggak enak badan, Bu. Ibu sama ayah aja yang pergi, kepala aku tiba-tiba pusing ini...," sahut Donal beralasan.
"Jangan banyak alesan kamu! Cepet ganti baju. Ibu nggak mau tahu, lima menit lagi kamu udah harus di bawah!" Dena keluar membanting pintu dengan kuat.
Dia tahu kalau Donal pasti sengaja mencari alasan agar tidak pergi dengan mereka malam ini menemui calon besannya.
Dena sampai menunggu di depan kamar anaknya untuk memastikan Donal ikut dengan mereka. Pria itupun keluar dengan wajah lemas dari dalam sana.
"Ayo cepet, ayah udah nungguin kamu daritadi!"
Dena menyeret Donal di sampingnya.
"Kenapa nggak Ibu sama ayah aja, sih yang pergi?! Udah aku bilang kalo aku lagi nggak enak badan, Bu...."
Dena berhenti melangkah, mengusap dahi Donal tidak lama. "Kamu nggak demam, jadi jangan bohongin Ibu. Kamu kalo sakit selalu demam. Ayo cepet, jangan banyak alesan lagi!"
Donal tidak bisa beralasan lagi, ibunya ini memang sangat pintar. Bahkan dia sakit dan berpura-pura sakit saja dia tahu, pikirnya.
Keluarga itu pun pergi menuju ke sebuah restoran western terkenal di kota ini. Ogah-ogahan Donal turun dirangkul ibunya.
Dena bersikap seperti bodyguard yang terus berada di samping Donal, hingga mereka tiba di dalam sebuah ruang pribadi khusus tamu VIP restoran.
"Inget, Nal. Jangan malu-maluin Ibu sama ayah di dalem!"
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Next Part, yah 😁